
Saya pernah belajar sesuatu di kantor, tapi kemudian lupa, atau belajar banyak hal di dunia kerja tapi saya ga bisa menceritakan apa saja yang saya sudah pernah pelajari. Sekarang saya paham bagaimana mengatasinya. Solusinya saya dapat malah lewat dunia bela diri, hobi yang saya geluti.
Saya pernah punya bos di kantor yang luar biasa strict, kalkulator berjalan, dia menghitung dengan mencongak dan menganalisa sesuatu dua tiga langkah selalu di depan saya. Kalau saya memberikan laporan, saya selalu expect ini pasti bolak balik akan dicoret ibarat menghadap dosen killer, hehehe.
Dan tentu saja terjadi. Ini salah, itu salah, koreksi lagi. Begitu terus, tapi hasil akhirnya saya menjadi lebih pede. Saya yakin potensi kekeliruan sudah lebih sedikit kalau sudah dibantai pak Bos.
Lama-lama saya menjadi paham bagaimana cara menganalisa secara cepat. Namun, saat menghadapi situasi yang agak berbeda saya jadi bingung, atau kalau ingin menjelaskan kepada orang lain saya jadi bingung, gimana ya step by step-nya?
Belakangan saya menyadari bahwa hal ini mirip dengan pengalaman saya dalam dunia bela diri.
Saya pernah belajar bela diri pada seorang instruktur yang sangat ahli. Saya tidak pernah melihat orang sefasih beliau dalam penguasaan body mechanics.
Kalau mencontohkan gerakan, misalnya gerakan toya atau gerakan parang atau pedang pendek itu bener-bener mirip text book. Geraknya efektif dan presisi. Sendi mana yang bergerak, body condong kemana, pembagian berat tubuh, angle serangan, semuanya bagus banget. Apalagi aplikasi gerakan.
Kalau umumnya beladiri tradisional itu banyak memiliki jurus, atau bunga, beliau ini fasih sekali dalam aplikasi praktis. Sama sekali tidak diajarkan form atau jurus atau bunga, tetapi langsung aplikasikan. Begini gerakkannya, hajar di sini, pindah ke sini, geser ke sini, banting, dst…. Aplikatif, tapi di sini ternyata masalahnya.
Saat kita belajar pada seorang yang sangat ahli, seperti guru bela diri saya dulu itu, lalu pada bos saya di kantor itu, kita menyerap aplikasi praktisnya, tapi kita tidak diajarkan strukturnya. Saat ingin mengulang-ngulang apa yang kita pelajari, kita jadi bingung karena terlalu advanced. Aplikatif tapi berubah-ubah. Kita kebingungan karena tidak punya struktur.
Kenapa struktur itu penting? Saya menyadari ini selepas saya belajar bela diri pada seorang instruktur lainnya yang juga cukup mahir, akan tetapi metoda pengajarannya berbeda. Tidak menekankan semata pada aplikasi praktis tetapi diberi strukturnya.
Diajari “bunga” atau semacam silabus gerakan, lalu diajari macam-macam tipe langkah, lalu diajari bagaimana entry dan bagaimana cara menggoyangkan keseimbangan lawan baru masuk finishing. Semuanya dalam tahapan jelas dan diberi nomor. Misalnya pukulan satu, langkah dua, sambut 3, dst..
Setelah memahami itu saat saya ingin mengulang-ulang memori dan mempelajari gerakan, saya menjadi punya arah. Saya ingin mengulang aplikasi bunga nomor 3 dan pukulan nomor sekian dimasukkan dengan langkah nomor sekian. Seperti ada alamat yang jelas pada setiap pelajaran. Seperti lego, saya bisa melakukan aplikasi karena saya punya katalog building blocks yang jelas.
Akhirnya saya paham, ini yang saya selama ini saya tidak miliki, kejelasan strukur. Saat belajar pada seorang ahli, kita belajar aplikasi nyata dan praktis yang struktur dasarnya kita tidak pahami. Aplikasi nyata itu penting sekali, tetapi tanpa struktur yang jelas maka kita sebagai pemula akan kesulitan mengulang kembali memori pelajaran yang kita punya itu. Karena kita belajar dari seorang ahli yang sudah mengajarkan level atas.
Seperti bos saya tadi, jago banget, dua tiga langkah di depan saya dalam analisa, saya lama-lama belajar intuitif juga seperti beliau, tetapi saya sendiri juga tidak paham bagaimana step by stepnya?
Akhirnya saya mencoba mem-breakdown langkah-langkahnya. Saya ingat-ingat kembali, setiap kali bos saya itu membantai saya, apa yang biasanya dia tanya? Bagaimana prinsipnya?
Misalnya membahas mengenai inventory value bisnis di satu negara. Biasanya alurnya adalah membandingkan angka dengan optimum number, lalu setelah itu membandingkan angka itu dengan angka di negara itu sendiri di tahun atau bulan sebelumnya, lalu membandingkan dengan negara lain yang punya revenu mirip, dst… struktur semacam itu yang saya coba pahami.
Saya tuliskan strukturnya sampai saya menjadi paham dan saya bisa mengutak-atiknya untuk aplikasi dalam konteks lain.
Ada prinsip yang terkenal dalam bahasan bela diri Jepang, yaitu prinsip pembelajaran SU-HA-RI.
SU, artinya mengikuti aturan, pakem, pattern.
HA, artinya memecah aturan, kita membreakdown seperti apa sih strukturnya.
RI, melampaui aturan, saat seseorang sudah benar-benar ahli dan bisa mencampur berbagai struktur secara intutif, ibarat guru bela diri yang ahli dan ibarat bos yang intuitif.
Tugas kita adalah memiliki semua komponen itu. Kalau terbiasa aplikatif (RI), maka pelajari bagaimana merumuskan aplikasi itu dalam struktur (SU, HA). Atau kalau terbiasa di struktur semata, coba tingkatkan dengan aplikasi praktis dan kombinasi berbagai struktur (RI) supaya kemampuan bertambah.

