Saya semakin menyadari betapa kita perlu fleksibel dalam pekerjaan dan keseharian di era sekarang ini, karena era cepat berubah dan jangan-jangan kita tidak benar-benar tahu apa yang kita mau.

Saya awalnya termasuk orang yang saklek, tidak banyak berubah dan menghargai kestabilan. Saya beri contoh, dulu sewaktu saya masih kerja di lapangan migas, di Balikpapan, selama dua minggu kerja itu setiap malam menu makan saya selalu sama yaitu mie ayam depan penginapan, hehehe.

Saya tidak berubah, cenderung statis, dan dalam urusan pekerjaan juga seperti itu. Sampai kemudian saya menyadari kita hidup dalam era yang berbeda. Perubahan di zaman sekarang terlalu cepat, sehingga cara pandang seperti yang saya miliki dulu tidak lagi relevan.

Saya ingin kerja di tempat yang sama, dan kantor yang sama teman yang sama terus menerus selamanya. Ternyata kantor mengalami reorganisasi. Teman-teman berganti karena pindah sana-sini. Pekerjaan dirotasi karena manajemen selalu bertanya “What are you gonna do next?”

Hal ini tidak semata di kantor saya, tetapi di seluruh dunia karena imbas dari teknologi yang melaju terlampau cepat, globalisasi dan perubahan geopolitik.

Cepat atau lambat semua orang akan merasakan dunia menjadi terlalu cepat berubah dan memaksa kita beradaptasi, maka perlu belajar fleksibel.

Perubahan ini, misalnya teknologi AI, mengakibatkan hilangnya pekerjaan karena digantikan oleh mesin. Namun di sisi lain, perubahan teknologi akan memunculkan sesuatu yang sama sekali baru. Anggaplah misalnya pekerjaan seperti driver grab, zaman dulu kita bahkan tidak pernah mengira akan ada model bisnis sharing transportasi begini, tetapi semua berubah karena ada internet. Kombinasi dua hal baru memunculkan kebaruan yang lain.

Seperti mainan lego. Setiap ada keping lego baru yang muncul akan memungkinkan terjadinya kombinasi baru di masa depan.

Akan ada banyak hal-hal baru yang sekarang kita tidak pernah terpikirkan. Dulu kita tidak pernah kepikiran akan ada pekerjaan namanya content creator, sekarang ada. Dulu kita tidak pernah kepikiran akan ada sesatu yang bernama meeting online zoom, sekarang zoom dan teams menjadi hal biasa. 

Maka itu, fleksibel adalah tidak lagi bisa ditawar. Bahkan kita harus menyadari, sebenarnya kita belum benar-benar tahu apa yang kita mau, kadang-kadang kita salah menebak, karena di masa depan ada opsi yang lebih jelas.

Dulu saya mengira, geologi sebagai sebuah ilmu adalah hal yang benar-benar saya mau. Ternyata setelah bekerja saya baru sadar bukan geologi sebagai sebuah sains yang saya benar-benar sukai, tetapi prinsip besarnya yang melihat dan membaca peta dari situasi yang kompleks. 

Dulu saya mengira engineering adalah hal yang 100% saya mau. Tetapi setelah bekerja saya baru sadar saya ada ketertarikan dengan Quality, lalu saya menjadi Quality Manager. Saya mengira inilah pusat dunia saya.

Sampai saya akhirnya menyadari hal yang saya suka bukan Quality-nya per se, melainkan cara pandang sistemik di dalam dunia quality yang bisa diterapkan pada supply chain. Maka saya masuk supply chain. Dan seterusnya.

Dalam hal personal di luar kantor juga, saya mengira saya menyukai dunia training sepenuh-penuhnya, sampai akhirnya saya menyadari bukan trainingnya yang saya cintai, melainkan terkoneksi kepada orang lain dan membagikan ilmu dan wawasan yang saya miliki.

Maka hal itu bisa berkelindan dengan industri yang saya geluti, bisa lari ke penulis dan pemikir seperti Nassim Taleb atau Naval Ravikant, atau barangkali banyak hal lain yang terbuka lembar demi lembar saat kita fleksibel dan tidak ngotot.

Kadang, kita keliru memahami diri kita sendiri sehingga ngotot. Kestabilan yang terlampau ajeg akan berbahaya dalam era yang terus menerus berubah dan opsi baru yang terus menerus muncul.

Maka yang penting adalah memiliki gambaran besar saja sebagai arah, lalu fokus pada aksi harian. Sisanya adalah keluasan hati untuk menerima perubahan, karena ternyata ungkapan klasik itu memang benar. Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan melebihi diri kita sendiri.

Tinggalkan Balasan