Satu hal yang harus kita pelajari adalah bagaimana menyengaja mensyukuri hal-hal yang tidak kelihatan, misalnya saja dalam proses berkarya, bekerja, berbuat sesuatu, kadang-kadang kita bertanya, kenapa seperti tidak ada dampaknya?

Jadi berapa bulan lalu rak buku kecil saya sudah penuh dengan buku, akhirnya saya rapikan supaya lebih enak dilihat, dan supaya juga tidak di-complaint sama istri, hehehe. Saya teringat istri saya pernah bertanya, “ini buku banyak banget, apa sudah dibaca semua? Terus gunanya apa?” tanya istri saya sambil bercanda.

“Lho… nanti bakal ada aja gunanya,” saya menyahut sambil tertawa. Tapi sebenarnya di dalam hati saya juga berpikir “iya ya… apa gunanya, ya?”

Bukan berarti saya tidak tahu kegunaan membaca, melainkan saya menyadari bahwa saya harus meningkatkan nilai guna menjadi lebih jauh. Saya tiba-tiba ingin melihat dampak real-nya.

Walhasil, saya semakin bersemangat untuk berkarya. Saya sering membagikan insight yang saya dapat dari bacaan dan keseharian saya di kantor. Lewat YouTube, juga terkadang lewat tulisan.

Keseharian saya memang sibuk dengan urusan kantor di Industri Migas di Kuala Lumpur. Meski begitu dengan berkarya lewat YouTube dan tulisan, saya merasakan semacam refreshing dari rutinitas dan mendapatkan kesegaran. Lalu saya ingin meningkatkan nilai gunanya supaya ada dampak bagi orang lain. Maka, mulailah saya mengukurnya dengan metrik media sosial. Berapa yang nonton, lalu berapa yang like dan komentar.

Hari berlalu dan metode pengukuran dari metrik sosmed ini ternyata memengaruhi saya. Karena dari yang tadinya saya merasa bahagia saat menulis dan berbagi, lalu bergeser menjadi “saya akan bahagia kalau tulisan dan karya saya banyak yang lihat”. Karena metrik jumlah penonton, pengunjung web, jumlah like itu saya anggap sebagai “dampak”.

Lalu ternyata hal itu menjadi bumerang. Karena hal yang tadinya membuat saya bahagia dan refreshing, lalu menjadi hilang kesegarannya karena dampaknya tidak kelihatan.

Yang keliru bukan karyanya, tetapi anggapan saya bahwa metrik media sosial  adalah sebanding dengan dampak dalam artian sebenarnya.

Lama saya sibuk mengukur dampak lewat metrik, sampai akhirnya saya bosan sendiri dan kembali melupakan dampak dan asyik dengan berbagi saja.

Sampai akhirnya banyak kejadian yang membuat saya sadar bahwa tulisan dan karya saya, rupanya ada dampaknya dan seringkali tidak kelihatan.

Beberapa kali saya bertemu dengan vendor dan kolega di Kuala Lumpur, dan mereka mengatakan bahwa saya “looks familiar”. Saya heran juga, darimana mereka mengenal saya bukannya saya tidak banyak networking? Ternyata secara senyap tulisan-tulisan dan karya saya membuat saya mudah ditemukan.

Di luar itu, seringkali saat saya menyusun presentasi teknis atau rangkuman laporan, saya bisa menyelesaikannya lebih cepat dari biasanya. Tanpa saya sadari ternyata kebiasaan membuat struktur video di YouTube dan kemampuan copywriting membantu saya. Pelan-pelan bullet point email yang saya buat ternyata menjadi lebih solid, dan setiap email menjadi lebih gampang dicerna karena saya membahasakannya dari sudut pandang audiens.

Ada orang-orang yang tidak komentar, tidak like sama sekali, tetapi menyapa saya lewat DM dan mengatakan bahwa mereka merasa relate dan berterimakasih atas tulisan-tulisan dan refleksi yang saya bagi lewat YouTube atau audio podcast.

Ternyata, ada dampaknya. Dampaknya yang seringkali luput dari pengamatan kita karena tidak kelihatan, dan membuat kita lupa mensyukurinya. Buku-buku yang kita baca, pelan-pelan memahat mindset dan cara pandang kita sehingga lebih bisa bertahan dalam tekanan kerja. Lebih bisa melihat dari bird’s eye view. Karya-karya kita, ternyata secara senyap menyapa orang-orang yang tepat bahkan saat kita sedang tidur.

Jadi yang penting sebenarnya bekerja dan berkarya saja, karena setiap kebaikan yang kita rasakan ada manfaatnya dan membuat kita lebih bisa bersyukur, pasti akan ada dampaknya, meski belum kelihatan mata.

Tinggalkan Balasan