
Kadangkala dalam kita bekerja, berkarya, membuat sesuatu terasa mentok dan tidak memiliki “ruh” karena ternyata tidak mewakili diri kita yang sebenar-benarnya.
Saya tersadarkan kembali akan hal ini di saat saya mendata ulang buku-buku yang paling sering saya baca; buku yang paling sering saya baca ulang karena menyentuh bagi saya, adalah buku-buku yang merupakan kumpulan artikel pendek, reflektif, dan bahkan berupa aforisma atau kalimat-kalimat nasihat.
Bukan buku-buku yang terlampau berat, bukan juga buku-buku yang terlalu akademik. Melainkan hal-hal reflektif sederhana dan terkadang juga kisah reflektif. Misalnya saja buku Al-Hikam yang sering saya baca, itu kumpulan aforisma atau kalimat hikmah pendek dari Ibnu Athaillah. Saya baca berulang-ulang.
Belakangan, saya juga membaca berulang-ulang buku dari Austin Kleon. Seorang seniman yang multitalenta, yang membagikan insight tentang bagaimana berkarya, bagaimana menjadi kreatif, dan seterusnya. Artikelnya pendek-pendek, tidak terlalu akademis tetapi reflektif dari pengalaman pribadi dan menggugah.
Buku lainnya yang juga sangat senang saya baca di sela-sela kesibukan adalah bukunya Derek Sivers, mantan musisi yang juga pebisnis. Pemikir keseharian yang tulisannya ringan dan banyak memberikan insight unik tentang bagaimana memandang kehidupan dan bagaimana berkontribusi secara kreatif bagi banyak orang.
Yang membuat saya tertegun sore ini adalah, saat sembari minum teh dan membuka lembaran buku-buku itu, saya menjadi teringat betapa tulisan-tulisan saya belakangan menjadi terlalu bernuansa akademik dan penuh kutipan riset. Padahal, saya pribadi pun lebih banyak membaca ulang tulisan-tulisan yang tidak terlalu akademis-akademis amat tetapi seperti ngobrol santai dengan seorang teman yang penuh hikmah.
Barangkali karena saya ingin berbagi dalam porsi sebagai analis atau sebagai seorang profesional dalam dunia industri. Hal itu tentu tidak masalah, akan tetapi setelah saya tilik dengan jujur saya tidak benar-benar menginginkan itu, karena saya pribadi menyenangi dunia kreatif dan menjadikan tulisan dan karya -apapun bentuknya- lebih sebagai cara saya terhubung dengan banyak orang sebagai pribadi, dan kebetulan saja konteks refleksinya banyak dari cerita dunia industri sesuai latar.
Semua ada tempatnya. Dua-duanya penting, hanya saja untuk saya pribadi saya tersenyum sore ini karena merenungi kembali bahwa refleksi keseharian dan tulisan-tulisan hikmah sederhana-lah yang benar-benar saya senangi.
Saya rasa kebanyakan kita juga begitu, setelah eksplorasi berbagai hal, akhirnya semakin menyadari yang mana yang merupakan ekspresi otentik diri kita. Ekspresi otentik itulah yang bisa dijadikan sebagai jalan kontribusi berbagi manfaat pada banyak orang sampai nanti ditemukan oleh orang-orang yang tepat. Sebuah karya yang menemukan ceruk audience-nya sendiri.

