
Banyak pelajaran yang bisa diterapkan pada kehidupan profesional di kantor ataupun dalam kehidupan personal kadang datangnya dari lingkungan terdekat.
Saya teringat dengan bahasan ini saat saya sedang rehat weekend di salah satu Kebun Teh di Cameron Highlands Malaysia, pelajaran tentang Future Person dan Present Person. Orang yang berorientasi masa depan dan orang yang berorientasi masa sekarang, saya baca dari bukunya Derek Sivers.
Saya, kalau diklasifikasikan dalam pembagian ini adalah orang yang sangat Future Person. Saya selalu planning jauh-jauh ke depan. Kalau pesawat jam 3 sore saya bisa saja datang dari jam 10 di Bandara, dan saya menikmatinya. Dalam banyak hal, kebiasaan planning dan orientasi panjang ke masa depan ini sering membantu saya sebagai manajer di kantor. Saya jarang grasa-grusu karena saya selalu siap dengan rencana.
Akan tetapi kebiasaan ini bukan tanpa efek samping. Hal ini membuat saya kesulitan menikmati masa kini. Misalnya saja saat liburan atau weekend seringkali pikiran saya mengembara dengan planning dan rencana masa depan. Sampai saya menyadari ada yang harus saya lengkapi pada cara saya memandang kehidupan.
Sudut pandang lainnya itu tak lain datang dari keluarga sendiri yaitu anak dan isteri saya. Anak bungsu saya dan isteri saya adalah present person dengan rencana yang pendek-pendek dan spontan.
Hari libur? Tiba-tiba saja ada ide pergi ke suatu tempat. Ada tugas? Anak saya adalah expert dalam hal tenang di beberapa hari sebelum tugas dan mode kebut saat besok sudah harus dikumpul. Hahahaha.
Tapi ternyata hal itu ada juga sisi baiknya. Di masa sekarang dimana perubahan terjadi terlampau cepat, teknologi mengubah ritme pekerjaan dan organisasi menjadi semakin adaptif maka seringkali planning panjang tidak relevan karena perubahan terjadi dalam rentang yang singkat.
Mereka yang terbiasa action dalam waktu pendek memiliki keunggulan manuver cepat ini. Saya perhatikan para senior manajer di kantor saya memiliki skill untuk action cepat, lalu perbaiki secara cepat sambil jalan. Hal ini bisa membantu di kantor.
Begitu juga dalam kehidupan personal. Banyak senior manajer yang memiliki skill men-switch off mode kantor dan fokus liburan saat waktunya libur. Suatu hal yang belakangan saya pelajari.
Dua-duanya baik saja. Saya sendiri masih menikmati sebagai future person, tetapi sebisa mungkin saya membreakdwon rencana panjang menjadi aksi harian, lalu saya fokus hidup dalam aksi sehari-sehari.
Dalam kehidupan personal saya mencoba menarik perhatian saya dari masa depan ke masa kini lewat aksi seperti menulis. Dengan menulis saya kembali ke masa kini. Seperti sekarang, selepas menulis di blog saya bisa kembali ke mode liburan di kebun teh 😄.
Untuk menjernihkan pikiran yang bercampur dengan rencana masa depan; saat weekend saya declutter dengan cara menulis segala kata kunci tugas-tugas yang pending di selembar kertas lalu membuat rencana singkatnya. Lalu buku saya tutup dan menjadi present person.

