
Coba…siapa yang pernah gelisah dan stress absen di sini, hehehe. Semua manusia pasti pernah mengalami gelisah dan stress. Apalagi dalam urusan kerja dan keseharian kita. Berikut hal-hal yang saya lakukan untuk mengatasi gelisah dan stress, mungkin bisa berguna.
Catatan ini murni sebagai refleksi saya pribadi, dan cara saya untuk mengklasifikasikan apa-apa yang saya pelajari selama ini sehingga saya punya semacam buku panduan pribadi untuk melangkah.
Sore ini, sembari jalan santai treadmill di gym, saya mendengarkan potongan podcast-nya Naval Ravikant. Salah satu bahasan yang menarik adalah definisi versi Naval Ravikant mengenai apa itu gelisah (anxiety) dan apa itu stress.
Menurut Naval -saya terjemahkan secara bebas- gelisah adalah tumpukan masalah yang belum diurai. Berbagai hal menumpuk dan kita tidak mengidentifikasinya sehingga kita ga tahu apa masalah sebenarnya.
Berbeda dengan stress, stress adalah dua keinginan yang bertolak belakang.
Dalam dunia kantoran, saya familiar sekali dengan dua hal ini karena sering merasakannya, hehe.
Kalau gelisah itu contohnya adalah setiap hari minggu saya merasa ada yang tidak beres, ada kecemasan yang saya tidak tahu apa. Solusinya biasanya saya melakukan brain dump. Ambil kertas selembar lalu saya tulis semua kata kunci masalah yang ada di pikiran saya lalu saya urut satu-satu mana yang personal, mana yang related dengan urusan kantor, mana yang bisa di-action, mana yang ga penting. Dengan begitu semua menjadi jelas, apa yang sebenarnya masalah. Gelisah berkurang.
Kalau stress itu adalah keinginan yang tarik menarik. Misalnya saya ingin mengerjakan tugas kantor, tapi di saat yang sama saya juga pengen baca buku. Solusinya adalah harus mengorbankan salah satunya. Misalnya saya pergi ke kafe sebelah, lalu bawa laptop tanpa charger, dan memaksa diri saya kebut mengerjakan tugas kantor berlomba dengan batre laptop. Tugas selesai, barulah setelahnya saya bisa baca buku.
Solusi itu, tentulah satu dari sekian banyak solusi. Kalau saya klasifikasikan berdasarkan tingkatannya kurang lebih seperti ini beberapa solusinya:
Pertama solusi fisik. Misalnya olahraga supaya lebih fresh. Ganti environment, kalau pusing ngetik di rumah ya pindah ke warung kopi atau taman, misalnya. Pasang timer alami, misalnya ke kafe ga bawa charger laptop, sengaja biar fokus.
Kedua solusi mental. Ini lebih berupa bangunan narasi dalam pikiran kita. Favorit saya adalah brain dump, yaitu menuangkan semua kekhawatiran saya dalam selembar kertas yang kemudian saya akan susun kembali. Dengan begitu kekhawatiran saya menjadi jelas.
Bisa juga menggunakan jurnaling, kalau saya jurnaling yang saya senangi adalah dengan menulis blog seperti ini.
Cara lain lagi adalah dengan menyadarkan kembali akan mindset hidup sehari-sehari. Setiap sore pulang kerja saya mengambil waktu untuk relax dan menyadari bahwa tugas saya hari ini sudah selesai dan tugas hari ini sudah tutup buku. Sisanya adalah menjalani esok hari dengan mentalitas yang sama, breakdown kerjaan untuk sehari, dan hiduplah fokus satu hari. Dengan begitu setiap hari saya hanya berpikir bagaimana saya bisa “make the most of it” untuk hari itu, tanpa menariknya terlalu panjang ke masa depan.
Yang terakhir adalah solusi spiritual. Solusi ini adalah the ultimate meaning. Setelah kita masuk ke dalam solusi mental, mau tak mau semua orang akan berjalan menuju solusi spiritual ini, dan ini adalah mbah-nya solusi. Yaitu melihat hidup tidak lagi sebagai cerita personal kita sendiri, melainkan sebuah drama besar yang lebih besar dari kita pribadi. Kita cuma secuplik kecil dalam drama besar ini. Kata guru saya, kehidupan ini sudah didesain oleh Yang Maha Bijaksana, dengan begitu gelisah menjadi hilang, karena tersadarkan kembali bahwa hidup tidak random.
Tentu sebagai manusia apalagi dalam dunia kantoran yang riuh, gelisah dan stress itu datang dan pergi. Sehari tenang, besok gelisah lagi, hehehe. Tapi setidaknya dengan memahami apa bedanya dan bagaimana mengatasinya maka kita bisa lebih mudah menjalaninya.

