Penyebab kejenuhan dalam bekerja ada bermacam-macam. Setiap kejenuhan ada obatnya masing-masing. Permasalahannya adalah kita sering menerapkan obat yang keliru karena tidak tahu perbedaan gejalanya.

Ada sebuah analogi yang cukup menggambarkan perjalanan manusia dalam buku The Second Mountain karya David Brooks seorang Kolumnis The New York Times. Perjalanan hidup manusia diibaratkan dua pendakian.

Pendakian gunung pertama adalah pendakian yang berpusat pada diri sendiri, mengejar keuangan, karir, status, dan hal lain yang biasa orang-orang kejar dalam pekerjaannya.

Lalu ada pendakian gunung kedua, ini adalah pendakian yang berpusat tidak lagi pada diri sendiri melainkan pada kontribusi bagi sesama. Pada pendakian ini, seseorang bekerja bukan lagi dalam konteks kesenangan pribadi melainkan karena ingin memberikan kontribusi bagi sekelilingnya.

Di antara pendakian pada gunung pertama dan gunung kedua, ada sebuah lembah di mana di fase ini seseorang biasanya merasakan depresi. Fase depresi inilah yang membuat seseorang merenungi ulang perjalanannya selama ini, dan akhirnya menyadari bahwa sebenarnya yang dia inginkan bukanlah pendakian model gunung pertama itu. Di sini dia baru memahami bahwa dia harus melanjutkan perjalanan menuju pendakian di gunung kedua, yang lebih berfokus pada kontribusi sosial yang bermakna.

Yang unik adalah, cara seseorang untuk sampai pada lembah itu. Ada yang sukses mendaki tangga karirnya pada pendakian pertama, dengan segala perjuangan lalu sampai di puncak. Di puncak ini dia akhirnya merasa kosong dan bingung, kok terasa hampa ya? Ini dia ibarat sudah sampai di puncak pendakian, lalu turun ke lembah depresi. Di sini dia bertanya-tanya, saya sukses, kenapa terasa hampa?

Ada yang terdepak dari pendakian. Dia asyik mendaki pada pendakian pertama, tapi takdir menendangnya dengan keras terjatuh sampai ke lembah. Misalnya sedang asyik kerja tiba-tiba di PHK. Atau ada masalah keluarga. Dll… semuanya itu membuat dia depresi dan akhirnya berpikir ulang, apakah ini yang saya mau? Apa artinya semua ini?

Saat seseorang sedang mengalami fase ini, maka dia sebenarnya sedang metamorfosis menjadi pribadi yang baru. Dari yang tadinya fokus pada diri sendiri, akhirnya menyadari bahwa hidup yang lebih bermakna adalah yang terkait dengan orang lain dan bisa memberikan kontribusi bagi sekeliling. Lebih bermakna.

Perasaan depresi ini, memang sulit dibedakan dari luar. Sehingga kalau kita bicara kata burnout dalam kerja, misalnya. Kita harus melihat dulu ini apakah burnout yang dimaksud adalah kerja yang kebanyakan tugas terus capek, atau burnout yang dimaksud David Brooks dalam bukunya itu? Yaitu krisis eksistensial yang tidak bisa diatasi dengan semata jalan-jalan, cuti, atau minum vitamin. 

Jika kita mengalami kelelahan kerja karena hal fisik semata, maka solusi permukaan seperti ambil cuti, jalan-jalan, minum vitamin, dll… mungkin bisa menyembuhkan.

Namun, jika kelelahan kita adalah lebih mendalam, jangan-jangan kita mengalami sebuah krisis eksistensi seperti yang dikatakan David Brooks. Kita ada di lembah depresi yang tidak ada solusi lain melainkan menjadi pribadi baru yang melihat bahwa ada pendakian berikutnya, yang lebih bermakna. Kerja bukan lagi sebatas pencapaian pribadi melainkan bagaimana kita bisa ikut berkontribusi sosial. Solusinya adalah itu.

Cara orang untuk keluar dari lembah depresi ini, beda-beda. Ada yang mengambil langkah radikal karena tidak menemukan makna pada pekerjaannya yang sekarang, lalu secara radikal dia resign dan ganti pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan makna hidupnya. Seorang engineer yang stress dengan pekerjaannya lalu resign karena merasa hidupnya terlalu cepat dan tidak bermakna, lalu memilih menjadi guru di tempat-tempat terpencil, dengan itu memenuhi kebutuhan hatinya untuk hidup bermakna. Ini satu cara.

Ada lagi cara lainnya, yaitu hybrid. Seseorang tidak merasakan mendapat makna dalam pekerjaan dia sekarang,  lalu dia mencari makna itu lewat hobi di luar pekerjaannya. Seorang manajer yang merasa jenuh dengan aktivitasnya lalu di luar pekerjaan dia nyambi dalam sebuah organisasi non profit yang membantu anak-anak jalanan, misalnya.  Ini juga salah satu cara.

Ada lagi cara lainnya, yaitu transformasi cara pandang. Seorang leader di sebuah perusahaan, sekarang menyadari bahwa selama ini dia hidup terlalu egosentris, akhinya melihat pekerjaannya lebih jauh sebagai cara berkontribusi bagi kehidupan. Dia menikmati menjadi mentor bagi anak-anak baru. Menjadi figur tempat konsultasi bagi rekan-rekan kerjanya. 

Ada banyak aplikasi sesuai dengan konteks masing-masing, tapi ceritanya universal, bahwa setiap orang akan menuju pendakian kedua. Jadi jangan lama-lama di lembah depresi, ayo sama-sama mendaki di perjalanan kedua.

Tinggalkan Balasan