Dulu saya membanggakan ketelitian dan preparasi saya akan pekerjaan, sampai saya menyadari bahwa persiapan yang terlalu kaku kadangkala membuat kita sulit untuk naik ke level berikutnya yaitu eksekusi yang mengalir seperti air. Seperti Musashi saat membahas “kekosongan” dalam ilmu pedang. 

Saya ceritakan satu cerita sekitar 10 tahun lalu di kantor. Saya presentasi online ke hadapan bos regional, mewakili bos country yang berhalangan, dan saya “dibantai”. Presentasi saya kurang runut, tidak menjawab apa yang dimaui.

Cukup mengagetkan saya karena presentasi itu saya siapkan sebaik mungkin. Nyatanya saya diminta memperbaiki lagi untuk esok harinya. 

Keesokan harinya, saya menghadap ke bos di country level, lalu melaporkan bahwa presentasi kemarin harus diperbaiki.

Bos saya di country itu santai saja, baru memanggil saya untuk membahas slide presentasi sekitar 30 menit sebelum waktunya dimulai. Saya yang ketar-ketir karena terbiasa persiapan panjang.

Singkat cerita presentasi saya dirombak dengan versi bos saya yang dibuat mepet-mepet. 

Kami presentasi kembali. Presentasi yang dibuat dengan dadakan dalam 30 menit itu diterima dengan baik.

Saya tertegun, apa yang salah? Kenapa presentasi dadakan yang dibuat bos saya diterima oleh regional, sedangkan presentasi saya yang over prepared malah ditolak?

Belakangan saya baru mengetahui jawabannya setelah membaca bab “kekosongan (void)” dalam bukunya Musashi, Five Rings (Go Rin No Sho).

Kalau mengambil analogi ilmu pedang yang dijabarkan oleh sang legenda itu, maka ada tiga tahapan mencapai void atau kekosongan intuitif:

Yang pertama, adalah tahap mengikuti aturan. Ini adalah tahap yang saya lakukan dulu. Sebisa mungkin mengikuti semua step dan prosedur. Sebelum rapat saya siapkan semua teks. Meeting seminggu lagi saya sudah siapkan scriptnya dan slide-nya. Ini adalah tahap paling dasar, ibarat belajar pedang tahap awal dan mengikuti plek ketiplek semua jurus.

Tahap kedua adalah tahap memecah aturan. Kita mulai menganalisa, kenapa sebuah aturan dibuat begitu? Kita mulai memecah aturan itu dan melihat peta besarnya.

Ini adalah tahap saat seseorang sudah mulai melihat poin-poin besar dan bisa mengklasifikasikan dan menyocokkannya dengan pelajaran-pelajaran lainnya. Ibarat ilmu pedang, seseorang sekarang memahami kenapa jurus itu begitu. Bagaimana jurus itu ternyata bisa diotak atik dan diganti dengan elemen jurus lainnya.

Tahap terakhir adalah kekosongan. Ini adalah tahap eksekusi yang intuitif. Seperti yang dilakukan bos saya. Dia tidak lagi berpikir textbook dan dia bisa melakukan eksekusi secara instingtif yang muncul karena hasil dari pengalaman puluhan tahun.

Seperti seorang ahli pedang yang turun ke gelanggang tidak lagi dengan konsep saya mau mengalahkan si A dengan jurus XYZ lewat posisi kanan…melainkan dia menyambut apapun yang ada dan bereaksi dengan apapun yang datang. Dia melampaui aturan.

Kata Musashi, “Orang-orang di dunia sering kali keliru mengira bahwa Void (Kekosongan) adalah kondisi di mana tidak ada hal yang dipahami. Namun, itu bukanlah Void yang sejati. Itu hanyalah kebingungan atau kebodohan.”

Kekosongan atau gerak intuitif yang sejati, kata Musashi, adalah lahir dari latihan berpuluh tahun dan pemahaman. Sampai akhirnya membuat aksi kita tidak lagi terlalu kaku dengan text dan membiarkan semuanya mengalir karena kita sudah melatihnya puluhan tahun.

Sekarang saya menyadari gap saya, dan melatihnya sebisa mungkin. Mempelajari dan membreakdown sebisa mungkin di masa senggang. Melihat koneksinya dengan ilmu-ilmu lainnya. Lalu memberi ruang untuk eksekusi berjalan secara alami tanpa over prepared.

Saya tetap persiapan, tetap banyak script dan bacaan sebelum meeting, tetapi saya sekarang paham bahwa tidak boleh berhenti di sana, harus terus melangkah sampai pada kekosongan yang intuitif.

Akhirnya sekarang sudah bisa persiapan sedikit mepet-mepet tetapi lancar, seperti bos saya dulu, hehehe.

Tinggalkan Balasan