Saya rasa kita mau tak mau harus mengubah cara membaca dan menulis di era perkembangan teknologi sekarang. Harus lebih atomic. 

Tentu tidak bisa dipukul rata tetapi kalau dari sudut pandang pekerja kantoran, yang pergi pagi pulang malam lalu terkadang masih ada sisa kerjaan yang harus dituntaskan; membaca secara linear dari awal sampai akhir dan tebal-tebal terasa berat. Waktu terbatas. 

Ditambah lagi zaman sekarang AI bisa memberikan kita data dan informasi dalam waktu singkat. Maka aktivitas membaca sering tergantikan dengan chatt tanya AI. 

Padahal, ada yang tidak bisa digantikan oleh AI yaitu interaksi emosional yang didapat dengan membaca sebuah buku. Saya pribadi lebih tergugah membaca cerita seorang pebisnis tinggal di Oregon, membangun bisnisnya dari nol dari yang awalnya hanya sekadar web sederhana, ketimbang semata chatt AI tanya tips membuat bisnis dari nol. 

Saya lebih merasa ada teman saat membaca buku seorang seniman yang bertahan di tengah pasang surut apresiasi akan karyanya, bagaimana dia bertahan di tengah rutinitas yang menjemukan. Semua terasa lebih personal ketimbang tanya AI. 

Akhirnya saya menemukan harmoninya.

Yang pertama saya menyiasatinya dengan membaca buku yang berisi kumpulan artikel pendek-pendek reflektif sehingga bisa dibaca secara lepas. Semisal tulisannya Derek Sivers, Austin Kleon, Nassim Taleb, Naval Ravikant. Atau yang agak panjang sedikit tapi masih enak dibaca biasanya saya cari memoir. 

Dengan begitu saya menikmati sisi emosionalnya sebuah buku karena saya seperti mendengar cerita keseharian dari seseorang. Bukan kumpulan riset yang saya bisa dapatkan sekejap mata dari AI. 

Cara kedua adalah untuk buku tebal saya membaca secara skimming. Saya baca secara cepat untuk memahami ide pokok dari suatu bahasan. Sering kali saya skip dan loncat-loncat jika suatu bahasan dalam satu bab sudah saya mengerti. Karena seringkali struktur buku itu adalah dari satu ide pokok dikembangkan menjadi panjang dengan beberapa contoh fakta dan riset berulang ulang. Saya hanya fokus pada bagian yang idenya baru saya tahu dan menarik untuk didalami dengan seksama. 

Cara ketiga adalah dengan membaca secara paralel. Saya biasa baca buku dua atau tiga bahkan empat sekaligus dengan ide yang mirip-mirip lalu saya loncat-loncat baca satu dengan lainnya. Ternyata setelah saya baca banyak orang juga memraktikkan cara seperti ini. Misalnya saja Presiden Soekarno. 

Sebaliknya, dari segi menulis juga saya semakin merasakan pentingnya kita membuat tulisan yang atomic ringkas dan satu ide dalam satu artikel supaya tidak terlampau panjang. Untuk menyesuaikan dengan era sekarang. Agar tulisan manusia tetap memiliki tempat dan juga agar tulisan manusia tetap enak dibaca di tengah ritme kerja yang cepat. 

Saya juga sebisa mungkin bercerita dengan reflektif dan pengalaman pribadi. Karena di era di mana data dan informasi menjadi gampang diraih, yang mahal adalah koneksi antar manusia. Data menjadi kering tanpa cerita manusia. Cerita personal menjadi mahal karena orang ingin terkoneksi dengan sesama.

Tinggalkan Balasan