
Kenapa kita masih perlu membaca sedangkan informasi di zaman sekarang bisa didapat dengan mudah lewat AI? Ternyata memang aktivitas membaca buku itu bukan semata mencari informasinya, karena memang kurang efektif kalau baca buku hanya untuk cari informasi. Jadi untuk apa membaca buku?
Ada satu artikel di substack, temen-temen bisa cari tulisan dari Sasha Chaplin (Books are Subjectivity Merging Device), di sana dia menjelaskan bahwa baca buku itu sebenarnya lebih seperti kita ngobrol dengan sahabat karib. Tujuannya memang supaya kita menyelami alam pikiran penulisnya, lalu kita terhipnotis dengan atmosfer kata-kata dan cara pikirnya, lalu kita akhirnya mau berubah.
Memang kalau kita hanya perlu informasi, kita hanya butuh bullet point saja. Tinggal ketik tanya AI juga selesai. Namun hal semacam itu tidak punya daya ubah.
Saya belakangan semakin menyadari hal ini, ketika santai ngopi-ngopi sambil baca buku, misalnya saya baca meditations-nya Marcus Aurelius, atau saya baca memoir santai Haruki Murakami atau tulisan-tulisan pendek dari Derek Sivers, saya seperti ngobrol dengan teman yang pandai dan persuasif.
Saya seperti berada di zaman Romawi melihat bagaimana pergulatan batin seorang kaisar yang filsuf dan harus memegang kekuasaan yang sebenarnya dia tidak suka. Mengintip bagaimana alam pikirannya. Ini seperti menyelami cara seseorang melihat dunia.
Saat membaca tulisan Derek Sivers saya seperti melihat seorang yang minimalis, cerdas dan mau hidup berbeda dengan orang lain, tidak mau terseret arus deras kehidupan kerja, meskipun dia sudah terbukti sukses dan menjual bisnis jutaan dolar.
Saya membaca bagaimana seorang Novelis Haruki Murakami bergulat dengan pikirannya sendiri saat dia olahraga, lari maraton. Sebuah gejolak emosi yang akhirnya membuat saya sendiri paham juga kenapa kalau saya nyetir mobil udah lebih dari 2 jam biasanya saya bad mood, Karena capek, hehehe. Ternyata Haruki Murakami mengalami hal yang sama ketika berlari.
Semua itu, adalah alam pikiran yang tidak bisa didapatkan dari sekedar potongan informasi. Karena semata potongan informasi, meskipun benar, tidak punya daya gugah.
Cobalah misalnya kita mereduksi semua pesan dan pelajaran, pastilah rata-rata kita sudah tahu: Jangan menyerah! Preteli pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil supaya ringan! Fokus aja pada hari ini ga usah pikirin kekhawatiran masa depan! Jangan disibukkan dengan hal-hal kecil… kita sudah hafal, bukan?
Apapun saja pelajarannya, kalau direduksi menjadi potongan-potongan kecil begitu rata-rata orang dewasa sudah mengerti. Tetapi daya ubah hanya akan kita dapatkan kalau kita mendownload alam pikirannya. Seperti ngobrol dengan penulis buku itu, lalu seperti terbawa masuk dalam cara dia memandang hidup. Dengan begitu baru daya ubah itu muncul.
Saya teringat Naval Ravikant dalam salah satu podcast pernah bilang, dia tidak membaca buku. Dia membaca penulisnya (author). Jika dia sudah menyukai penulisnya, maka dia menyelami alam pikir penulisnya dan akan membeli buku-buku dari penulis tersebut.
Karena memang dia tidak mencari informasi semata-mata, yang bisa didapatkan mudah di era teknologi sekarang. Melainkan dia menyelam ke dalam pikiran, berteman jarak jauh, dan mendowload daya ubah dari sebuah tulisan atau buku.

