
Jangan Menulis Sambil Mengedit. Ini pelajaran yang saya ingat dari momen ketika sedang getol belajar menulis sekitar 10 tahun lalu. Ternyata tidak hanya dalam urusan menulis, pelajaran ini juga penting dalam urusan kantor, untuk membuat kita humble pada saat yang tepat dan percaya pada kemampuan diri di saat yang tepat. Tidak campur aduk.
Salah satu yang sering membuat orang buntu dalam menulis adalah karena menulis sambil mengedit. Secara mental otaknya berpikir, “jangan-jangan tulisan ini salah grammar,” atau “ini diksinya kurang oke tampaknya.”
Akhirnya idenya tidak bisa keluar. Baru mau nongol sudah dihambat oleh otokritik.
Jangan mencampur menulis dan mengedit sekaligus, ibarat jangan mencampur aksi dan evaluasi sekaligus.
Hal yang sama terjadi juga pada kita dalam urusan kantor misalnya. Saat sedang presentasi, itu harusnya kita ada dalam mode aksi. Namun seringkali sambil aksi kita sambil evaluasi yang keliru. “Wah, jangan-jangan slide saya kurang bagus, jangan-jangan ada yang lebih paham tentang apa yang saya sampaikan, jangan-jangan banyak yang lebih menguasai.” Otokritik di momen yang tidak tepat ini keliru. Secara brutal dia mereduksi kemampuan aksi kita.
Hal ini sering saya rasakan juga saat berkarya. Yang paling terasa itu adalah kalau kita presentasi live di depan kamera, misalnya saat membuat YouTube.
Memiliki awareness yang tinggi dan suka mengevaluasi diri sendiri bisa menjadi boomerang kalau kita terapkan di saat aksi. Poin-poin yang disampaikan menjadi kurang menggerakkan. Hal ini tersebab aksi dan evaluasi bercampur, ibarat sambil nulis sambil otokritik diri sendiri.
Yang baik adalah memang menerapkan semacam kompartemen mental. Memisahkan aksi dan evaluasi. 100 persen keyakinan pada saat aksi, dan 100% oto kritik saat evaluasi. Dengan begitu kita lebih fokus.
Jikalau kita melakukan aksi dengan 100 persen keyakinan, maka itu seperti anak panah melesat dari busurnya. Jika tidak ada otokritik saat melakukan aksi, maka aksi akan punya daya ubah yang sangat kuat seperti laser yang focus dan tidak bias. Dia bisa menggerakkan.
Begitupun saat kita masuk mode evaluasi, kita membuka diri akan perbaikan-perbaikan, maka tidak terasa lama-lama kita semakin matang.
Jadi bagi yang pernah merasa seperti tidak yakin saat aksi, misalnya saat menulis; buntu, saat ngomong; ragu-ragu, boleh jadi karena sistem otokritik di dalam diri itu mematikan kreativitas dan daya ubah saat aksi.
Maka harus belajar tidak mencampur-campurnya. Ibarat seorang editor yang tidak mengganggu penulis saat sedang mengalirkan karyanya, dan sebaliknya seorang penulis yang mempercayai saran editor saat aksi-nya sudah membuahkan tulisan.
Kitalah penulis dan editor di dalam diri kita sendiri itu.

