
Jangan terjebak oleh baju! Dalam keseharian kita seringkali terjebak oleh baju atau merek yang orang lain lekatkan kepada kita. Akibatnya kita sulit berubah atau sulit mencoba hal lain karena terlanjur dikenal dengan merek atau baju yang orang lain sematkan pada diri kita.
Ini ada cerita. Tahu desain keyboard QWERTY? Ternyata desain keyboard QWERTY ini bukan dibuat untuk mengetik paling cepat dan ergonomis, tapi di zaman mesin tik awal-awal dulu, mesinnya sering macet karena pelatuknya saling berhimpit. Akhirnya dibuatlah suatu desain yang memisahkan huruf-huruf yang paling sering digunakan, tujuannya sederhana supaya mesin tik tidak macet saat dipakai karena pelatuknya nyangkut.
Puluhan tahun kemudian, desain QWERTY sudah dipakai di mana-mana, sehingga sulitlah industri untuk menggantinya. Bahkan sekarang semua laptop rata-rata pakai QWERTY. Bahkan di HP juga QWERTY meskipun sama sekali tidak ada kaitannya dengan efisiensi mengetik zaman sekarang. Tidak bisa diubah karena sudah terlalu jauh dan biaya mengganti semua desain yang sudah saling terkait itu mahal sekali.
Hal ini menjadi ilustrasi yang baik, bahwa manusia juga kadang-kadang mirip desain QWERTY itu. Misalnya kita sudah terlanjur dikenal sebagai pebisnis, lalu kita mau berbuat hal lain kok rasanya sulit karena branding-nya sudah kadung sebagai pebisnis.
Ini cerita nyata saya kutip dari bukunya Naval Ravikant. Dia seorang investor yang ulung dan sukses di Silicon Valley, California Utara. Semua orang mengenal dia sebagai investor yang jeli melihat peluang dan dirinya lekat dengan bisnis dan teknologi. Namun diam-diam dia menyukai bahasan filsafat dan kehidupan sehari-hari. Lalu dia ingin posting di twitter tulisan-tulisan pendeknya.
Anehnya, dia merasa takut. Merasa seperti ada yang salah, ketakutan karena dirinya sudah kadung dikenal sebagai merek yang mewakili dunia investasi dan bisnis. Lama dia memaksakan diri untuk menulis di luar bahasan investasi, meskipun sampai ada yang mengkritiknya karena aneh, tetapi dia bertahan cukup lama hingga tulisannya booming dan orang-orang menyukai pemikiran-pemikiran keseharian praktis dari Naval Ravikant itu.
Dia tetap investor ulung, tetap pebisnis, tapi dia juga akhirnya menemukan secara jujur hal yang benar-benar dia cintai dalam hidup. Dia menemukan identitas aslinya, di luar baju pekerjaannya.
Memang sulit, untuk secara jujur “melepas baju” yang sudah lekat kepada kita. Kejujuran itu, biasanya harus dijalani dengan melewati rasa takut untuk tampil berbeda dan benar-benar menjadi diri kita. Jangankan kita, bahkan orang sekelas Naval Ravikant saja juga kesulitan, meski akhirnya berhasil.
Maka itu, setiap kali saya merasa takut dan grogi menulis di luar “baju saya”, yaitu industri migas, saya teringat kisah Naval dan kisah layout QWERTY itu. Jangan sampai, saya tidak mengenali diri saya sendiri, dan gagal jujur kepada diri sendiri akan apa hal yang benar-benar saya cintai.
Saya bekerja di migas, tetapi saya memandang industri dari sisi sistemiknya, saya senang melihat interaksi antar sistem, saya senang melihat keseharian orang-orang dan saya senang mengamati spiritualitas dan filsafat praktis keseharian dalam dunia kerja. Maka saya tulis itu sebagai upaya saya jujur kepada diri saya sendiri.
Karena waktu masih ada, dan kita belum menjadi desain QWERTY jadul yang sudah kadung tidak bisa diubah.

