Salah satu pesan yang ingin saya sampaikan pada diri saya versi umur 20-an adalah carilah Mentor. Cari orang yang punya jalur pengalaman hidup mirip-mirip dan mau mentransfer pelajaran dari pengalaman hidupnya ke kita. Sehingga proses belajar kita menjadi lebih cepat.

Saya sejak dulu menyukai belajar autodidak. Bahasa, ngulik android, buat web sederhana, videografi, data sheet, tetapi belakangan saya semakin paham bahwa autodidak itu bisa menghantarkan sampai titik tertentu lalu untuk melaju lebih jauh kita butuh mentor. Guru. Itulah seninya dari saling belajar.

Karena bahkan sesuatu yang kita anggap autodidak juga sebenarnya belajar dari orang lain tetapi partial, tidak ketemu langsung. Fragmented.

Dengan belajar pada orang lain, menyerap pengalaman mereka, maka kita mengakui bahwa banyak hal yang kita belum tahu dan merendahkan hati untuk menampung pelajaran.

Contoh sederhana. Di kantor saya sehari-hari pakai bahasa Inggris sebagai bahasa resminya karena orang-orang di kantor dari berbagai kebangsaan. Saya mempelajarinya autodidak dan merasa saya bisa mengatasi kebutuhan presentasi obrolan teknis, keperluan kantor dll.

Namun ternyata setelah pindah kantor dan semakin banyak keperluan obrolan non teknis saya merasa ada yang kurang. Belajar autodidak membawa saya sampai batas tertentu, yang level berikutnya sulit ditembus tanpa belajar dengan guru dengan mentor.

Logika yang sama juga berlaku dalam hal lain. Bagaimana bertahan dalam pressure kantor? Bagaimana menjalani hari yang berputar cepat? Bagaimana adaptasi dalam kondisi yang berubah-ubah dan ambigu? Semua akan lebih cepat kalau kita memiliki mentor.

Mentor adalah orang yang pernah melalui jalan yang mirip dengan yang sedang kita lalui, lalu berbagi pengalaman kepada kita.

Dalam pengalaman saya, sebaiknya mentor itu memang ketemu fisik dan bicara tatap muka. Namun kalau tidak bisa, maka kita juga bisa mencari mentor virtual, lewat buku.

Saya teringat Naval Ravikant dalam suatu podcast pernah bilang yang artinya kurang lebih, “Saya tidak membaca buku, melainkan saya membaca penulisnya. Saat saya sudah menyenangi cara pikir penulisnya maka saya akan mencari buku-bukunya.”

Cara saya membaca sekarang berubah. Saya tidak lagi membaca sebagai sekedar sarana mencari informasi. Melainkan saya membaca karena saya ingin menyelami cara penulisnya memandang kehidupan. Saya ingin masuk ke dalam alam pikir penulisnya. Saya menganggap penulisnya adalah mentor.

Dengan begitu, proses membaca menjadi lebih ada daya gugahnya. Kalau sekedar informasi yang kita butuhkan, maka search lewat AI lebih mudah.

Namun kalau kita memerlukan seorang mentor, virtual, maka membaca buku sembari mencermati pengalaman hidupnya penulis, menikmati diksinya, tenggelam dalam alur pikirnya, sangat berbeda dengan sekedar googling info.

Seringkali meskipun hal yang disampaikan itu kita sudah paham, tetapi kalau kita membaca ulang tulisan dan mencermati pengalaman orang lain maka daya gugahnya muncul kembali. Karena kita sebenarnya tidak mencari fakta data-data. Kita mencari cerita dan keterikatan emosional. Kita mencari mentor.

Tinggalkan Balasan