
Selain keberanian, kita juga harus memeluk “ketakutan”. Dalam dunia kerja banyak orang terpaksa terus menerus tampil dalam balutan perfeksionisme, terpaksa memakai topeng yang menunjukkan melulu keberanian, kekuatan, resiliensi, ambisi, dan yang semacamnya. Tidak keliru, tetapi belum utuh tanpa mengakomodir sisi lainnya dalam diri kita, yaitu rasa takut, jenuh, bingung. Kerentanan yang manusiawi.
Adalah George Saint Pierre (GSP). Seorang mantan juara dunia UFC kelas welterweight, menceritakan bahwa betapa dirinya sangat takut dan rasanya ingin lari saja setiap kali dia naik ke ring. Dia tidak suka berkelahi. Joe Rogan, podcaster terkenal bahkan sampai merasa tidak percaya bahwa ungkapan seperti itu datang dari GSP yang digadang-gadang sebagai salah satu the Goat, alias yang terbaik.
Tapi begitulah kenyataannya. Tidak banyak yang mengakui bahwa dalam perjalanan mereka yang terlihat luar biasa ternyata ada rasa ketakutan, kebingungan dan kelemahan yang manusiawi. GSP adalah satu dari sedikit sekali orang yang menceritakan ini dengan jujur. Tetapi kejujuran itu malah menghantarkannya menjadi juara dunia.
Langkah pertama adalah dengan jujur mengakui bahwa dia takut, dan ketakutan itu tidak bisa hilang, alih-alih dia terima dan berdamai dengan rasa takut. Bertindak meskipun takut, karena sadar tindakan yang diambil adalah penting.
Dalam dunia kerja kita juga begitu. Seringkali kita mengalami ketakutan, merasa tidak kuat dengan pressure pekerjaan. Merasa kurang kompeten dan merasa salah tempat. Tetapi perasaan rentan seperti itu kita tutupi karena di sekitar kita semua orang menampilkan persona yang kuat dan tanpa cela. Sehingga kita merasa harus menjadi yang tanpa cela juga, dengan dalih resiliensi.
Padahal, seperti kisah GSP, resiliensi yang sebenarnya seringkali malah muncul kalau kita menyadari bahwa diri kita punya banyak kelemahan yang manusiawi, lalu kita menyelam dalam semua perasaan itu dan membaca dengan jujur apa yang kita takuti, apa yang kurang, apa yang benar-benar berharga bagi diri kita.
Saya pernah ngobrol dengan seorang senior manajer yang sangat sukses, akan tetapi ternyata dibalik kesuksesannya itu dia merasa bukan itu yang dia kejar. Hiruk pikuk dan segala gegap gempita pencapaian kantor sudah dia dapati, lalu dia menjadi kosong dan merasa bukan ini yang dia cari.
Perasaan seperti itu adalah sesuatu yang jarang dia sampaikan pada orang lain karena tidak menemukan tempatnya, karena harus tampil dengan persona yang kuat dan seperti tidak boleh ada kelemahan manusiawi.
David Brooks menceritakan dengan sangat baik dalam bukunya The Second Mountain. Dalam kehidupan manusia ada dua pendakian. Pendakian pertama adalah pendakian layaknya kita semua dalam corporate race. Yaitu mendaki mengejar hal-hal seperti karir, jabatan, status, uang dan seterusnya.
Di ujung pendakian pertama, ada sebuah lembah. Lembah yang berisi kerentanan yang manusiawi. Tempat orang merenung dan menyadari bahwa ada yang lain yang bukan semua pencapaian pekerjaan ini, yang dia cari.
Orang-orang sampai ke lembah ini dengan beda-beda. Ada yang mendaki sampai puncak karir lalu merasa kosong. Ada yang boro-boro sampai puncak karir dia malah diterpa masalah dan terlempar ke lembah.
Tetapi pada lembah ini, jawaban tidak ditemukan dengan terus menerus memakai topeng yang menunjukkan kita adalah kuat dan tanpa cela, melainkan secara jujur mengakui apa yang membuat kita rentan.
Jika kita takut, apa yang ditakuti? Apa yang benar-benar kita hargai? Apa yang kita kejar, dan sebagainya. Barulah setelah itu kita akan menyadari bahwa ada pendakian kedua.
Pendakian kedua adalah tentang kontribusi, tentang kehidupan yang lebih bermakna. Sudah bukan lagi tentang diri sendiri, melainkan tentang bagaimana kita bisa berbuat sesuatu yang memberi manfaat bagi orang lain.
Jalannya beda-beda juga. Bisa dengan radikal misalnya berhenti bekerja dan banting setir karir karena merasa lebih menemukan makna di tempat lain. Bisa dengan hybrid yaitu melakukan sesuatu di luar pekerjaan yang bisa membuat dia merasa bermakna karena kontribusi. Atau bisa juga tidak ada yang berubah dari pekerjaannya tetapi sekarang dia memandang pekerjaannya bukan lagi sebagai perlombaan tapi lebih sebagai saling bantu.
Yang manapun saja, semuanya harus dimulai dengan kejujuran. Bahwa selain keberanian, kita juga memiliki ketakutan dan kerentanan yang manusiawi. Yang justru mengajak kita secara lebih jujur mengenali diri.

