Kenapa life begins at 40? Banyak istilah menyebutkan bahwa kehidupan bermula saat kita memasuki usia 40 tahun, kita pasti familiar banget dengan istilah ini, tapi saya sendiri baru dapet klik-nya setelah merasakan langsung.

Sebenarnya tulisan ini agak telat saya posting, karena per tulisan ini saya post saya sudah 41, hehehe….tapi better late than never kan?

Setidaknya hal-hal ini yang saya rasakan saat saya sudah masuk usia 40-an. Barangkali diantara hal ini ada yang relevan dengan siapapun yang tertakdir membaca ini.

PERGESERAN PRIORITAS

Di usia 40-an biasanya seseorang memasuki masa pergeseran prioritas karena:

  • lingkar pertemanan semakin sempit
  • anak sudah beranjak remaja
  • sadar jatah umur tinggal sedikit

Prioritas menjadi berubah. Semakin mengutamakan keluarga. Karena keluargalah lingkar pertemanan terdekat kita. Saya pernah baca bahkan ada risetnya yang menguatkan fakta ini lho. Jadi saat kita semakin dewasa, kita memang cenderung semakin sedikit teman karena cara pandang kita berubah menjadi lebih fokus pada hal-hal yang penting saja.

Pertemanan juga menjadi lebih…. Katakanlah “tematik”, mungkin pertemanan berbasis hobi, karena punya hobi yang sama. Karena punya aktivitas yang sama, dll. Sudah jarang kita punya teman seperti jaman sekolah dulu yang kemana-mana selalu dalam team, hehehe. Sudah bukan masanya.

Menyadari fakta ini saya jadi semakin menyempatkan diri untuk bergabung dalam komunitas. Misalnya ya kita punya teman kantor, tapi di luar kantor kita punya teman-teman yang tematik juga. Saya ada teman-teman yang dari komunitas beladiri, ada teman-teman yang dari komunitas coaching, komunitas creator. Dengan begitu lebih mudah untuk menjalin komunikasi sosial dengan orang-orang yang punya aktivitas dan hobi yang sama.

Hal lain yang saya rasakan yaitu semakin fokus pada hal-hal yang esensial saja. Misalnya jika ingin berbuat sesuatu selama hal itu baik (sharing di medsos. Buat buku. Posting hobi. Dll); just do it!

Ga usah terlalu hirau dengan pendapat orang lain. Karena kita tidak bisa membahagiakan semua orang maka fokus pada yang esensial. Yang sefrekuensi.

BERTAMBAHNYA TANGGUNG JAWAB

Biasanya di usia 40an maka seseorang bertambah tanggung jawabnya. Secara karir sudah meningkat karena pengabdian juga sudah lama. Secara keluarga juga anak-anak sudah remaja jadi makin besar tanggung jawab.

Di usia 40an juga biasanya seseorang mulai masuk pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih filosofis semisal apa kiranya legacy yang bisa saya tinggalkan? Pertanyaan yang mungkin belum muncul saat masih muda karena biasanya saat muda masih sibuk dalam survival mode.

Belakangan pertanyaan-pertanyaan ini yang membuat saya kembali tergerak menulis, harus ada sesuatu yang kita tinggalkan. Sesuatu yang kita anggap penting, “value kita”, dan kita bagikan itu untuk orang lain supaya bermanfaat.

Sebaik-baik manusia kan yang paling bermanfaat untuk orang lain. Saya sampai tergerak juga bikin semacam mini webinar tentang ini, supaya bisa share lebih dalam.

Karena kegelisahan yang semacam ini cuma bisa dijawab dengan action, tindakan yang selaras dengan value kita.

USIA KEMATANGAN JIWA

Kononnya juga usia 40 adalah usia kematangan jiwa. Barangkali seiring dengan bertambahnya tanggung jawab dan kesadaran itulah maka jiwa seseorang menjadi lebih matang pada usia 40an. Rasulullah SAW juga diangkat menjadi Nabi pada usia 40, banyak riset juga mengatakan usia 40 adalah usia yang matang secara emosional.

Okay, segitu saja celotehan saya, makasih sudah mampir ya! Kalau tertarik dapat notifikasi tulisan-tulisan semacam ini bisa klik di pojok kanan atas ada tombol buat berlangganan. See you.

Tinggalkan Balasan