Salah satu cara untuk memperbaiki percaya diri kita adalah dengan menerima ketidaksempurnaan. Akan tetapi sulit bagi kita untuk menerima ketidaksempurnaan jika tidak ada landasan filosofisnya mengapa ketidaksempurnaan harus diterima?

Ada satu istilah yang sangat terkenal dari filosofi jepang yaitu Wabi-Sabi. Istilah ini meskipun berasal dari Jepang tetapi pesan-pesannya Universal dan bisa diterima semua kalangan.

Wabi-Sabi ini kurang lebih maknanya adalah penghargaan terhadap keindahan yang ditemukan dalam kesederhanaan, dan keindahan yang muncul seiring waktu (misalnya penuaan). Melihat keindahan di luar standar konvensional yang biasanya memaknai keindahan sebagai kesempurnaan.

KEINDAHAN DALAM KETIDAKSEMPURNAAN

Kalau kita melihat contoh di alam, kita akan menemukan bahwa sesuatu yang kita nikmati sebagai sesuatu yang indah, itu seringkali dibentuk oleh sesuatu yang tidak selalu seragam.

Misalnya kita melihat pemandangan sawah yang damai dengan terasering yang berundak-undak, keindahan itu muncul karena tinggi rendahnya pematang sawah itu tidak seragam. Kalau semua seragam malah indahnya tidak muncul.

Juga misalnya melihat pemandangan pepohonan, justru indahnya akan muncul saat pohon-pohonnya tidak seragam tingginya. Ada yang tinggi, ada yang rendah, ada yang menua dan kering dan ada yang hijau bertunas. Semuanya menjadi satu bentuk Maha Karya yang kita rasakan keindahannya.

Dengan begitu, kita mulai menyadari bahwa keindahan tidak berada pada keseragaman dan tanpa “cela”. Justru dengan adanya berbagai-bagai keadaan inilah maka keindahan ini menjadi lengkap.

Hal ini jugalah yang dibahasakan dalam filosofi Wabi-Sabi Jepang tadi.

Ada sebuah perumpamaan yang masyhur, sebagai contoh menghargai ketidaksempurnaan ini adalah seni Kintsugi dari Jepang. Yaitu seni memperbaiki keramik yang pecah dengan tidak menyembunyikan keretakannya melainkan membuatnya menjadi indah dengan menambalnya menggunakan emas atau perak.

MENERIMA KETIDAKSEMPURNAAN DAN MENYEMBUHKAN KEPERCAYAAN DIRI

Lalu bagaimana kaitannya antara menerima ketidaksempurnaan ini dengan rasa percaya diri?

Saat kita sudah menyadari tabiat dari dunia ini bahwa ketidaksempurnaan itu adalah keniscayaan, dan justru dengan begitu maka keindahan akan terbit, maka kita menjadi lebih mudah menerima kekurangan-kekurangan diri kita sendiri.

Salah satu hal yang sangat mempengaruhi rasa percaya diri kita adalah penilaian terhadap diri kita sendiri.

Saat kita cenderung terlalu keras pada diri sendiri, terlalu sering melakukan otokritik karena terlalu perfeksionis, maka kita menjadi pribadi yang kikuk. Karena kita mengkritik diri sendiri terlalu keras.

Kritik pribadi ini terpancar keluar dan terbaca dalam gesture yang kikuk dan tidak percaya diri.

Hal ini bisa sembuh saat kita menghargai ketidaksempurnaan, dan kita menerima bahwa diri kita adalah bagian dari alam yang tidak mungkin sempurna.

STRIVING FOR EXCELLENCE, NOT PERFECTION

Dengan menyadari bahwa kesempurnaan adalah mustahil, maka yang kita lakukan adalah mengejar progress. Striving for excellence. Menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya. Tidak pusing dengan kesempurnaan.

Tinggalkan Balasan