Ada pelajaran dari kisah Ibnu Battuta, seorang penjelajah Muslim di abad ke-7 H tentang bagaimana dia menghadapi dunia yang penuh dinamika, perubahan dan konflik, semasa dia mengarungi 44 negara dan hampir 120 ribu kilometer perjalanan.

Di era modern sekarang ini ternyata kisah perjalanan Ibnu Battuta masih sangat relevan. Karena ada kemiripan gejolak. 

Saat ini, kita hidup di dunia yang bahkan dulu kita tidak pernah bayangkan, tiba-tiba terjadi perang yang eskalasinya di tingkat regional. Hal-hal yang yang terjadi di dunia global dan regional itu juga secara tidak langsung ber- impact kepada pekerjaan kita. Suplai-suplai barang jadi terhambat, banyak hal yang terjadi di global dan regional yang membuat kita khawatir. 

Tidak lama sebelum ini, kita ingat ada pandemi. Tiba-tiba ada AI yang mendisrupsi banyak hal. Kita jadi bertanya-tanya, selepas ini apa lagi yang akan terjadi? Kita tidak bisa lari dari perubahan yang terjadi di zaman yang cepat ini.

Mengarungi Perubahan: Bercermin dari Ibnu Battuta.

Di suatu sore di bulan Ramadhan ini saya membaca buku Ibnu Battuta sembari menunggu waktu buka. Dan saya melihat kemiripan zaman yang dilalui beliau dengan zaman kita. 

Penjelajah Muslim yang hidup di kisaran 1,300-an Masehi ini lahir di Afrika, memulai pengembaraan sekitar umur 22 tahun. Menempuh sekitar 120,000 kilometer perjalanan yang konon melebihi pengembaraan Marco Polo.  Merambah sekitar 44 negara.

Dia hidup pada masa di mana Kekhalifahan Abbasiyah sudah melemah karena ditaklukkan oleh Mongol, dan menjelang kelumpuhan totalnya. Jadi konteks zaman waktu itu itu terjadi fragmentasi politik karena Baghdad diserang Mongol, kekhalifahan runtuh lalu terfragmentasi, muncul kesultanan-kesultanan di berbagai tempat.

Situasi politik tidak stabil, banyak gangguan keamanan, jalur perdagangan terganggu, juga terjadi benturan budaya karena orang-orang pindah dari satu tempat ke tempat lainnya karena konflik.

Hal ini memberikan insight ketika saya membacanya, saya penasaran apa yang dilakukan Ibnu Battuta untuk mengarungi zaman?

Beberapa hal yang saya catat antara lain:

1) Ibnu Battuta memiliki kejelasan identitas. Ibarat jangkar (anchor) yang membuat sebuah kapal stabil meski diguncang-guncang badai. 

Kejelasan identitas, ini maksudnya adalah kejelasan dalam memandang “siapa diri saya sebenarnya”. Ibnu Battuta identitasnya adalah sebagai penuntut ilmu, seorang komunikator, dan pejalan. Identitas ini tidak berubah, meskipun dalam perjalanannya dia harus memakai berbagai “baju peran”, atau gonta-ganti pekerjaan. 

Jadi ceritanya Ibnu Battuta dari Maroko memulai pengembaraannya karena hendak melaksanakan ibadah haji. Dalam perjalanannya itu dia pergi ke banyak tempat, berbagai negara sampai akhirnya melanglang buana Afrika lalu Timur Tengah, lalu India dan China sampai Nusantara, dengan bekerja berbagai jabatan pekerjaan sepanjang perjalanannya. 

Ibnu Battuta bisa menjadi Qadhi atau hakim dalam sebuah kafilah perjalanan. Bisa menjadi diplomat, juru bicara, protokoler, dan lain sebagainya sesuai dengan kesempatan dan tantangan waktu itu. 

Hal ini mirip sekali dengan kehidupan kita di zaman sekarang. Dalam dunia yang penuh perubahan, kadang-kadang posisi kita di kantor pun juga berubah-ubah. Struktur organisasi berubah, jalur reporting berubah, kita diganti posisi, berganti job desc, dan sebagainya atau bahkan terpaksa berganti karir. 

Jika kita mengaitkan identitas kita dengan baju peran atau pekerjaan kita, maka saat pekerjaan berganti kita bisa hilang identitas dan menjadi gamang. Pemahaman mengenai identitas kita, siapa sebenarnya diri kita, apa hal yang kita sukai dan kita hargai, seperti apa kita memandang diri sendiri, ini sangat penting seperti yang dicontohkan Ibnu Battuta.

Jadi apa pun yang terjadi nanti “baju perannya” berubah-ubah apa pun saja seusai tuntutan zaman, kita tidak kehilangan identitas, kalau kita sudah menyelesaikan masalah identitas ini di awal. Karena kita tidak mengaitkan identitas ini dengan “baju peran” kita.

Ibarat kata, Ibnu Battuta tidak kehilangan dirinya meski dia tidak menjadi Qadhi atau hakim lagi, dia bisa menjadi diplomat, bisa menjadi protokoler atau apapun saja, tetapi dia tahu sebenarnya intinya adalah dia seorang komunikator, penuntut ilmu dan pejalan. Pekerjaannya bisa apa saja.

2) Ibnu Battuta memiliki mentalitas seorang musafir yang adaptif. Semisal dia ingin berangkat ke satu tempat akan tetapi di tempat itu ternyata sedang perang atau ada penyamun, maka dia pindah jalur atau menyesuaikan. 

Dalam suatu cerita, Ibnu Battuta memutar arah dari yang tadinya hendak ke suatu tempat, berubah menjadi pergi ke India terlebih dahulu karena membaca situasi bahwa di India ada seorang Sultan yang sangat supportif. Jadi dia memutar arah dulu, baru kembali ke posisi pertama. Dalam dunia yang selalu berubah, menjadi fleksibel itu sangat penting.

Dia tidak membuat plan yang rigid. Ini pelajaran buat kita. Plan yang sangat detail itu bisa saja untuk hal-hal yang reguler yang repetitif, tapi untuk sesuatu yang bersifat jangka panjang, untuk sesuatu yang strategic maka kita membuka diri terhadap berbagai kemungkinan perubahan yang muncul dalam dunia yang memang tiap saat berubah.

3) Ketiga Ibnu Battuta memiliki mentalitas pembelajar sepanjang hayat. Ketika Ibnu Battuta tiba di suatu negara, dia pasti belajar hal yang baru bagaimana cara orang-orang di situ melihat hukum dan sebagainya. 

Dia mengunjungi pusat network dimana ahli ilmu berkumpul. Di Zaman itu ada namanya zawiyah, semacam tempat berkumpul bagi para pembelajar, para musafir, pembelajar sufistik, semacam linkedin spiritual di dunia nyata. Di situlah dia terus belajar. Kadang dia menyengaja mencari orang yang berilmu, seorang alim ternama di suatu tempat lalu belajar di sana di tengah perjalanannya berkeliling dunia.

Dari sana dia akan mendapatkan link berikutnya untuk mencari orang lain yang lebih berilmu di negara lainnya lagi. Belajar sepanjang perjalanan.

4) Keempat, Ibnu Battuta fokus pada karya, atau tugas yang bisa dijalani. Suatu ketika dia melalui masa pandemi karena wabah pes. Di era itu sampai disebut Black Death saking banyaknya yang meninggal karena wabah itu. Efeknya mengerikan karena di zaman itu kedokteran belum secanggih sekarang. Dikabarkan Ibnu Battuta berkunjung ke berbagai tempat termasuk ke Makkah yang menjadi sepi dan mencekam.

Dalam posisi ketakutan dan kebingungan itu dia tetap fokus pada apa yang dia bisa lakukan, dia tetap menulis, belajar,  dia tetap melakukan pengamatan pada area yang dia kunjungi. Fokus pada apa yang bisa dilakukan saja.

Hal ini mirip dengan kita di dunia modern, di tengah-tengah kebingungan kita saat kiri kanan ada konflik yang semua itu terlalu beyond our reach, kita balik saja fokus kepada karya yang kita bisa lakukan.

Hal ini juga yang sering mengembalikan saya kepada fokus. Dalam situasi ambigu dan banyak hal yang terjadi, saya lakukan apa saja yang saya bisa. Misalnya membuat audio podcast, dalam seminggu saya menyempatkan membuat satu podcast membagikan apa yang saya bisa disana.

Selepas itu akan saya kemas menjadi tulisan. Selepas itu entah ke depannya akan jadi seperti apa saya tidak tahu, yang penting saya fokus kepada sesuatu yang saya rasa erat dengan identitas saya dan saya lakukan itu.

Saya meniru jalan berkarya seperti Ibnu Battuta saat dia berada dalam kondisi yang mengerikan melewati semua dinamika perjalanannya di abad ke-7 Hijriah waktu itu.


Referensi: Ibnu Bathuthah. (2012). Rihlah Ibnu Bathuthah (M. Irham & M. Malik, Terj.). Pustaka Al-Kautsar.

Tinggalkan komentar