
Ada satu praktik yang bisa dilakukan agar kita terlepas dari tekanan untuk tampil sempurna, terhindar dari keraguan, dan memperoleh kembali clarity atau kejelasan arah. Praktik itu adalah “Membuat Panduan untuk Diri Sendiri”.
Saya tiba-tiba teringat dengan beberapa tokoh di sepanjang sejarah yang mempraktikkan hal ini. Tokoh pertama itu adalah Ibnu Athaillah as-Sakandari, seorang ulama dari Iskandariyah. Lalu tokoh kedua adalah Marcus Aurelius, Kaisar Romawi. Lalu tokoh yang terakhir, tokoh modern, yaitu Ray Dalio, mereka semua membuat buku yang awalnya ditujukan sebagai panduan untuk diri sendiri.
Tekanan dan Keraguan di Era Modern.
Kenapa hal ini penting, karena di era modern ini kita banyak distraksi. Contohnya saja ada satu survei yang menarik saya baca itu, menyatakan sekitar 71% CEO mengalami imposter syndrome, yaitu meragukan kemampuan dirinya sendiri[1].
Bayangkan ini sekitar 71% orang-orang dengan level eksekutif ya, orang-orang C-level yang pencapaian-pencapaian kesehariannya dalam dunia kerja itu kan tinggi sekali tapi ternyata terpapar keraguan pada diri sendiri.
Kenapa bisa terjadi? Karena memang era digital ini memaksa kita untuk membandingkan sana-sini dengan orang lain. Kita merasa seperti kita berada dalam perlombaan yang tidak pernah habis ya. “Wah orang-orang sudah pada ke mana, kok saya masih di sini-sini saja?”
Semakin tinggi pencapaian seseorang, semakin dia merasakan semacam keragu-raguan dan merasakan bahwa dirinya itu tidak cukup. Perasaan tertinggal malah biasanya muncul pada orang-orang yang pencapaiannya tinggi.
Belum lagi statistik lainnya di mana 65% karyawan mengalami burnout karena tekanan kerja. Kita hilang arah dalam ritme yang cepat[2].
Menulis Panduan untuk Diri Sendiri
Tiga tokoh yang saya sebutkan tadi, memiliki tulisan/ buku yang sangat terkenal, yang awalnya tulisannya itu ditujukan untuk diri pribadi, bukan menyegaja dibuat untuk publik.
Contoh pertama adalah Ibnu Athaillah as-Sakandari. Seorang ulama dari Iskandaria, tulisan-tulisan beliau adalah renungan-renungan sufistik, renungan-renungan tentang nilai-nilai yang beliau anut. Ditulis pendek-pendek dalam bentuk kata mutia (aforisma). Baru kemudian dihadiahkan pada muridnya. Bukunya terkenal dengan nama Al-Hikam, atau Wisdoms.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Marcus Aurelius seorang Kaisar Romawi. Jurnal beliau “Meditations” yang sangat terkenal itu, awalnya juga bukan untuk orang lain. Melainkan lebih sebagai panduan untuk dirinya sendiri, renungan-renungan tentang apa yang dia alami, tantangan apa yang dia lalui, lalu seperti apa dia melihat tantangan itu, value apa yang dia yakini.
Dan terakhir di era modern ada buku berjudul Principles yang ditulis oleh seorang miliarder Ray Dalio. Dia menulis buku itu karena dia baru saja bangkit dari kebangkrutan dikarenakan over PD, lalu kemudian menjadi lebih bijak setelah dia bangkrut, dia menulis Principles sebagai panduan untuk dirinya sendiri dalam mengambil keputusan.
Jadi tiga tokoh dari tiga latar sejarah yang berbeda-beda, bahkan dari tiga kepercayaan yang berbeda-beda, membuat buku panduan untuk diri pribadi.
Mengkristalisasi Pelajaran
Dalam keseharian pekerjaan, kadang-kadang pelajaran yang kita sudah pernah dapatkan itu kita lupakan. Karena terlalu banyak distraksi, dan hal-hal lain datang silih berganti.
Setelah saya coba mempraktikkan membuat tulisan panduan untuk diri saya sendiri, ternyata pelajaran itu menjadi lebih mudah terkristalisasi. Saya menjadi jelas akan apa yang saya pelajari, value apa yang saya pegang?
Saya teringat saya pernah punya seorang manajer memberikan dua lembar tulisan pada saya, isinya ringkas saja, ’20 Prinsip Leadership’ yang dia pegang. Itu adalah kristalisasi prinsip-prinsip yang dia yakini dan dia praktekkan dalam organisasi.
Tulisan ringkas dan kristal semacam itulah yang kita perlu.
Manfaat Panduan Untuk Diri Sendiri.
Saya merasakan paling tidak ada tiga manfaat:
1) Menghilangkan keraguan (clarity). Kita jadi punya kejelasan value. Kita punya kejelasan apa sih hal yang berharga bagi kita, seperti apa kita memandang sesuatu. Sehingga keraguan kita menjadi hilang.
Saya teringat dulu saya adalah orang yang sangat system oriented. Bagi saya adalah apa-apa itu kita dahulukan sistem. Pendekatan saya adalah pendekatan sistemik. Lalu ternyata bos saya ini menawarkan satu pendekatan yang berbeda, yaitu ‘People above Process’, bahwa orang itu didahulukan di atas proses. Kalau kamu memiliki orang yang tepat, orang itu akan make system works, dia bilang begitu.
Akhirnya saya jadi menangkap, ‘Oh iya ya ada cara pandang yang berbeda ternyata ya’. Cara pandang itulah yang kemudian ditulis sebagai panduan. Bayangkan kalau tidak dirumuskan di dalam satu poin-poin gitu kadang-kadang kita tidak terang apa sih value yang kita anut, sehingga ragu.
2) Melepaskan tekanan (Menjadi otentik). Ketika kita menulis panduan untuk diri kita sendiri, di situ kita biasanya menyadari kelemahan kita apa, kelebihan kita apa (menjadi otentik atau jujur). Seseorang itu baru bisa utuh kalau dia menerima seluruh bagian dirinya, baik lebihnya atau kurangnya. Dengan kita menulis itu kita bisa jadi lebih utuh.
Saya akhirnya menyadari bahwa kita semua memiliki profil yang unik, bahasa kerennya “competitive advantage” otentisitas yang mebuat setiap kita beda dengan orang lain. Cara untuk mengembalikannya salah satunya dengan menulis panduan ini secara jujur. Sehingga kembali ke otentisitas kita masing-masing dan terhindar dari tekanan komparasi yang tidak perlu pada orang lain.
3) Membuat jangkar prioritas. Ketika kita gelisah, saat kita sibuk komparasi dengan orang lain, kita bisa kembali lagi kepada panduan kita pribadi. Dengan begitu kita jadi punya semacam jangkar yang selalu menarik kita kembali ke arah yang benar, ke arah yang seharusnya.
Cara Menulis Panduan
Cara menulisnya tidak usah panjang-panjang. Panduan ini berbeda dengan jurnal. Kalau jurnal itu lebih seperti brainstorming, menulis panjang tanpa memikirkan format. Tapi kalau menulis panduan ini tidak mesti panjang. Boleh jadi cuma sehalaman dua halaman tetapi lebih ke ide utamanya, ide pokoknya.
Ide utama itulah yang nantinya kita jadikan semacam panduan buat diri kita pribadi. Misalnya seperti mantan manajer saya, salah satu panduannya adalah, ‘People above Process’.
Saya juga mulai mencoba mempraktikkan ini, beberapa value yang saya tulis benar-benar, misalnya ‘Ide tidaklah lahir dari ruang kosong’. Hal ini mengingatkan saya bahwa saat saya lagi bengong tidak punya ide, yang harus saya lakukan adalah saya mengumpulkan berbagai data dari pengalaman saya sebelumnya, data orang lain, data histori untuk nanti kemudian insight itu biasanya muncul mengait-ngaitkan antara berbagai data yang saya sudah punya.
Hal-hal seperti itu, inti, dan pendek-pendek, ide-ide utama atau matan kalau istilah Arabnya, kita buat sebagai panduan untuk diri kita pribadi. Tulis saja saat ada prinsip yang kita yakini untuk keseharian, nanti lama-lama bisa jadi satu buku untuk panduan pribadi.
Boleh dicoba, kira-kira apa panduan pribadi yang anda mau tulis?
[1] https://www.kornferry.com/about-us/press/71percent-of-us-ceos-experience-imposter-syndrome-new-korn-ferry-research-finds
[2] https://www.hrdive.com/news/employee-burnout-productivity/703405/
