Bagaimana caranya agar kita bisa melakukan networking tanpa perlu banyak basa-basi? Mengenai ini kita bisa belajar pada Co-Founder Apple, yaitu Steve Wozniak.

Kita sepakat bahwa networking dan terkoneksi dengan banyak orang sangat penting di era sekarang, baik untuk bisnis, karier, maupun dampak sosial. Tidak mungkin memberikan kontribusi hanya untuk diri sendiri.

Masalahnya, networking sering dipahami sebatas bertemu banyak orang, minum kopi, dan menjadi sosok yang sangat mudah bergaul (people person). Singkatnya, pertemanan luas yang diwakili oleh persona seorang ekstrovert. 

Tidak semua orang menikmati proses seperti Itu. Sebagian orang memang dianugerahi bakat alami networking. Saya punya teman yang selalu menciptakan kerumunan, memeriahkan suasana, dan kenal semua orang. Ia pandai berbasa-basi dan selalu menjadi bintang di dalam ruangan. Dia adalah tipe pertama.

Ada sebagian lainnya -termasuk saya tentunya- yang kesulitan untuk melakukan cara seperti itu. Bertemu banyak orang dan berbasa-basi panjang sangat melelahkan dan menguras energi. Saya adalah tipe kedua ini, hehehe.

Bagaimanakah cara networking yang pas untuk tipe kedua ini? 

Saya menemukan jawabannya dalam biografi Steve Wozniak. Wozniak adalah co-founder Apple, sosok introvert yang terobsesi teknologi (geek). Ayahnya seorang insinyur yang mengajarkan filosofi dasar teknologi sejak kecil, filosofi atom, sirkuit, dll. 

Selain penyuka teknologi, Wozniak juga sangat humanis, dia terinspirasi ibunya untuk mengajar dan terinspirasi ayahnya untuk menjadi insinyur.

Momen kuncinya adalah saat ia mendesain Apple-1 yang merupakan komputer personal pertama dengan keyboard dan layar. Dia sangat ingin agar komputer bisa dibawa ke rumah, bukan lagi mesin raksasa untuk militer. Tapi bagaimana caranya? Dia buat sebuah karya, dia buat sketsa pemikirannya, lalu dia merasa harus ada yang melihat karya pemikiran itu.

Sketsa desain itu dia bawa ke Homebrew Computer Club di California tahun 1975, sebuah pertemuan kecil di garasi, pertemuan para penggemar teknologi. Gambar desain itu dia bagikan ke para peserta yang hadir. Peserta yang hadir sangat tertarik, termasuk Steve Jobs. 

Setahun kemudian dia diajak Steve Jobs mendirikan Apple, meski akhirnya beberapa tahun kemudian mereka berpisah jalan karena perbedaan gaya: Wozniak yang humanis versus Jobs yang orientasi bisnis.

Dari kisah ini saya teringat pada dua cara networking yang diwakili dua tokoh ini

Cara Berburu (Hunting)

Ini networking umum yang sering kita tahu, hadir di pesta, aktif menghubungi orang, ketemu sana-sini. Sebagian cara ini diwakili Steve Jobs yang memang senang di kerumunan, membagikan ide besar, dan pandai berjualan.

Cara Berkebun (Farming)

Ini cara kedua. Fokusnya bukan mengejar, tapi membuat karya (diibaratkan kebun atau taman) agar orang tertarik datang. Ibarat menangkap kupu-kupu, orang pertama menangkapnya dengan berlari mengejar, orang kedua sibuk membangun taman indah agar kupu-kupu datang sendiri.

Idealnya kita menguasai keduanya. Namun, karena saya cenderung ke tipe kedua, saya sangat terinspirasi metode berkebun dan membangun karya seperti Wozniak. Ada tiga strategi metode ini yang bisa kita tiru:

1. Menanam (Berkebun Karya)

Artinya, ciptakan karya sendiri. Saya senang menulis, jadi saya bagikan tulisan di blog, LinkedIn, atau kadang-kadang saya buat podcast audionya.

Seperti Wozniak yang fokus mendesain Apple-1. Atau pengrajin pedang zaman dulu yang memajang mahakaryanya di depan rumah, orang yang butuh pedang terbaik akan datang mencarinya.

Saya teringat puluhan tahun lalu saat baru pindah kantor, saya sadar kalah dalam hal basa-basi sosial. Saya hanya fokus pada karya. Tugas atau desain saya kerjakan dengan kualitas terbaik. Hingga suatu hari tanpa sadar ada manajer mengapresiasi dan membagikan karya saya ke rekan lain. Dari karya, menjadi network. Tanpa sadar saya sudah melakukannya, menanam karya.

2. Memilih Tanah yang Subur

Pastikan menyemai benih karya di tempat tepat. Wozniak sadar ia bukan tipe sales yang agresif, jadi ia membawa karyanya ke Homebrew Computer Club, komunitas yang paling pas.

Di era digital sekarang ini, setiap platform punya audiensnya. Tulisan saya mungkin sepi di Facebook, tapi ramai di LinkedIn karena relevan dengan dunia kerja. Tiap karya ternyata punya tanah suburnya masing-masing. Bisa di TikTok, forum akademis, atau lainnya. Kita harus menemukan tanah yang tepat untuk karya kita.

3. Beramal (Membagikan Secara Gratis)

Bagikan karya secara cuma-cuma. Wozniak tidak memikirkan paten, malah dia membagikan desainnya karena ingin semua orang punya komputer. Kebaikan ini justru mempertemukannya dengan Steve Jobs yang melihat visi bisnisnya.

Itulah tiga strategi networking ala Steve Wozniak. Tidak ada metode yang paling benar, yang ada hanya metode yang paling pas dengan diri kita. 

Metoda mana yang pas buat anda?


Tinggalkan komentar