
Pernahkah saat anak Anda meminta dibelikan sepeda, Anda malah menyuruhnya membuat proposal?
Kejadian lucu sekaligus ironis ini saya dengar di sebuah podcast. Tentang seorang CEO ternama di Malaysia, Tan Sri Zainal Abidin (mantan petinggi Perodua dan Proton). Suatu hari, beliau pulang ke rumah dalam keadaan lelah dan pikirannya penuh dengan urusan pekerjaan. Saat anaknya datang meminta sepeda, saking fokusnya beliau dengan mode kerja, beliau spontan menjawab, “Kamu buat proposalnya dulu.”
Beliau baru tersadar beberapa waktu kemudian saat istrinya datang dan bertanya, “Abang tahu apa yang Abang ucapkan ke anak tadi? Abang suruh anak bikin proposal!?”
Cerita itu kembali terngiang saat saya sedang duduk di pinggiran taman dekat stasiun MRT pagi ini.
Sebelum sampai ke kantor, saya sengaja duduk dulu, membeli kopi, dan mengamati sekeliling. Saya melihat orang-orang berlalu-lalang dengan cepat, dikejar oleh kesibukan masing-masing. Manusia terlihat seperti terapung-apung, di arus sungai kehidupan yang begitu deras.
Belakangan ini, saya membiasakan diri untuk mampir sejenak sebelum sampai ke kantor atau sebelum masuk ke rumah. Saya merasakan efek yang sangat menenangkan. Momen jeda sebagai kalibrasi agar saya tidak terlalu larut dan hanyut dalam kesibukan.
Di pagi hari sebelum masuk kantor, saya manfaatkan waktu ini untuk menyatukan diri (self-collecting). Memfokuskan poin-poin besar apa saja yang harus saya selesaikan hari ini. Tidak perlu visi panjang, cukup target hari ini saja.
Begitu juga saat pulang. Saat duduk di MRT atau bus, saya merefleksikan apa yang sudah dikerjakan dan insight apa yang didapat. Lalu, saya mencatat hal-hal yang pending di ponsel. Agar memarkir semua kepusingan itu di tempat lain selain di kepala saya.
Saya mengingatkan diri untuk “melepas jubah kantor” dan mengenakan “jubah keluarga”, baju seorang ayah.
Hal ini ternyata sangat penting. Setiap hari kita berhadapan dengan berbagai tugas beragam konteks. Kadang jadi manajer, kadang jadi teman sejawat, kadang bawahan, kadang memarahi vendor, kadang melayani klien. Semua mengharuskan kita memakai topeng persona berbeda-beda.
Tanpa jeda, kita rawan kehilangan jati diri. Kita bisa lupa siapa sebenarnya kita. Seperti kisah CEO tadi yang kesulitan melepas “baju kantor”-nya saat di rumah, sehingga tanpa sadar memperlakukan anaknya seperti karyawan dan meminta anaknya membuat proposal.
Saya teringat sebuah hadis di mana Rasulullah SAW pernah menyarankan para sahabat sepulang dari perjalanan jauh untuk tidak buru-buru masuk rumah. Beliau menganjurkan untuk jeda dulu, membersihkan diri, atau sholat di masjid terdekat. Dalam pemahaman saya, hal itu berguna agar masuk ke dalam ruang transisi untuk menyatukan kembali diri yang “terserak berkeping-keping” selama perjalanan. Dan hadir utuh.
Dalam istilah modern ruang transisi ini disebut third space.
Space pertama adalah rumah, space kedua adalah kantor, Third Space adalah ruang refleksi di antaranya, untuk momen hening melepas atribut-atribut yang tak perlu agar bisa hadir utuh sebagai diri kita pribadi, di kantor memakai persona yang mana dan di rumah memakai persona yang mana.
Agar tidak menyuruh anak membuat proposal sepeda.
