
Kenapa kadang-kadang kita itu banyak membaca, atau banyak ikut pelatihan (course), tapi malah “mbulet”? Kenapa bisa begitu? Dan bagaimana cara kita mengatasinya?
Kita sering melihat kampanye di YouTube atau media sosial untuk selalu membaca buku. Misalnya, menargetkan baca satu buku per minggu, atau minimal satu buku per bulan. Ada juga yang tiap tiga hari menamatkan satu buku. Atau ada yang selalu ikut course, sampai segambreng course yang dia ikuti.
Tapi kadang-kadang, kita sudah banyak membaca dan banyak ikut course, malah merasa mbulet. Malah merasa kayak kurang berkembang, kok gini-gini saja? Atau malah kadang-kadang buku menjadi tumpukan saja.
Ada istilahnya untuk ini, yaitu The Collector’s Fallacy. Sebuah kesalahan berpikir di mana kita mengira bahwa mengoleksi buku atau course adalah sebuah kegiatan produktif, padahal hanya menumpuk informasi.
Dulu saya juga terjebak pada kekeliruan serupa. Setiap kali masuk toko buku saya selalu mengoleksi buku apa yang lagi best seller. Supaya tidak ketinggalan. Dan kebanyakan—karena belum tahu bagaimana sebaiknya—buku saya juga numpuk berdebu saja. Sekadar dopamin intelektual.
Back to Basic
Saya teringat untuk kembali menulis ini, dipicu oleh tulisan Naval Ravikant dalam The Almanack of Naval Ravikant.
Kita tahu, Naval ini billionaire-nya Silicon Valley. Dia pintar banget, menceritakan tentang keuangan dan kebahagiaan dengan sudut pandang filosofis. Singkat cerita, ada yang bertanya kepada dia di Twitter tentang bagaimana cara dia belajar.
Jawabannya simpel banget: “Back to Basic.”
Dia selalu mengupayakan belajar apa saja untuk kembali kepada hal-hal yang fundamental. Karena menurut dia, basic is everything. Ketika membaca, saya mengamini sekali perkataan Naval Ravikant itu.
Kenapa basic itu penting? Karena dari basic akan bisa berkembang menjadi berbagai bahasan.
Saya beri contoh dari hobi saya, yaitu membaca buku self-development. Dulu kalau beli buku di Gramedia atau Kinokuniya, buku best seller di depan itu pasti saya beli dan baca. Saking seringnya baca buku yang tipenya mirip-mirip, akhirnya saya melihat: “Eh, buku ini sebenarnya intinya sama saja, tapi dibungkus dengan bungkus yang berbeda-beda.”
Topik yang sama, tapi dibungkus dengan refleksi keseharian, dibungkus dengan data terbaru, atau dibungkus dengan pengalaman yang penulis lihat. Tapi ide dasarnya sama.
Yang berbeda hanya “bajunya”, idenya sama. Ide fundamentalnya sama. Ide basic-nya sama.
Musashi: From One Thing, Know Ten Thousand Things
Bahasan ini kembali mengingatkan saya pada Miyamoto Musashi, samurai favorit saya. Dalam bukunya The Book of Five Rings, dia mengatakan, “From one thing, know ten thousand things.”
Dari satu hal, kita bisa mengetahui sepuluh ribu hal. Kalau kita sudah menguasai satu hal itu secara benar-benar, kita menguasai prinsip fundamentalnya. Kalau prinsip fundamental dari suatu hal itu kita sudah tahu, kita lihat hal lain atau ilmu-ilmu lain, itu ternyata mirip-mirip.
Musashi langsung memberi contoh. Sebagai seorang samurai yang terbiasa di medan perang, selain jago berpedang, dia juga suka ilmu pertukangan. Kata Musashi, membangun rumah itu ibarat medan perang.
- Ada Jenderalnya, yaitu Mandor tukangnya.
- Ada blueprint rencananya, seperti strategi perang.
- Ada panglimanya.
Dia mengatakan juga, dia menerapkan ilmu pedang untuk pertukangan. Memahat kayu itu sebenarnya mirip dengan prinsip ilmu pedang.
Intinya, karena Musashi paham banget ilmu pedang, maka dia bisa melihat prinsip fundamental ilmu pedang itu bisa dipakai di dalam ilmu-ilmu lainnya (seperti membangun rumah).
Sama dengan Naval Ravikant tadi. Dia selalu kembali ke basic. Dia tidak terlalu terpacu dengan “ada buku baru, baca lagi”. Tapi dia lihat, apa sih prinsip dasarnya dari buku ini? Karena saat kita sudah mengerti hal ini, yang kita cari adalah prinsip fundamentalnya.
3 Strategi Agar Belajar Tidak “Mbulet”
Jadi, strateginya apa?
- Punya Jangkar (Sesuai Ketertarikan Alami Kita)
Kita harus betul-betul tahu apa yang kita suka, apa yang pengen kita dalami. Bagusnya kalau itu sesuai dengan ketertarikan alami kita (passion), atau kalau bahasa Islamnya Syakilah. Itu satu jangkar kita.
Seperti seorang spesialis yang punya satu keahlian dasar. Hal yang kita suka dan pelajari mendalam. Contohnya seperti Musashi, spesialisasinya di ilmu pedang. Lalu fundamental ilmu pedang bisa dia terapkan dalam ilmu pertukangan atau strategi bangun rumah.
- Selami Ide Dasarnya, Bukan Sekadar Bungkusnya
Untuk meluaskan wawasan, boleh kita baca buku-buku pop atau buku best seller untuk mencari ide tentang apa yang baru. Tetapi, jangan berhenti di situ. Setelah kita baca, kita lihat ide dasarnya apa.
Misal baca Atomic Habits. Apa ide dasarnya? Oh, kebiasaan itu kalau ditumpuk meskipun kecil ternyata punya pengaruh gede. Ternyata fondamen dasarnya adalah Behavioral Psychology.
Oke, jadi intinya ini. Behavioral Psychology ini bisa dikemas dengan berbagai macam “baju”, bisa jadi ratusan buku kalau dikembangin. Jadi, baca buku pop, tapi selami ide dasarnya.
- Fokus ke Output dan Kaitkan dengan Praktek
Setelah kita baca, maka kita tulis atau kita share. Karena kalau tidak, dia jadi tidak berguna. Sewaktu kita menulis dan kita share, kita terdorong untuk men-breakdown apa sih ide mendasar dari sebuah buku ini.
Dan yang paling penting, selalu kaitkan buku yang kita baca dengan kepentingan praktis yang mau kita kerjakan.
Kalau saya sekarang baca buku biasanya pendorongnya dua. Pertama, kalau yang didorong oleh ketertarikan murni, memang saya cari bukunya spesifik minat saya.
Yang kedua, pendorongnya biasanya kebutuhan. Ada kebutuhan kantor tentang apa? Saya cari bukunya, sehingga ilmunya bisa praktikal. Saya cari buku yang sesuai kebutuhan saya di kantor, bukunya apa, dan kira-kira di bab berapa. Sehingga fokus dan langsung ke tujuan.
Saya baca cepat (skim), lihat bab sekian. Apa ide dasarnya? Oh gini maksudnya. Oke, lalu saya mencari ide dasarnya sehingga nanti bisa diterapkan dalam berbagai-bagai konteks.
Tentu strategi ini tidak applicable di semua bidang. Bidang-bidang tertentu yang sangat teratur dan butuh keahlian teknis mendalam seperti dokter tentu tidak bisa diselesaikan dengan cara generalis seperti ini. Tetapi seorang dokter pun, setelah menguasai bidangnya, bisa memperluas wawasan ke samping dengan ide yang sama. Melihat bagaimana fundamental ilmu kedokteran bisa dipakai dalam manajemen, misalnya.
Semoga bermanfaat.
