
Saya tertidur lepas magrib, dan terbangun dini hari jam tiga. Lepas salat isya insting mengatakan ada hal penting yang harus saya kerjakan. Saya membuka laptop, membalas email urgent, dan tiba-tiba teringat bahasan “Benteng Mental”. Bagaimana strategi tokoh-tokoh besar untuk bertahan di tengah tekanan?
Ceritanya bermula saat kemarin Kuala Lumpur libur. Saya, anak-anak, dan istri pergi ke toko buku. Pulang dari sana saya merasa begitu letih sampai ketiduran setelah Maghrib. Tiba-tiba, jam 3 dini hari saya terbangun. Teringat belum salat Isya.
Selepas salat saya membatin, “Wah, ini kayanya ada email urgent.” Saya buka laptop malam-malam, balas satu-dua email penting lalu laptop saya tutup.
Tapi, kegelisahan itu tidak bisa hilang. Masih banyak yang harus dikerjakan. Karena tidak bisa hilang, akhirnya saya ambil kertas. Saya coret-coret di kertas itu. Saya tulis poin-poin besarnya, hal-hal yang saya kepikiran waktu itu. Saya brainstorming di kertas, semuanya saya tumpahkan di situ.
Mungkin saya melakukan hal itu secara insting saja karena kebiasaan dari dulu. Tapi ternyata banyak tokoh besar melakukannya.
Benteng Mental
Setelah saya baca-baca, rupanya kebiasaan itu juga dilakukan para tokoh besar. Saya ambil contoh pertama yaitu Bapak Esai Modern, Michel de Montaigne. Seorang bangsawan Prancis di masa Renaissance yang memiliki kebiasaan menulis artikel panjang tentang kesehariannya dan renungan-renungannya. Dia adalah pelopor esai modern dengan gaya reflektif.
Ada satu kutipan menarik dari dia, “We must reserve a back shop, wholly our own, entirely free, wherein to establish our true liberty and our principal retreat and solitude.”
Kalau dibahasa-Indonesiakan secara bebas, “Kita harus menyisihkan sebuah “toko belakang” (atau halaman belakang) yang sepenuhnya milik kita sendiri dan merdeka. Di mana kita membangun kebebasan sejati dan tempat perlindungan utama kita”.
“Toko belakang” ini maksudnya seolah-olah adalah Benteng Mental. Di mana kita betul-betul bisa menjadi diri sendiri. Membangun “Benteng Mental” dengan menuliskan kegelisahan kita secara reflektif, agar mendapatkan insight dan hikmah, juga rencana aksi.
Dalam keseharian, kita ini kan kebanyakan pakai topeng. Topeng manajer, topeng supervisor, atau topeng bawahan yang siap siaga. Kita berusaha tampil perfect, tanpa celah, bulletproof. Coba lihat LinkedIn, isinya seperti pajangan prestasi yang kadang kalau kita buka malah bikin nge-down. Seolah semua orang luar biasa hebat dan bulletproof.
Padahal, semua orang pasti mengalami kegelisahan dan kegamangan hanya saja tentu tidak dimunculkan. Maka perlu kita belajar membuat “Benteng Mental” itu.
Menarik bahwa ada tokoh besar satu lagi yang juga sering menulis tentang keseharian dan kegelisahannya. Tokoh itu adalah Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi. Seorang kaisar kan identik dengan kekuasaan dan kekuatan. Tapi coba kita lihat apa yang dia ucapkan dalam jurnalnya, “Tidak ada tempat yang lebih tenang atau lebih bebas dari masalah bagi seseorang untuk beristirahat, selain ke dalam jiwanya sendiri.”
Maksudnya, saat dia menyediakan jenak untuk sendiri, lalu menulis secara jujur tentang apa yang dia alami, itulah tempat baginya untuk tenang dan bebas. Jalan pulang ke diri sendiri. Begitulah Marcus Aurelius menulis di pinggir sungai, di dalam tenda perang, setiap hari sebagai Benteng Mental.
Menulis Dengan Otentik
Merenungi fakta itu, ada pertanyaan yang muncul. Menulis seperti apa yang bikin kita lega dan bisa menjadi benteng mental? Apakah semua jenis menulis?
Kalau dulu kita kenal diary, itu kan hanya menulis peristiwa (“Hari ini saya beli martabak”). Itu tidak punya daya ubah. Menulis yang bisa menjadi benteng mental adalah menulis dengan otentik dan jujur. Menampilkan diri kita apa adanya.
Contohnya Imam Al-Ghazali. Saat menulis otobiografinya, dia jujur sekali. Dia pernah bilang dalam suatu ketika dia ingin mengajar, tapi lidahnya terkunci saking dia merasa dirinya fake. Dia bilang, “Aku memaksakan diri untuk mengajar demi menyenangkan pengikutku, tetapi lidahku tidak mau mengucapkan satu kata pun.”
Bayangkan, orang sebesar Imam Al-Ghazali menuliskan sisi lemah dirinya secara jujur. Dengan begitu, dia menjadi betul-betul kenal kepada dirinya, menjadi lebih “pulang” ke diri sendiri. Itu yang harus kita lakukan. Selama ini kita sudah tampil dengan segala “ke-perfect-an” kita, saatnya di dalam tulisan, kita jujur melihat apa yang rapuh pada diri kita.
Kedua, menulis dengan reflektif. Reflektif itu kita menulis tidak hanya peristiwa, tapi apa impact-nya kepada emosi kita. Lalu kita tinjau ulang, benar nggak cara pandang saya begini? Ada nggak alternatif pandangan yang lebih positif? Hal apa yang bisa saya lakukan?
Jadi, dari kegelisahan, dia berubah menjadi actionable item.
Autentisitas Mengundang Resonansi
Saya sendiri punya kegelisahan waktu awal menulis blog. Dulu saya sempat menulis blog anonim isinya full spiritualitas dan meledak. Tapi karena anonim, saya merasa ingin terkoneksi sebagai diri sendiri.
Saat saya mau menulis sebagai “Rio”, saya bingung. Saya ini profesional kerja di Migas, sekarang Supply Chain Manager. Apakah saya harus tulis semua tentang Supply Chain saja?
Tapi secara jujur, ketertarikan diri saya tidak bisa lepas dari self-development, systemic thinking, dan spiritualitas. Itu adalah otentik ada pada diri saya. Lama saya coba menahannya, tapi akhirnya saya menyadari saya harus kembali kepada diri saya yang otentik. Temanya bisa apa saja, tapi alat bedahnya harus dari kacamata seorang Rio.
Ada buku “The Almanack of Naval Ravikant” yang menggambarkan hal sama. Naval ini superstar-nya Silicon Valley, miliarder start-up. Isinya semua tentang bisnis. Tapi dia merasa ada hal dalam dirinya yang mesti disampaikan, kecintaannya pada filosofi dan makna hidup.
Saat dia nge-tweet soal filosofi, dia takut. “Apaan sih gue? Businessman kok ngetweet gini? Nanti malah gak ada investor.” Tapi dia tidak bisa menolak panggilan jiwanya. Dia tetap tulis apa yang dia kepikiran, meskipun dia memakai jubah seorang pebisnis.
Ternyata yang terjadi sebaliknya. Investor yang datang begitu banyak dan malah meledak. Kenapa? Karena orang-orang lebih senang terhubung dengan orang yang otentik. Bukan yang penuh topeng, bukan yang kelihatan super perfect, tetapi yang kelihatan orisinil dan jujur dengan dirinya sendiri.
Mulai Menulis
Jadi, untuk yang penuh dengan problem keseharian di kantor di mana saja. Sempatkan diri untuk menulis. Itu salah satu cara membangun benteng mental supaya kita tetap waras di tengah tekanan pekerjaan.
Tulislah secara jujur (Otentik). Tidak ada gunanya menulis kalau tidak jujur. Itu tidak akan menuntun kita pulang ke dalam diri. Kita akan kehilangan diri kita di tengah riuh rendahnya keseharian kalau kita tidak punya momen jujur ini.
Tulislah dengan reflektif. Ubah kegelisahan menjadi insight dan actionable item.
Dan terakhir, setelah menulis panjang dan agak PD, mungkin bisa dibagikan. Bagikan bukan untuk mendulang likes, tapi untuk menemukan jiwa-jiwa yang resonan. Untuk menemukan orang-orang yang juga bisa terkoneksi dengan frekuensi kita dan saling belajar.
Untuk rekan-rekan yang merasa kehilangan dirinya di tengah hiruk pikuk pekerjaan, cobalah menulis. Coba tulis yang jujur, dan lihat nanti bagaimana tulisan yang jujur itu membuat kita menemukan kembali diri kita.
Referensi Bacaan:
1. The Almanack of Naval Ravikant
2. Meditations oleh Marcus Aurelius
3. The Complete Essays oleh Michel de Montaigne.
4. Al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan) oleh Imam Al-Ghazali.
