Di suatu weekend istri saya bertanya, “Pa, kira-kira apa jurusan kuliah yang tepat buat anak kita nanti? Mengingat kondisi zaman sekarang sudah maju banget, perubahan terjadi di mana-mana, dan kompetisi semakin ketat. Apa sih jurusan yang paling tepat?”

Kami berdiskusi panjang. Muncul ide-ide, “Mungkin harus masuk Engineering yang berhubungan dengan luar angkasa,” atau “Biologi Molekuler!” Macam-macam jurusan disebutkan semacam riset informal. Mencari mana yang tepat.

Namun, setelah saya membaca ulang literatur pemikir modern seperti Naval Ravikant, Nassim Taleb, Daniel H. Pink, juga literatur klasik Imam Al-Ghazali dan Rumi,  akhirnya saya  menyadari satu hal. Pertanyaan saya di awal itu keliru.

Keterampilan Menjadi Cepat Usang

Logika bertaruh memilih jurusan apa, itu kurang pas. Kenapa? Karena konteks dunia sekarang itu berubah terlalu cepat sehingga keahlian cepat sekali menjadi usang. Istilahnya “Skills Decay”. 

Contohnya dulu, saat awal belajar blogging, saya mempelajari cara boosting YouTube dan optimasi SEO Google. Beberapa tahun kemudian ilmu SEO Google sudah tidak terlalu relevan. Orang-orang sekarang mencari informasi tidak lagi lewat Google, tapi lewat Perplexity, Gemini, atau ChatGPT. 

Contoh lain, fotografi. Dulu saya belajar teknik masking foto agar subjeknya cerah, dulu itu complicated tapi sekarang masking bisa dilakukan sekerlip mata pakai aplikasi. Bahkan latar belakangnya bisa diganti semau kita dengan Generative AI.

Termasuk coding. Anak saya belajar coding dan sudah bisa membuat web sederhana dibantu ChatGPT. Rasasnya kemampuan teknis di zaman sekarang hanya bertahan 3-4 tahun, setelah itu ia menjadi usang. 

Jadi kalau skill bisa usang dalam sekejap mata, apa yang harus kita lakukan?

Mengenal Diri

Ada cerita yang relevan dengan bahasan ini, ada dua orang yang menginspirasi saya, anggaplah mereka mentor virtual saya.

Kisah pertama Mr. A (Penjembatan Ide, Pembaca Kompleksitas)

Sebut saja Mr. A, mantan kolega saya di kantor dulu. Seorang Area Manager di Balikpapan dengan latar belakang operasional Migas yang kuat. Masih muda, kemampuan manajerial bagus, dan artikulasi gagasan-nya sangat baik.

Tiba-tiba, dia mengambil keputusan untuk resign di tengah kegemilangan karirnya. Banyak orang bingung. Setelah itu dia mengambil S2 Public Policy. Sekarang, dia shifting menjadi Public Policy Analyst yang fokus pada transisi energi di Indonesia.

Ternyata, saat mengambil S2 itu dia menyadari ketertarikan natural dirinya, membaca kompleksitas, lalu menjadi jembatan untuk membahasakan kompleksitas itu. Menyederhanakan kebijakan energi kepada berbagai stakeholder. 

Di sini dia mengenal dirinya sebagai orang yang bisa menjadi jembatan dan menyederhanakan. Lalu ketertarikan natural itu menyebabkan dia bisa shifting ke berbagai industri atau berganti-ganti peran, tapi pada intinya dirinya tetap sama. Seorang penjembatan ide, penyederhana kompleksitas.

Kisah kedua Mr. B (Penyederhana Kompleksitas, Pengajar)

Orang berikutnya yang menginspirasi saya sebut saja Mr. B. Dia adalah begawan training di Indonesia. Dulunya mahasiswa ITB, lalu drop out, dia tipe orang yang senang belajar dan “ngulik”.

Kemampuannya adalah mengubah konsep-konsep rumit menjadi hal sederhana dan applicable (how-to) dan mengajarkan itu ke orang-orang. Kemampuan itu membuatnya bisa mengenakan berbagai-bagai peran. Kadang dia mengajar silat, kadang mengajar bisnis, kadang ngasih training di BUMN. Macam-macam.

Semua itu karena dimulai dari pengenalan diri. Tahu apa fitur unik yang ada di dirinya. Dengan bekal itu, dia bisa berganti-ganti peran. Bajunya boleh ganti-ganti, tapi dirinya (“orangnya”) tetap sama.

Mengenal Diri ini penting sekali. Di literatur modern sering disebut berbagai-bagai istilah yang mirip-mirip: Purpose, Passion, atau Ikigai. Di Islam istilah ini ada, disebut Syakilah atau Fitrah.

Ide besarnya adalah: Setiap manusia sudah ditanamkan oleh Tuhan sebuah fitur bawaan atau kecenderungan unik. Sehingga dia bisa berkarya lewat kecenderungan itu.

Kecenderungan unik ini kalau diejawantahkan, membuat seseorang akan merasa utuh (fulfill) dan bermakna. 

Cara Mengenal Diri

Mengenali panggilan unik ini bukan seperti menemukan dompet di pinggir jalan, melainkan lebih mirip sesuatu yang harus kita explore terus-menerus dan kita rawat seperti tanaman atau seperti memanaskan air.

Mengutip Gichin Funakoshi, pendiri Karate modern, ini ibarat “Memanaskan air dengan api sedang yang terus-menerus.” Kalau apinya dimatikan, airnya dingin lagi. Kalau dipanaskan terus, dia akan selalu hangat.

Cara mengenalinya bagaimana? Pertama banyak-banyak eksplorasi, lalu perhatikan 3 indikator sederhana:

Kita dimudahkan. Kita merasa dimudahkan melakukan sesuatu sesuai peruntukannya. Menurut orang lain sulit, kok kita merasa bisa mengutak-ngatiknya dengan lancar? Idenya muncul terus.

Penasaran Yang Terus Menerus. Kita dianugerahi rasa penasaran yang mendalam. Malam-malam sebelum tidur, kita kepikiran topik itu terus? Kita ingin mengetahui hal itu lebih dalam

Ketahanan Terhadap Beban. Kita bersedia menanggung beban kesulitan untuk sesuatu yang kita cintai itu. Mungkin jalannya berat dan capek, tapi batin kita merasa utuh.

Pengenalan Diri, Transferrable Skills dan Dunia Industri. 

Jadi ternyata bukan masalah jurusannya, atau topik apa. Melainkan kita perlu mengenali apa panggilan unik diri kita (atau anak kita misalnya).

Langkah kedua, kita harus menguasai Transferable Skills. Skill yang membuat kita survive saat pindah-pindah peranan. Bukan hanya soft skill, tapi ilmu-ilmu fundamental yang bisa dipakai di tempat manapun untuk memuluskan kontribusi sesuai panggilan diri kita. Ini adalah senjata yang membantu kita jika kita dipaksa pindah-pindah posisi oleh keadaan zaman.

Beberapa skill fundamental itu antara lain:

1.  Kemampuan logika / reasoning: Kemampuan critical thinking, mengambil keputusan, mengetahui akar masalah, dan berpikir sistemik.

2.  Kemampuan Emosional: Kemampuan empati. Kita tahu hal mendasar kenapa manusia melakukan sesuatu. Dengan ini kita punya awareness dan wisdom.

3.  Kemampuan Numerasi: Kemampuan membaca angka atau bisnis sederhana. Pengetahuan fundamental seperti membaca “Tiga Laporan Keuangan”. Bahasa universal di semua industri. Kemampuan analisis angka.

4.  Kemampuan Artikulasi: Kemampuan menyampaikan pendapat, menuliskannya, menstrukturkannya, sehingga orang lain mengerti apa yang kita sampaikan. Baik secara verbal maupun tulisan.

Jadi, hari ini saya bukan lagi memikirkan jurusan apa yang cocok buat anak saya. Atau untuk diri pribadi pun sama, saya tidak lagi memikirkan apa pekerjaan yang pas untuk saya sampai akhir hayat saya? Melainkan yang lebih penting adalah dimulai dengan mengenali siapa kita. Apa profil unik diri kita? Jurusannya nanti atau pekerjaannya bisa apa saja sesuai minat.

Saat kita sudah tahu itu, lalu diperdalam dengan skill-skill fundamental tadi, maka kita memiliki transferrable skill yang bisa dipakaikan baju apa saja.

Itulah kenapa pengetahuan tentang “Siapa Kita” ternyata jauh lebih penting daripada “Apa Jabatan Kita”. 

Posisi dan fungsi kita bisa bahkan besar kemungkinan dipaksa bergonta-ganti oleh zaman yang cepat ini. Tetapi identitas kita akan tetap sama. Kita tetap utuh.

Tinggalkan komentar