
Siapa sangka, duduk di bawah pohon rindang sembari menonton anak saya latihan Wushu pagi ini mengingatkan saya kembali tentang bahasan klasik “bagaimana mengenali panggilan dalam hidup (calling)?”
Bahasan ini terasa relevan kembali di zaman sekarang karena kita sering merasa salah tempat kerja, salah jurusan, atau merasa stuck dan melihat rumput tetangga lebih hijau. Seringkali muncul pertanyaan, “Apakah saya sudah ada pada tempat yang benar?”
Pemahaman mengenai “panggilan jiwa”, purpose, atau passion ini saya rasa penting. Tanpa pemahaman ini, kita sering merasa tersesat. Merasa seperti bukan ini yang kita mau. Dan hal ini jamak dialami kita semua dalam dunia industri, maupun dunia kerja pada umumnya.
Bela Diri dan Filosofi Pembelajar Seumur Hidup
Ada rasa gembira dalam diri saya mengamati anak saya menyukai bela diri. Saya menduga saya sedikit punya kontribusi “meracuni” dia dengan kegandrungan ini, karena saya juga menyukai beladiri.
Sebagai pekerja kantoran, bela diri yang saya sukai tentu bukan yang sangat sporty atau pertarungan ala anak muda. Akan tetapi lebih kepada disiplin mental dan filosofi hidup. Barangkali karena sejak kecil saya suka menonton film Jet Li dan membaca komik Kungfu Kenji, maka saya menyukai bela diri.
Walhasil, kecintaan akan bela diri ini tertular pada anak saya. Kami mencari tempat latihan di Kuala Lumpur untuk mengisi waktu luangnya. Kebetulan dia juga sejak lama ingin berlatih meneruskan ekstrakurikuler Wushu yang dulu pernah dipelajari sejak SD. Dan seperti itulah, setiap Minggu pagi, saya dan istri menemani anak-anak berlatih di taman kota.
Melihat anak saya diperbaiki bentuk kuda-kudanya, mengulang-ulang “form” yang sama secara terus menerus berminggu-minggu dengan perbaikan sedikit demi sedikit, mengingatkan saya pada satu jawaban penting tentang panggilan jiwa tadi.
Selama ini, banyak dari kita keliru. Kita mengira bahwa “panggilan hidup” adalah sesuatu yang kita temukan, seperti menemukan dompet yang jatuh di jalan. Kita berharap sekali nemu, lalu selesai.
Padahal, seperti proses latihan ini, panggilan hidup itu lebih seperti tanaman yang harus terus menerus dipupuk dan disirami. Sebuah proses berkelanjutan.
Ada sebuah ungkapan dari Bapak Karate Modern, Gichin Funakoshi, yang sangat pas menggambarkan ini. Beliau berkata bahwa bela diri itu seumpama air panas, yang jika tidak dipanaskan terus menerus, ia akan kehilangan kehangatannya dan menjadi dingin kembali.
Begitu juga panggilan hidup dan passion dalam karir kita. Ia bukan benda mati yang disimpan, tapi air yang harus terus dipanaskan.
Eksplorasi Sebelum Memanaskan
Jika kita anggap “panggilan jiwa” itu adalah proses memanaskan air dengan api terus menerus, maka satu hal yang harus kita lakukan di awal adalah Banyak Eksplorasi. Menemukan saripati airnya.
Dalam bukunya Range, David Epstein mengajukan gagasan bahwa alih-alih spesialisasi terlalu dini, kita seharusnya mencoba banyak hal terlebih dahulu (sampling period). Karena “panggilan jiwa” kita itu kadang-kadang baru terdeteksi setelah kita mencoba berbagai peran.
Saya teringat karir saya sendiri. Awalnya saya adalah seorang Engineer. Saya mencoba berbagai penempatan, sampai kemudian seorang Manager melihat saya sebagai seseorang yang punya ketertarikan alami terhadap “proses”. Saya pun ditawarkan menjadi Quality Leader/Manager.
Pada awal karir, saya bahkan tak paham benar apa yang dikerjakan seorang Quality Lead. Namun, saya memberanikan diri mencoba. Barulah setelah tercebur, saya menemukan bahwa saya menyukainya. Ada bagian dalam keseharian Quality Lead yang saya sukai.
Dari proses eksplorasi itulah saya menyadari bahwa saya punya ketertarikan alami terhadap cara berpikir sistemik (system thinking) dan berbasis proses.
Dari Quality, akhirnya saya pindah ke dunia Supply Chain, di mana ketertarikan terhadap proses dan jejaring menemukan ruangnya untuk eksplorasi lebih dalam.
Ketertarikannya sama (Sistem/Proses), tetapi dia bisa berganti-ganti “baju peran”.
Saripati Air Yang Tepat
Setelah eksplorasi, saatnya kita “memanaskan airnya” seperti kata Gichin Funakoshi, merawat ketertarikan itu sampai akhir hayat.
Berikut ada beberapa indikator yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, saya sederhanakan supaya tidak terlalu bertele-tele.
Untuk memudahkan kita memilah mana yang merupakan panggilan jiwa kita yang sebenarnya:
Lihat Apa Yang Dimudahkan Bagi Kita.
Saat sesuatu itu adalah panggilan jiwa kita, biasanya Tuhan akan memudahkan hal itu. Sesuatu yang bagi orang lain terlihat rumit, tapi kita memiliki kemampuan natural untuk mengurainya. Boleh jadi tetap melelahkan, tapi ide dan solusi seolah selalu datang kepada kita.
Lihat Yang Memunculkan Rasa Ingin Tahu
Kita akan terdorong untuk selalu ingin tahu mengenai hal itu. Seperti menguras sumur yang tidak pernah kering, kita akan selalu belajar, membaca, atau meriset hal tersebut bukan karena disuruh, tapi karena ketertarikan alami.
Yang Kesulitannya Bisa Kita Sabari
Saat sesuatu itu adalah panggilan jiwa kita, maka kita bersedia menanggung kesulitan dalam mengerjakannya. Seperti menahan sakitnya latihan kuda-kuda untuk memperbaiki teknik kita sendiri, kita bersedia lelah untuk sesuatu yang membuat kita merasa fulfilled (utuh) dan bermakna.
Panggilan jiwa itu lebih berupa saripati dari sesuatu yang kita benar-benar sukai dan hargai.
Bajunya bisa bermacam-macam. Kita bisa memakai baju Engineer, baju Manager, baju Supervisor, atau baju industri yang berbeda-beda. Selama kita sudah mengenali saripatinya, maka tidak masalah berganti-ganti baju. Asalkan dengan itu kita bisa berkontribusi bagi sekeliling kita.
referensi
Funakoshi, G. (1973). Karate-Do Kyohan: The Master Text. Kodansha International
Mohamed, Y. (1986). The Islamic Conception of Human Nature with Special Reference to the Development of an Islamic Psychology [Master’s Dissertation]
