
Sekitar 15 tahun yang lalu sewaktu saya masih bekerja sebagai engineer di pengeboran migas, ada satu kisah klasik yang sering jadi becandaan kami waktu ngopi. Yaitu kisah ributnya dua engineer senior. Yang menarik adalah kisah ini puluhan tahun kemudian menyadarkan saya suatu prinsip managerial yang luar biasa penting untuk tidak over analysis.
Tokoh dalam cerita ini adalah Mr. A dan Mr. B. Dua orang senior.
Mr. A adalah seorang mantan guru, punya kecenderungan sangat analitis. Kalau dia membuat sebuah spreadsheet Excel, kami sebagai junior pasti berebutan mengkopi excelnya saking rapihnya dan telitinya.
Kedua, Mister B. Ini kebalikannya. Dia tipe supervisor lapangan (field supervisor) yang punya sense of execution luar biasa. Dia mengandalkan pengalaman, intuisi, dan kecepatan bertindak. Dia juga analitis, tetapi lebih pada kemampuan eksekusinya.
Suatu hari, di anjungan pengeboran, ada tugas mendesak. Harus segera meracik drilling fluids (lumpur pengeboran) sekian ribu barrel. Butuh cepat.
Saat coffee break, Mister B sudah siap-siap mau eksekusi. “Ayo, kita mainkan sekarang!” katanya.
Tapi Mister A masih memegang kertas dan pulpen. Asyik kalkulasi. Hitung mendetail volume tangkinya, persentase evaporasinya, konversi chemical per barrel-nya, hal-hal lain dengan sangat presisi.
Mister B menunggu. Sesekali bertanya, “Udah belum?” Dijawab Mister A, “Bentar, belum pas nih hitungannya.”
Mister B keluar ruangan, ngerokok, balik lagi. “Udah kelar belum?” Mister A masih menggeleng, “Sabar, dikit lagi. Ini variabel X belum masuk.”
Lama-lama, kesabaran Mister B habis. Dengan gaya lapangan yang blak-blakan, dia rebut kertas hitungan Mister A kertasnya diremuk-remuk, lalu dilempar ke tong sampah sambil nyeletuk dalam Bahasa Jawa. “Halah, kesuwen!” (Halah, kelamaan!).
Mister B mengeksekusi pekerjaan. Saya tidak tahu pasti hasilnya, tapi saya asumsikan tidak ada masalah karena sepertinya baik-baik saja, hehehe.
Jebakan “Over-Analysis”
Dulu, bagi saya, cerita itu hanya lucu-lucuan. Tapi puluhan tahun kemudian, saya tersadar rupanya saya sering over analysis dan tanpa sadar menjadi Mister A.
Saya sering menunda eksekusi karena analisis yang belum lengkap. Simulasi yang berlebihan yang membuat eksekusi terlambat. Istilah kerennya analysis paralysis.
Lalu saya ingat cerita lawas itu, dan kemudian melihat koneksinya dengan sebuah mental model yang sangat terkenal yaitu “The Map is Not the Territory” (Peta bukanlah wilayah yang sebenarnya).
Ilustrasi Peta dan Wilayah Sebenarnya
Analisis, teori, atau simulasi ilmu apapun saja itu bisa diilustrasikan sebagai sebuah peta. Dan seninya sebuah peta itu adalah simplifikasi, penyederhanaan dimana tidak bisa akurat 100% sama dengan aslinya.
Saya melihat peta MRT di Stasiun Ampang dekat kantor saya di KL. Permodelannya hanya garis lurus, titik-titik stasiunnya berjarak sama. Padahal aslinya berbelok-belok, jarak antar stasiun beda-beda, ada yang naik ada yang turun.
Secara teknis permodelan peta itu tidak bisa mewakili keadaan sebenarnya. Tapi justru karena disederhanakan maka peta menjadi enak digunakan. Kalau peta MRT terlalu detail dan sesuai skala malah bingung ga enak melihatnya.
Seni pada pemaknaan peta adalah dengan melihatnya pada keperluan eksekusi. Dia memudahkan kita membaca posisi kita dimana lalu mau kemana dan tinggal seberapa jauh lagi. Dia justru tidak perlu 100% benar sebagai sebuah model.
Sama juga dengan Google Maps. Saat kita memasukkan terlalu banyak data ke dalam model (seperti Mister A tadi), modelnya malah mbulet dan kita mengejar keakuratan model ketimbang menggunakan model sebagai peta eksekusi.
Untuk Praktisi: Jangan Mendewakan Model
Ada lagi pengalaman sewaktu saya mau buka puasa bersama di daerah Ampera, berangkat dari kantor lama di Cilandak Jaksel.
Awalnya saya menggunakan Google Maps. Di tengah jalan, macet parah dan Google Maps kurang update untuk jalan tikus. Akhirnya saya ganti strategi pakai Waze. Ada input pengguna jalan dan masuk jalan tikus lebih gampang pakai waze. Akhirnya bisa sampai tujuan.
Ternyata tanpa sadar dalam keseharian kita sudah memraktekkan itu. Memperlakukan permodelan sebagai sebuah tools untuk membantu kita sampai tujuan. Kita tidak mengincar akurasi permodelan, dan kita tidak mendewakan sebuah model. Kita gonta-ganti sepanjang jalan.
Beberapa point yang saya catat sebagai renungan pribadi seorang praktisi:
1. Action Oriented: Tujuan kita sebagai praktisi adalah sampai tujuan. Jangan sampai karena mengejar kesempurnaan model (peta) malah kita tidak sampai lokasi.
2. Iterasi Berkelanjutan: Karena fokus kita adalah eksekusi, wajib bagi kita untuk improve terus sepanjang jalan. Jika analisis sudah mentok, jangan dipaksakan. Pakai model lain. Tanya orang lain. Gunakan intuisi. Jangan mendewakan model.
3. Kepasrahan: sebagai seorang praktisi dalam dunia industri yang cepat, variabel terlalu banyak dan tidak mungkin bisa disetir semua. Di sini spiritualitas mengambil peran. Setelah anak panah dilepas dari busurnya, sisanya kita pasrahkan kepada Tuhan.
Untuk rekan-rekan yang juga praktisi dan sering mengalami maju mundur mengambil keputusan, mungkin saatnya kita meniru Mister B dan mengatakan “Halah Kesuwen” pada analisis kita dan mengambil action sambil perbaikan sepanjang jalan.
