
Sepertinya kita yang hidup di dunia modern sekarang ini sudah langganan dengan keruwetan pikiran. Untungnya, ada kebiasaan untuk mengurai keruwetan pikiran yang bisa kita tiru dari Marcus Aurelius (Kaisar Romawi) dan Imam Ghazali (Rektor Universitas Nizamiyah di zaman kekhalifahan Abbasiyah).
Hal ini penting karena kita hidup dalam dunia yang berkejar-kejaran dengan waktu dan tugas-tugas. Pagi-pagi kita berangkat kerja berkejaran dengan waktu. Tiba di kantor berkejaran dengan tugas dan pressure. Tiba di rumah seringkali harus kembali buka laptop, belum lagi kalau bicara soal macet di jalan.
Pendek kata, keruwetan pikiran merupakan hal yang tidak terpisahkan dari manusia modern di zaman sekarang. Tapi ternyata, ada solusinya yang bisa kita contek dari sejarah. Saya meniru dua tokoh dalam tulisan ini karena ada kebiasaannya yang mirip, dan kebetulan saya familiar dengan beberapa buku mereka.
Meniru Kaisar di Tenda Perang
Kebiasaan yang sederhana dari para tokoh, tetapi penting untuk mengurai keruwetan pikiran itu, adalah journaling.
Yang pertama adalah kebiasaan dari Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi (161–180 M). Kalau saya baca jurnal pribadinya, Meditations, saya seperti melihat cerminan praktisi di dunia modern. Dia bukan pertapa yang menyepi di puncak gunung, melainkan dia adalah seorang Kaisar yang setiap hari berjibaku dengan kehidupan nyata.
Mirip-mirip kita para karyawan korporat ini, dari sisi pertarungan di dunia nyatanya. Dan di tengah semua kemelut keseharian itu, dia menulis jurnal. Di dalam tenda perang atau di pinggir sungai perbatasan, dia menyempatkan diri menulis.
Bukan untuk siapa-siapa melainkan untuk dirinya sendiri. Merajut makna dari keseharian yang sepertinya chaos. Menjernihkan pikirannya sendiri.
Yang dia tulis pun macam-macam, dari hal yang sangat reflektif sampai hal sesederhana dimana dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak malas bangun pagi, karena baginya bangun pagi itu juga adalah menjalankan fungsi penciptaan yaitu berkarya dan bekerja.
Banyak sekali refleksi-refleksi yang kalau saya bayangkan itu mirip dengan kemelut manusia modern di perkantoran. Tugas-tugas, intrik politik, sampai renungan eksistensial. Yang pada intinya membantu dia menjernihkan pikirannya sendiri lewat tulisan itu.
Meniru Sang Ulama Besar dan Rektor Dunia
Tokoh sejarah lainnya, yang juga menulis semacam jurnal existential adalah Imam Ghazali. Beliau adalah Rektor Universitas Nizamiyah, posisi yang bisa dibilang “Harvard-nya” dunia Islam kala itu. Universitas terbesar di kekhalifahan Abasiyah.
Saya sangat menikmati sekali membaca buku otobiografi tipis yang beliau tulis sendiri itu, Al-Munqidh min ad-Dalal (Pembebas dari Kesesatan).
Buku ini meskipun bukan jurnal dalam artian artikel pendek harian, sejatinya ini juga catatan reflektif, sebuah curhat jujur tentang pergolakan batinnya, transformasinya, dan pencariannya akan kebenaran yang otentik.
Seorang yang berada di puncak prestasi akademik dan kegemilangan status merasa dirinya kering dan “fake”, lalu bercerita jujur tentang transformasinya mencari kebenaran. Ini seorang ulama besar, menulis dengan jujur bahwa dirinya merasa semua kegemilangan yang dia miliki itu fake, dan dia merasa belum menemukan kebenaran.
Mirip dengan krisis identitas manusia modern. Meskipun di tengah gegap gempita sosial media dan sorotan, kita sering merasa seolah-olah “fake”. Dan di bagian berikutnya dalam otobiografinya Sang Imam menjelaskan bagaimana kemudian dia tercerahkan dan kembali menemukan kejernihan.
Menulis untuk Mengurai Keruwetan Pikiran
Menarik bahwa dua tokoh besar ini terpisah jarak dan waktu berbeda yang satunya di Romawi, yang satunya di Baghdad. Dalam konteks waktu yang jauh beda 900 tahun. Tetapi mereka sama-sama Menulis.
Ada teori menarik bernama The Extended Mind. Teori ini mengatakan bahwa proses berpikir tidak harus melulu terjadi di dalam otak kita. Kita bisa menggunakan lingkungan untuk membantu kita berpikir. Sama seperti kita menggunakan papan tulis saat meeting untuk membedah flow kerja, menulis jurnal adalah cara kita “memindahkan” keruwetan dari otak ke atas kertas.
Saat masalah dituliskan, ia menjadi seperti berjarak dari diri kita. Ia menjadi objek yang bisa diamati, bukan lagi benang kusut.
Terutama bagi yang punya posisi di kantor. Kadang-kadang sulit bagi seorang pemimpin untuk curhat sembarangan tentang ketakutan atau kelemahannya kepada bawahan karena bisa berdampak pada moral tim. Menjadi vulnerable kadang-kadang mengerikan.
Maka, kertas atau layar laptop menjadi ruang paling aman untuk jujur pada diri sendiri. Dan mengurai keruwetan menjadi hikmah. Jika dilakukan dengan cara yang benar.
Framework Menulis Jurnal
Ada framework sederhana yang bisa kita terapkan. Saya pribadi menerapkan ini secara intuitif dan ternyata mirip juga dengan poin-poin yang sering dipakai para tokoh.
Yang pertama adalah menuliskan fakta keseharian tanpa pusing dengan editan. Apa yang terjadi? Apa yang membuat kesal? Apa masalahnya? Tuliskan semua tanpa perlu memusingkan urutan dan keteraturan.
Yang kedua adalah mencari insight-nya. Setelah semua pikiran keluar, biasanya hikmah akan muncul otomatis. Atau kita bisa belajar untuk memetiknya. Tuliskan apa hikmah pelajaran di balik kejadian ruwet yang kita alami? Apa kebaikan yang bisa kita ambil dari sana? Kita bisa membedahnya dengan tools yang kita punya.
Yang cenderung filosofis bisa mengambil hikmahnya dengan cara filosofis, atau yang pakai pendekatan keagamaan bisa menulis ulang insight yang dia ambil dalam kerangka spiritualitas.
Yang ketiga, rencanakan tindakannya. Tutup dengan call to action. Besok saya harus ngapain? Apa yang perlu diperbaiki? Apa hal sederhana yang saya bisa kerjakan esok hari atau hari ini? Hal simpel yang achievable.
Dengan begitu, kita tidak hanya mengurai keruwetan pikiran, tapi juga memanen hikmah. Kejadian yang tadinya terasa random dan melelahkan, tiba-tiba jadi ada maknanya.
Saya sering membayangkan menjadi praktisi kehidupan seperti Marcus Aurelius atau Imam Ghazali. Medan perangnya jauh berbeda, tetapi kebiasaan dan senjatanya kita pinjam. Yaitu jurnal dan pena kita. (RBA)
