
Pernah mendengar cerita Khalifah Umar bin Khattab yang menolak menghukum pencuri di Tahun Ramada? Ini sebuah cerita yang relevan untuk para pemimpin atau leader tentang bagaimana pentingnya berpikir sistemik untuk menjalankan organisasi.
Sebagaimana kita tahu, hukuman bagi pencuri di masa itu adalah potong tangan. Akan tetapi, dengan kebijaksanaan dari Khalifah Umar r.a., pencuri makanan di tahun itu tidak dihukum. Hukuman Hadd ditiadakan pada tahun tersebut. Kenapa? Dan apa kaitannya cerita ini dengan leadership di era modern?
Kisah Tahun Ramada (Year of Ashes)
Kisah ini terjadi sekitar tahun 18 Hijriah, atau sekitar tahun 639 Masehi, di masa kepemimpinan Umar bin Khattab. Sewaktu itu Madinah dan sekitarnya mengalami kekeringan yang parah. Begitu lama hujan tidak turun mengakibatkan kesulitan bahan pangan di mana-mana. Dalam bahasa kita disebut paceklik.
Karena beratnya ujian di tahun itu, maka tahun itu dijuluki Tahun Abu atau Tahun Ramada (dalam bahasa Inggris disebut Year of Ashes), karena tanah menjadi kering dan hitam seperti abu.
Kelaparan terjadi di mana-mana sampai chaos, dan banyak orang yang terpaksa mencuri di masa itu lalu tertangkap.
Yang menarik adalah, karena kebijaksanaan dari Umar r.a., beliau tidak mau menghukum pencurinya. Beliau menunda atau menangguhkan hukum terhadap para pencuri di tahun paceklik itu sampai pacekliknya reda, baru diaktifkan kembali.
Nah, ini menarik. Kenapa Umar r.a. melakukan hal tersebut?
Kalau kita analisa pakai pendekatan systemic thinking yang relevan buat organisasi atau korporasi di zaman sekarang, bisa kita katakan itu adalah bukti bahwa Umar r.a. dengan wisdom-nya mengetahui bahwa sebuah sistem atau kondisi lingkungan mempengaruhi bagaimana manusia berperilaku. Jadi, behavior atau perilaku manusia seringkali disetir oleh sistemnya.
Motivasi & Pengaruh Sistem
Sebelum masuk ke systemic thinking, mari kita singgung sedikit tentang pendorong manusia bergerak. Kita bisa mengategorikannya menjadi tiga kategori besar seperti pembagian oleh Daniel H. Pink dalam bukunya, Drive.
Yang pertama, manusia bergerak karena kebutuhan survival; kebutuhan makan, minum, tempat tinggal, dan seterusnya.
Yang kedua, manusia bergerak karena motivasi eksternal, misalnya karena pujian atau hadiah.
Yang ketiga, motivasi paling tinggi adalah purpose. Manusia melakukan sesuatu karena merasa itu semacam panggilan jiwanya.
Akan tetapi, kalau dibedah lagi lebih dalam dengan berpikir sistemik, kita mengetahui bahwa seseorang melakukan sesuatu bukan semata-mata karena dorongan tersebut, melainkan juga karena sistem pada lingkungannya.
Contohnya saja saat paceklik terjadi di mana-mana, kondisi itu membuat semua orang kesusahan. Bahkan orang baik pun terpaksa mencuri. “Gimana lagi? Kalau enggak mencuri, ini anak saya bakal mati.” Kurang lebih begitu alasannya.
Ini kondisi yang sangat sulit. Sistem yang sangat sulit membuat semua orang terpaksa sikut-sikutan untuk mencari makan.
Definisi Berpikir Sistemik
Apa itu cara berpikir sistemik? Cara berpikir sistemik itu melihat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan hasil interaksi berbagai elemen.
Ambil contoh mobil. Mobil adalah sebuah sistem yang digunakan untuk menjalankan sebuah tugas, yaitu mengantarkan orang dari titik A ke titik B. Sebagai sebuah sistem, di dalam mobil ada banyak elemen: ada roda, mesin, body mobil, kursi, dan seterusnya. Semuanya berinteraksi untuk menjalankan sebuah fungsi tertentu. Itulah sistem.
Saat seseorang berpikir sistemik, dia sadar bahwa suatu kejadian tidak bisa terlepas dari interaksi banyak elemen.
Misalnya mobil bisa mengantar orang dari Jakarta ke Bandung, hal itu tidak bisa kita lihat dari rodanya saja. Kita tidak bisa bilang, “Oh, ini sukses karena rodanya. Rodanya bisa menggelinding dengan bagus, kita ganti saja pakai roda yang lebih besar supaya semakin bagus lagi.” Tidak sesederhana itu. Karena setiap elemen terkait dengan elemen lainnya. Kalau diotak-atik gathuk, nanti malah tidak bisa menjalankan fungsinya. Itulah cara berpikir sistemik: melihat keseluruhan dan hubung kait.
Jadi kembali ke contoh tahun paceklik tadi, Umar r.a. mengetahui bahwa perilaku masyarakat saat itu disetir oleh sistem (lingkungan) yang ada. Nah, kalau sistemnya saja sudah error, maka perilaku orang di dalamnya akan ikutan error.
Analogi Kasus Apple (Steve Jobs)
Contoh lain saya ambil dari kisah Apple. Sekitar tahun 1997, Apple mengalami kemunduran; penjualan menurun, produk seperti tidak sinkron satu sama lain, dan karyawan saling sikut-sikutan. Steve Jobs melihat bahwa masalah ini adalah masalah sistemik.
Pertama, karena terlalu banyak lini bisnis. Misalnya desktop, ada banyak sekali variannya, begitu juga dengan laptop.
Kedua, struktur yang terlalu gemuk membuat persaingan antar divisi. Di setiap varian produk ada desainernya sendiri, ada tim hardware-nya sendiri, sehingga antar produk tidak ada satu kesatuan. Terjadi semacam kompetisi internal.
Steve menyadari bahwa konflik internal yang terjadi bukan karena perilaku orang-orangnya yang ingin menang sendiri, akan tetapi di-drive oleh sebuah sistem. Sistemnya itu adalah struktur organisasi Apple sendiri.
Yang dilakukan Steve Jobs adalah merombak sistemnya. Lini produk dipersimpel dan dipangkas. Lalu strukturnya juga diubah: satu tim desain dan satu tim hardware melayani semua produk yang sudah dipangkas tadi.
Hasilnya? Produk terfokus, tim lebih sinkron, dan penjualan naik kembali.
Ini contoh berpikir sistemik. Berpikir bahwa perilaku individu—dalam hal ini karyawan sebagai elemen di dalam sebuah sistem—tidak berdiri sendiri. Dia dipengaruhi interaksi banyak hal. Dan dalam beberapa kasus, yang salah adalah sistemnya, bukan orangnya.
Solusi Sistemik Umar bin Khattab
Cerita Steve tadi mirip dengan yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab waktu itu. Jika Umar r.a. berpikir linear: “Ada pencuri maka potong tangan.” Pertanyaannya, berapa banyak orang di zaman itu yang akan terkena hukuman potong tangan?
Umar r.a. melihat dengan berbeda. System atau environment-nya yang diketahui sebagai penyebab utama.
Maka beliau melakukan hal yang seolah-olah menabrak SOP, yaitu tidak menghukum para pencuri waktu itu melainkan mengampuninya. Selama masa paceklik, hukuman itu ditiadakan dan baru diaktifkan kembali selepas masa paceklik usai.
Apa solusi sistemik yang dilakukan Umar r.a.?
Memperbaiki koneksi supply chain antar negara. Beliau berkoordinasi meminta bantuan pangan dari Mesir, Syria, dan Irak.
Sentralisasi distribusi. Saat itu dibuatlah dapur-dapur umum untuk rakyat.
Menunda pungutan pajak.
Empati pemimpin. Beliau makan secukupnya saja dan ikut merasakan lapar, sehingga dalam sebuah khutbah Jumat dikabarkan terdengar perut beliau berbunyi karena kosong.
Hal seperti ini tidak bisa dilakukan jika pemimpin berpikir linear. Semakin diperkeras hukuman, semakin banyak yang akan kena hukum, tetapi masalah tidak selesai. Karena kadangkala masalah itu ada pada sistemnya, bukan personalnya.
Refleksi di Era Kita
Sekarang kita perlu refleksi, jangan-jangan sebagai leader kita sering berpikir terlalu linear.
Misalnya karyawan tidak menyelesaikan tugas tepat waktu, atau karyawan saling sinis antara departemen satu dengan departemen lainnya. Kita masih mencoba menyelesaikan dengan cara yang keliru: Warning letter, hukuman, atau hadiah, tapi tidak mengubah keadaan.
Jangan-jangan itu karena kita tidak melihat organisasi kita sebagai sebuah sistem. Kita menyasar individunya, tetapi lupa memperbaiki sistemnya. (RBA)
