
Dalam dunia korporasi yang cepat, kita sering dihadapkan pada dua kutub kepemimpinan. Kita mungkin sering menemui leader dengan kemampuan analisis sangat baik, jago matematika, bisnis, hitungan, eksekusi manajemen, tapi kurang punya empati. Kurang bisa merangkul. Kurang bisa menyatukan berbagai elemen di dalam sebuah organisasi.
Juga sebaliknya, ada yang bisa merangkul banyak kalangan, penuh empati, bisa bergaul dengan semua orang, bisa memaparkan sesuatu dengan baik, tapi kurang punya ketegasan. Kurang bisa mengambil keputusan-keputusan yang sulit.
Kedua tipe yang sama-sama ada di ujung. Hal ini yang dibahas Musashi (Sang Samurai Pengembara) di dalam bukunya berjudul Go Rin No Sho atau The Book of Five Rings. Ada banyak topik, salah satunya yang saya tertarik untuk bahas adalah menyeimbangkan ketegasan dan skill teknis dengan wisdom, bahasanya Musashi: “Harmoni Pena dan Pedang”.
Seorang Samurai, seorang Ksatria itu tidak hanya wajib pandai bermain pedang, tetapi dia juga harus pandai menguasai pena, katanya. Pena di sini dalam hemat saya mewakili wisdom, maksudnya bisa menulis, punya kemampuan sastra, empati, dan kebijakan seorang scholar.
Kalau kita tarik padanannya di dalam dunia korporasi, maka pedang itu mewakili hard skill, kemampuan teknis, kemampuan eksekusi, ketegasan. Sedang pena itu mewakili soft skill. Empati, punya narasi, punya visi, bisa merangkul orang lain, dan seterusnya.
Konteks Sejarah Musashi
Musashi ini hidup di era transisi, ketika Jepang dilanda perang saudara dan masa transisi menuju era modernnya Jepang.
Dia kononnya adalah seorang Samurai yang tidak pernah kalah, seorang pengembara yang belajar dari banyak hal. Dan salah satu kebijakan di zaman itu adalah seorang ksatria harus juga menguasai wisdom “pena” karena peralihan transisi dari samurai yang hanya berperang menjadi yang menata pemerintahan juga.
Harmoni pena dan pedang ini juga pernah dibahas dalam buku lainnya, yaitu buku dari Yagyu Munenori yang menulis Life-Giving Sword. Pedang yang memberi kehidupan.
Relevansi Dalam Dunia Modern
Kalau kita tarik dalam dunia korporasi modern, skill penguasaan pedang seorang samurai itu ibarat seorang leader yang sangat menguasai hal teknis. Kemampuan analitisnya jago, kemampuan financial business management-nya jago, operasional jago, lama-lama ternyata menjadi sangat dingin dan kehilangan human touch. Karena mengandalkan skill teknis dan ketegasan saja.
Sebaliknya, dalam dunia korporasi kita tidak bisa mengandalkan semata-mata “pena” atau wisdom dan kelembutan. Tidak usah jauh-jauh, hal ini juga yang saya sendiri perlu banyak belajar. Kita punya kelembutan, kita punya empati kepada orang lain, kita punya kemampuan untuk merangkul, kita punya visi… Tapi kita lemah di kemampuan eksekusi misalnya, akan membuat kita kesulitan mengambil keputusan yang tegas. Untuk misalnya menegur seseorang kalau dia salah. Atau mengambil keputusan bahwa salah satu lini organisasi harus di-shut down… karena memang organisasi sedang menuju ke kehancurannya kalau tidak begitu maka tidak bisa diselamatkan.
Dalam bahasanya Samurai di zaman Musashi itu, hanya dengan keseimbangan pena dan pedang inilah ketegasan bisa memberikan kehidupan.
Life-Giving Sword. Pedang hanya akan memberikan kehidupan kalau dipegang seseorang yang juga memiliki pena, jika tidak ia hanya akan menjadi alat untuk membunuh.
Ibarat seorang pemimpin di dalam korporasi yang memiliki kemampuan teknis, penguasaan bisnis yang mumpuni, ketegasan, dan di saat yang sama memiliki wisdom, empati, dan visi.
Senada dengan ini, sebuah riset di Harvard Business Review (Sadun et al., 2022) menunjukkan bahwa fokus perusahaan sekarang mulai bergeser dari yang semata mencari kemampuan operasional dan finansial, bergeser ke kemampuan sosial. Ini ibarat korporasi memahami bahwa pedang tidak lengkap tanpa pena. Terutama untuk posisi leadership.
Mempertajam Pena dan Pedang
Beberapa cara yang kita bisa terapkan untuk mempertajam skill eksekusi kita (pedang):
Mempelajari ilmu bisnis dan teknis (business acumen). Memang harus berusaha keras untuk tidak hanya menjadi operator tetapi paham filosofi bisnisnya, bagaimana logikanya bekerja. Ibarat samurai yang tidak hanya bergerak tetapi paham kenapa setiap jurus gunanya apa.
Mempelajari alat perangnya. Untuk mempertajam sisi “pedang” kita harus menguasai tools-nya. Misalnya Excel, Power BI, modeling tools, penguasaan AI. Ibarat Samurai menguasai banyak senjata.
Turun langsung ke gelanggang. Mengunjungi lokasi dan terlibat langsung melihat situasi, dengan begitu mengasah kepahaman situasi kita. Ibarat Samurai tahu medan tempur.
Beberapa cara untuk mempertajam wisdom kita (pena):
Baca Sastra atau Fiksi. Kalau kita membaca sastra, fiksi, dongeng, kisah hal itu bisa memfasihkan lidah kita dengan kosakata, dan juga memberi gambaran tentang bagaimana motif manusia, bagaimana budaya, bagaimana seseorang memberi makna dalam hidupnya.
Belajar Sejarah. Dengan belajar sejarah kita jadi seperti melihat pola. Mengasah insting karena melihat pola yang repetitif dalam sejarah. Bisa juga belajar dengan membaca biografi tokoh-tokoh besar. Dari sana kita belajar bagaimana mereka mengatasi krisis, atau mungkin meniru empati mereka.
Belajar melihat gambaran besar. Belajar berpikir sistemik. Belajar process thinking sehingga terbiasa melihat hubung kait dari banyak elemen-elemen.
Hanya dengan keseimbangan pena dan pedang inilah ketegasan bisa memberikan kehidupan. Life-Giving Sword.
Referensi:
Sadun, R., Fuller, J., Hansen, S., & Neal, P. J. (2022). The C-Suite Skills That Matter Most. Harvard Business Review, July–August 2022.
Musashi, M. (2024). The book of five rings. Arcturus Publishing Limited. (Karya asli diterbitkan Sekitar. 1645)
