
Ternyata dongeng, sastra, atau kisah-kisah fiksi bisa membantu kita dalam kehidupan keseharian, misalnya di kantor, lho.
Jangan dikira buku-buku yang ringan dan menghibur seperti novel atau dongeng itu tidak relevan dengan kehidupan kita. Justru sangat berguna.
Sebenarnya, saya sudah lama ingin menceritakan hal ini, yaitu: “Bagaimana dongeng bisa menyelamatkan Anda dalam kehidupan sehari-hari.” Tidak harus di kantor, pokoknya dalam kehidupan sehari-hari.
Tema ini muncul percikannya saat saya melihat anak saya—yang sekarang kelas 2 SMP—mengatakan bahwa ini pertama kalinya dia membaca buku yang lumayan tebal, yaitu novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata. Padahal, awalnya dia tidak terlalu suka baca buku tebal.
Lalu dari sana saya mengobrol dengan anak saya tentang banyak hal, mulai dari kekayaan khazanah sastra Melayu, gaya bahasa Melayu, sampai kaitannya sastra atau dongeng dengan cara kita memaknai ulang hidup. Dari sana, saya lanjut saja membuat audio podcast dan mengetik ulang naskah singkatnya menjadi tulisan di blog ini.
Kita mulai dengan The Meaning of Life.
The Meaning of Life
Pertama, saya ingin mengutip satu buku terkenal karya Viktor Frankl. Dia adalah seorang psikiater yang hidup di zaman perang dan selamat dari penyiksaan Nazi Jerman (korban Holocaust). Ia adalah pengarang buku yang sangat terkenal, yaitu Man’s Search for Meaning.
Diceritakan dalam buku itu, salah satu hal yang membuatnya bertahan hidup di penjara, di tengah tekanan fisik dan mental, adalah karena dia merasa memiliki misi yang belum tuntas. Dia ingin mengajarkan metode terapi yang disebut Logotherapy.
Intinya, dia merasa punya knowledge yang merupakan panggilan jiwanya dan dia harus menyampaikan hal itu. Dengan kesadaran itulah dia bertahan dalam ujian yang berat. Dalam bukunya, Frankl merumuskan bahwa memiliki makna (meaning) sangat membantu kita untuk menjalani hidup. Begitu kata Viktor Frankl.
Kefasihan dan Kekokohan
Sekarang apa kaitannya sastra, kisah-kisah, atau dongeng dengan meaning atau makna hidup?
Saya teringat ungkapan dari Umar bin Khattab. Beliau pernah berkata (kurang lebih): “Ajarkan anakmu sastra/syair, karena dengan itu akan memfasihkan lidahnya dan membuat jiwanya kesatria.”
Ada dua poin di sini:
1. Memfasihkan lidah: Sastra memperkaya khazanah lisan dan kosakata kita.
2. Membuat jiwa kesatria: Dongeng atau kisah positif membantu kita mengidentifikasi diri dengan kisah tersebut.
Seperti cerita anak saya yang membaca novel Sang Pemimpi tadi. Kisah anak-anak Belitong yang hidup susah tapi punya determinasi tinggi untuk sekolah sampai ke Prancis, tanpa sadar membuatnya menyerap semangat cerita itu. Saat dia menemukan tantangan, dia bisa mengidentifikasi dirinya dengan tokoh tersebut dan menyerap spirit-nya.
Contoh lainnya anak saya yang paling kecil. Dia latihan Wushu tapi sering lupa jurusnya karena takut disuruh maju ke depan. Malamnya saya suruh dia latihan lagi, tapi dia masih deg-degan. Tiba-tiba dia terpikir, saat dia lupa, dia membayangkan dirinya adalah tokoh anime. Dia membayangkan dirinya sebagai tokoh itu, berteriak “Ciat-ciat!”, dan akhirnya dia bisa. Dia mengidentifikasi dirinya dengan cerita itu (tokoh anime).
Reframing Makna
Pengalaman pribadi saya juga demikian. Dalam sebuah meeting, saya pernah berada dalam posisi “terjepit”. Saya bingung harus menyampaikan pandangan yang berbeda kepada dua tim yang berseberangan.
Kebingungan ini awalnya, kalau boleh diringkas, adalah karena karier saya yang cukup loncat-loncat. Ini membuat saya melihat banyak hal tapi kadang juga terjebak pada dualisme pandangan.
Dari awalnya saya pekerja lapangan migas, engineer, pindah ke manajerial, quality, lalu ke supply chain. Cukup gado-gado. Tapi karier gado-gado ini memberi saya wawasan yang secara subjektif saya rasakan lebih luas.
Terkadang dalam meeting, saya paham kenapa Si A sangat kontra karena saya pernah di posisinya. Tapi saya juga paham pandangan Si B karena saya juga pernah ada di posisi itu.
Contoh klasik: bagaimana Supply Chain sering berbeda pandangan dengan Operation team. Saya paham betul kenapa konflik terjadi karena saya pernah di kedua posisi itu. Kadang saya merasa terjepit—ke sana kena, ke sini kena. Emosinya jadi negatif.
Namun, akhirnya saya menyadari: kalau saya memandang diri saya sebagai orang yang “terjepit”, emosinya negatif. Tapi kemudian saya mencoba melihat diri saya sebagai Konektor, Penyambung Lidah, atau Translator.
Saya membantu Si A mengerti bahasa Si B, dan sebaliknya. Saat saya mengubah cara pandang (reframing) menjadi seorang “Translator”, maknanya jadi berbeda.
Cara kita memaknai ulang ini bisa didapat kalau kita punya banyak khazanah cara pandang, salah satunya dari sastra.
Misalnya, selama ini saya merasa diri saya memiliki knowledge yang “kurang mendalam”. Ilmu engineer tidak terlalu dalam, ilmu quality tidak terlalu dalam, ilmu supply chain juga tidak. Saya merasa tidak pernah tuntas, hanya seorang Generalis.
Tapi kemudian saya membaca buku tentang Miyamoto Musashi, seorang samurai tak bertuan (Ronin), seorang pengembara. Cara dia memandang hidup—belajar dari banyak hal, bukan lulusan suatu perguruan (knowledge tertentu) tetapi belajar dari pengembaraan—ternyata bisa saya terapkan.
Sosok Musashi ini mirip dengan kondisi yang saya alami: “tidak bertuan” (dalam tanda kutip), pengembara, dan belajar dari banyak hal karena generalis yang berpindah-pindah. Dari cerita Musashi, saya mendapat spirit. Saya bisa membayangkan diri saya sebagai seorang “Musashi”—seorang Ronin yang mengembara.
Meminjam Kacamata Cerita
Entah itu cerita anak, novel, atau kisah samurai, itu semua adalah cara kita melihat hidup dengan kacamata berbeda—meminjam cara pandang orang lain.
Istilah kerennya adalah Archetype. Semacam sebuah karakter atau sifat yang kita adopsi.
Misalnya, orang yang sangat mencintai mengajar dan berkorban ke tempat terpencil, dia mengidentifikasi dirinya dengan archetype Guru. Atau teman saya yang suka menghubungkan orang lain, dia bercerita bahwa dirinya suka Connecting People. Itu adalah archetype dia sebagai Konektor.
Jadi, kita bisa meminjam archetype yang bermacam-macam.
Salah satu caranya adalah lewat khazanah cerita, sastra, atau biografi tokoh. Kita bisa mengidentifikasi diri kita dengan cerita yang mirip dengan apa yang kita hadapi, bahkan jika itu cerita fiksi, selama itu memberikan kontribusi positif.
Mudah-mudahan ini tidak terlalu abstrak. Apakah teman-teman sudah pernah mencoba memandang hidup dengan archetype tertentu? Kalau belum, silakan dicoba.
