
Pernah ketemu rekan kerja yang bisa menyampaikan sesuatu dalam analogi, perumpamaan yang gampang dimengerti? Hal rumit jadi sederhana lewat lisannya, dia memiliki kemampuan membangun cerita yang dimengerti. Orang seperti ini memiliki skill alami yang sangat berguna sebagai leader. Kemampuan membangun narasi. Mengekstrak makna dari suatu peristiwa. Sebuah kemampuan yang penting sekali untuk dimiliki di era sekarang.
Menyederhanakan Fakta Lewat Cerita
Saya kasih contoh cerita. Dulu saya punya seorang teman. Teman saya ini memang jago. Sejak zaman kuliah, konon katanya dia terkenal juara di kampusnya. Dan memang kelihatan orangnya pintar. Enggak hanya pintar secara akademis, tapi saya akui dia juga pintar dari segi leadership. Dia termasuk salah seorang yang saya jadikan role model tentang bagaimana cara memimpin.
Suatu ketika, dia diangkat ke sebuah posisi jabatan baru. Waktu itu barengan dengan saya yang juga diangkat ke posisi baru. Jadi kami sama-sama belajar, hanya saja beda job desc.
Setiap bertemu saat makan siang, dia selalu bertanya, “Gimana so far, Rio? Sekarang gimana?”
Saya jawab setengah bercanda saja, “Ya Alhamdulillah masih survive.”
Waktu itu dia bilang ke saya, “Ah, kalau gue yakin lu bakal megang banget lah.”
Terus dia lanjut bicara, “Kayak gini aja, Yo. Kayak kalau kita makan.” Sambil dia memperagakan gesture menyuap, “Kita makan sepiring kan enggak semuanya langsung selesai. Satu suap dulu, satu suap dulu, satu suap dulu. Pelan-pelan, eh lama-lama habis. Malah lama-lama pengen nambah satu piring lagi.”
“Ibaratnya pekerjaan tuh begitu juga,” kata dia. “Satu, satu, satu. Pelan-pelan. Yang penting kayak tadi, satu suap kerjain, satu suap kerjain. Entar lama-lama juga habis.”
Waktu itu saya ketawa saja mendengarkan analogi dia. Tapi ternyata, analogi sederhana itu membekas ke alam bawah sadar saya.
Saat saya lagi mengerjakan tugas, sedang dalam kondisi under pressure di tempat yang berbeda dengan tumpukan kerjaan, saya jadi teringat pesan teman saya ini. Pesan yang setengah bercanda itu, tapi saya pikir betul juga.
Saya anggap hari ini saya mengerjakan tugas seperti saya makan sesuap nasi. Yang penting sesuap, sesuap, sesuap.
Dan memang kalau dilihat ke belakang, rasanya seperti, “Eh iya ya. Satu piring kerjaan yang tadinya kelihatan besar banget tuh ternyata selesai juga.” Dan selalu seperti itu. Selepas itu, tugas lain bisa selesai juga.
Ini prinsip hidup sehari-hari: One day at a time. Kerjakan saja dikit-dikit. Lama-lama kelar juga. Dalam bahasa kerennya ini prinsip day-tight compartment. Fokus pada apa yang kita bisa kerjakan hari itu.
Saya akhirnya menyadari bahwa teman saya ini punya kemampuan untuk mengekstrak makna.
Bayangkan kalau wejangan itu disampaikan dalam bahasa yang njelimet. Atau dalam bahasa data, misalnya: “Wah ini rata-rata pekerjaan ini bisa diselesaikan dalam waktu sekian bulan berdasarkan statistik begini-begini.” Itu enggak akan menyentuh secara emosional.
Tapi ketika disampaikan dalam bahasa cerita, maknanya dibungkus dalam bentuk narasi seperti “makan nasi” tadi, rasanya beda. “Oh iya ya, saya ini sedang menghabiskan satu piring kerjaan yang saya lakoni pelan-pelan.” Lebih menyentuh.
Menggerakkan Team Lewat Cerita
Contoh lagi nih. Katakanlah revenue kita menurun. Misalnya minus 2 juta dari forecast.
Kalau kita hanya membaca data, kita akan menyampaikannya kaku: “Oh ini minus 2 juta dari forecast. Kenapa? Karena project A minus 500, B minus 1 juta, C minus 500. Total minus 2 juta.”
Itu namanya kita hanya menyampaikan data mentah. Tapi seorang leader tidak berhenti sebatas data mentah. Dia harus mengekstrak ceritanya.
Leader yang bagus akan menampilkannya berupa cerita.
“Ternyata kalau dilihat, memang yang B ini revenue-nya menurun karena keterlambatan barang. Kita sudah berapa kali terlihat mengalami keterlambatan supply, jadi enggak bisa jual sesuai target.
Kenapa supply terlambat? Oh, ternyata dipengaruhi kondisi global supply chain. Akhir-akhir ini cuaca di Laut Cina Selatan enggak bagus, banyak angin topan, sehingga mempengaruhi supply chain di Asia.”
Akhirnya, dari yang tadinya data, berubah menjadi suatu cerita.
Kalau ceritanya begitu, apa yang kita lakukan? Solusinya jadi lebih jelas: Bagaimana kita memperkuat supply chain lokal? Atau bagaimana kita memperkuat forecasting supaya bisa mengatasi kondisi global yang buruk?
Jadi narasinya berubah. Dari sekadar “Kita revenue jelek”, menjadi “Kita bersama-sama berusaha mengatasi revenue yang jelek karena kondisi global.” Organisasi menjadi punya cerita yang sama. Seluruh lini bergerak dalam satu cerita besar yang sama.
Ini ternyata kemampuan yang sangat penting dimiliki kalau seseorang ingin menjadi leader. Tidak hanya kemampuan membaca data, tapi kemampuan menyampaikan narasi.
Narasi ini memang biasanya disampaikan dalam bentuk cerita. Kalau kita lihat di kitab suci juga kan biasanya disampaikan dalam bentuk banyak cerita. Karena ternyata manusia itu lebih tergerak dengan cerita ketimbang data-data. Kalau baca data kan boring, kayak baca textbook. Tapi saat berupa cerita, dia akan lebih menggugah ketimbang fakta yang kering emosi.
Mengasah Skill Bercerita
Salah satu yang saya sering lakukan untuk mengasah skill ini adalah dengan membaca buku sastra, kisah-kisah atau biografi, menulis, journaling, atau berbagi lewat podcast. Kalau sudah seminggu dan pikiran ruwet, saya biasakan berbagi cerita. Dengan begitu, saya bisa melihat lagi apa yang sudah dilakukan seminggu ke belakang, lalu melihat dan membahasakan lagi narasi.
Kita kasih makna. “Oh ternyata begini cerita besarnya.”
Tentu saja hal ini harus dilandaskan pada kemampuan kita membaca fakta sebenarnya, misalnya kemampuan analisis data, dst. Sehingga narasi yang dibangun punya dasar yang kokoh.
Kalau enggak begitu, kita melihat seminggu ke belakang tuh hanya kejadian ruwet saja. Enggak ada maknanya. Tapi kalau dikasih narasi, jadi ada hikmahnya. Kita jadi lebih semangat karena tahu makna dari apa yang sedang dikerjakan.
Jadi, apa narasi yang sudah teman-teman tangkap dan sampaikan hari ini? Apa makna yang sudah teman-teman create dalam kehidupan seminggu ke belakang ini?
Mudah-mudahan ini membantu.
