Menikmati liburan, ternyata ga gampang lho. Pernah mengalami ga, sulit menikmati keadaan karena tubuhnya di sini, tapi pikirannya di sana; di pekerjaan, di tugas-tugas yang belum selesai, di rencana-rencana. Ternyata yang mengalami hal seperti ini banyak juga, dan ada satu tips yang saya biasa pakai untuk mengatasinya.

Fenomena semacam ini, bisa dipicu dari beberapa hal, yang pertama jelas karena banyak kerjaan jadi kepikiran. Selain itu ada lagi fenomena yang lebih halus yaitu merasa terpisah dari pengalaman karena terlalu “aware”. Dirinya sebagai “pengamat” merasa terpisah dengan pengalaman yang dialami.

Hal ini seperti pedang bermata dua juga. Di satu sisi ini bagus agar tidak terlalu larut dalam keadaan, tetapi di lain sisi kalau tidak dimanage dengan bagus ternyata membuat kita merasa asing dengan pengalaman dan tidak bisa menikmati keadaan. Contohnya ya misalnya kita sedang liburan, tapi tidak bisa menikmati liburannya karena terlalu aware.

Seperti contohnya berapa hari lalu saya pergi liburan ke Langkawi, Malaysia. Dari Kuala Lumpur naik pesawat sekitar 1 jaman. Hari pertama saya tahu saya belum total merasakan refresh dari liburan karena masih kepikiran kerjaan. Hal ini saya coba atasi dengan total mematikan notifikasi kantor dan mencoba mengabaikan tugas -karena saya yakin ada yang mengerjakannya-.

Setelah dipaksakan, saya merasakan diri saya perlahan masuk ke mode relaks. Tetapi masih ada persoalan berikutnya yaitu dimana saya sering merasakan diri saya terlalu aware. Ternyata dalam istilah psikologi ini disebut Hyper Self-awareness. Dimana seseorang terlalu fokus ke dalam dirinya sendiri, terlalu fokus mengamati dirinya sendiri sehingga sulit untuk spontan. 

Hal ini juga sering terjadi kalau seseorang terlalu analitis, istilah lainnya adalah “living in your head”, seolah-olah berada dalam kepalanya sendiri karena terlalu analitis.  

Banyak orang-orang yang menjadi leader, berada dalam tekanan untuk terus menerus analitis, atau karena kebiasaan dari kecil, mengalami hal ini.

Dalam tataran tertentu, menjadi self aware itu baik. Self awareness ini kurang lebih artinya adalah kemampuan untuk menyadari pikiran, perasaan, tindakan, dan dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain. Self awareness dalam pengertian seperti ini dia baik.

Tiga Lensa Pengalaman

Akan tetapi, self awareness yang berlebihan membuat seseorang terlalu fokus pada dirinya dan berjarak dengan keadaan.

Salah satu tips mengatasinya, yang saya rasakan sangat bermanfaat adalah dengan framework jurnaling Tiga Lensa Pengalaman.

Kita menulis jurnal, bisa di kertas, atau bisa di laptop (atau bisa juga hanya berupa fokus saja tanpa perlu ditulis) dengan kerangka pengamatan dari yang paling luar sampai yang paling dalam. 

Yang pertama adalah Lensa Sinematik, dimana kita menulliskan hal-hal yang kita lihat dan kita dengar. Seperti kita menonton filem. Alih-alih “berada di dalam kepala” kita mengamati suasa sekitar kita. Seperti waktu itu saya mengamati pantai dan debur ombak di tempat saya liburan. Kita bisa tuliskan kondisinya.

Lalu masuk ke lensa yang lebih dalam, yaitu sensorik. Apa yang kita RASA-kan. Fokus kepada yang kita rasa, yang kita sentuh, yang kita cecap. Misalnya saya mengalihkan fokus ke pasir pantai yang terasa pada telapak, dan menikmati angin yang berhembus sopan di pinggiran pantai.

Dan yang terakhir adalah lensa resonansi. Apa insight yang kita dapatkan. Apa pikiran dan makna yang datang? Saya sering mengaitkan insight ini dengan kesyukuran atau hal yang semacamnya. 

Dengan begitu kita bisa menginternalisasi pengalaman kita. Alih-alih terlalu berjarak dengan pengalaman, kita menjadi bisa menyadari dan masuk dalam pengalaman itu sendiri. Dan menjadikannya sebagai jalan kesyukuran.

Ada yang mengalami hal serupa??

Tinggalkan komentar