Kalau dalam keseharian kita merasakan stuck, seolah tidak berkembang dan menjadi kehilangan semangat, mungkin sudah waktunya kita kembali belajar dari anak kecil.

Mister Djohan,” seorang anak kecil menghampiri sang kepala sekolah “This academic year I have studied very hard for the exam,” katanya dengan polos, “and I am happy, even if I don’t get any prize for this year.”

Saya kutip cerita ini dari kepala sekolah anak saya sewaktu saya mendengarkan pidatonya di acara penutupan tahun akademik .

Kepala sekolah mengutip kisah yang meski sederhana itu tetapi bisa memberi ilustrasi tentang effort, tentang progress, dan tentang mencintai belajar. Bukan pada pencapaiannya, tapi pada semangat untuk terus tumbuh yang bisa terlihat pada kemurnian anak-anak.

Dalam bahasa kerennya hal ini disebut “Growth Mindset”. Cara pandang yang ingin terus menerus tumbuh, cara pandang ini tidak menganggap bahwa kecerdasan adalah hal bawaan yang tidak bisa diubah, melainkan kecerdasan bisa berkembang kalau dilatih.

Semangat untuk terus tumbuh ini, seringkali berhenti saat kita sudah dewasa. Barangkali karena kita beralih dari menyukai pertumbuhan menjadi terlalu mengejar prestasi. Padahal dia harus terus dipelihara karena pada akhirnya dengan semangat untuk terus tumbuh ini kita menemukan ke-khas-an otentik diri kita masing-masing dan bisa berkontribusi untuk membantu orang lain lewat kekhasan itu.

Salah satu cara untuk mempertahankan keinginan untuk terus tumbuh itu adalah dengan memulai dari apa yang kita suka. Setiap orang memiliki hal yang dia sukai secara instingtif. Hal itu bisa mendorong dia untuk belajar lewat cara apapun karena dia menyukainya.

Barulah kemudian dengan hal yang kita sukai itu kita bisa menjadikannya beririsan dengan hal-hal lain.

Anda menyukai bonsai? Pelajari tentang bonsai, sejarahnya, tekniknya, macam-macam jenisnya dan seterusnya.

Karena bonsai berasal dari cina kuno, dan dikembangkan ke Jepang, maka kita bisa memiliki ketertarikan belajar geografi, “ahaa…. Dimana sih kota awalnya bonsai? Seperti apa kotanya?”

Dari bonsai ke geografi. Lalu dari bonsai misalnya ada tokoh dengan etos yang luar biasa, master yang menginspirasi kita, lalu kita bisa terapkan semangat hidupnya untuk kehidupan pekerjaan kita. Dari hobi, masuk ke pekerjaan. Begitu seterusnya.

Sampai kemudian kita menjadi menemukan kekhasan pribadi, dan bisa berkontribusi sosial dengan kekhasan itu.

Secercah titiknya sudah ada pada setiap orang, dan yang setitik itu jangan dimatikan, kita biarkan tumbuh seperti kisah anak sekolah tadi, “Saya sudah belajar keras, dan saya menikmatinya, meskipun saya tidak juara.”

Apa hal yang anda sangat sukai dan mendorong anda untuk terus tumbuh lewat kesukaan itu?


Tinggalkan komentar