Pernah ga ngalamin hal yang kita anggap penting, tapi tidak dimengerti oleh orang lain? Hal yang menurut kita mendalam dan perlu, tapi dianggap ribet sama orang lain, sama rekan kerja, sama lingkungan, sama teman? Kalau pernah, berarti harus belajar menjadi lebih sederhana.

Ini sebenarnya refleksi saya pribadi, yang saya menemukan jawabannya dan pencerahan untuk kehidupan pribadi setelah belajar lagi mengenai design thinking

Oh ini toh masalahnya kenapa orang-orang yang berpikir mendalam sering menjadi tidak dimengerti dan tidak nyambung dengan lingkungannya, dan bagaimana mengatasinya. 

Ide Design Thinking

Jadi begini ceritanya, bapak dan ibu….Tersebutlah sebuah ide mengenai “Design Thinking” sebuah konsep dari dunia industri dan arsitektur pada kisaran tahun 1960-1980an, lalu kerangkanya berkembang dari waktu ke waktu dan salah satu yang terkenal adalah buku Change By Design. 

Ide utamanya adalah bagaimana menampilkan sebuah produk atau design itu dari kacamata pengguna-nya. Solusi terbaik itu bukanlah dari sudut pandang kita, tapi dari sudut pandang orang yang kita bantu. Bagaimana sebuah produk atau design itu bisa dipahami kebaikannya oleh orang yang dibantu.

Contoh sederhananya kita bisa pinjam dari dunia kesehatan. Misalnya seorang dokter, dia paham betul dan paham mendalam mengenai virus, imunitas, infeksi mukosa nasofaring bla bla bla (saya googling random mengenai ini btw hehe 😁) dan lain-lain, tapi untuk tampil ke luar dia harus tampil dalam bahasa “gejala” yang dipahami orang lain. “Oh ini demam pilek, meriang, kena virus, banyak istirahat, minum ini”.

Diskoneksi dengan lingkungan sekitar terjadi karena kita tidak berbicara dalam bahasa gejala yang dimengerti orang lain.

Itulah ide design thinking itu. Sebuah produk atau sebuah design dikonsep berpusat pada manusia sebagai subjek yang menggunakan design itu. Dalam dunia design ini disebut empati. Human centric.

Jadi sebelum jauh-jauh membuat design, membuat produk, merumuskan solusi, yang perlu dilakukan adalah mendudukkan diri pada posisi orang lain, melihat secara objektif kalau dari kacamata orang lain itu apa sih masalahnya? Apa yang mereka butuhkan? Apa keresahan mereka. Agar solusi dari kita menjadi tepat sasaran. Tidak hanya dibahasakan dalam bahasa yang dimengerti mereka, tetapi juga didesain benar-benar menjawab apa yang mereka perlu, bukan semata apa yang kita bisa.

Design Thinking dan Belajar Empati

Saya baru kepikiran, jangan-jangan sebagai pribadi kita sering kehilangan empati. Saat kita menghargai proses berpikir mendalam, solusi-solusi yang mengakar, sampai pada jantung permasalahan organisasi, tetapi kita tidak mengkomunikasikannya ke dalam bahasa yang dipahami orang lain di sekitar kita. Maka solusi itu akan dianggap menara gading atau ngawang-ngawang.

Dan tidak hanya itu, kita komunikasi kepada atasan pun sering kali juga harus pakai konsep ini. Saya ingat suatu kali seorang rekan pernah ditanyai atasan mengenai problem suatu project, rekan saya membahas dengan teknis A B C yang mendalam, padahal bos saya waktu itu bukan menanyakan hal teknis, dia menanyakan tentang bagaimana kita bisa Upsell dengan problem yang terjadi. Apa solusi teknis yang menjawab sekaligus relevan untuk upsell pada project ini. 

Teman saya berbicara teknis, mengakar dan mendalam. Memang benar, tetapi tidak nyambung dengan sudut pandang bos saya (yang dalam hal ini bisa dianalogikan sebagai target pendengar pesannya).

Dan ide design thinking ini sekarang banyak dipakai di berbagai industri. Bagaimana kita harus sering-sering membangun empati kepada client agar memang kita bisa merancang solusi yang tepat guna dan sesuai dengan bahasa mereka, yang betul mereka butuhkan. Karena kadang-kadang yang dibutuhkan juga barangkali tidak terlalu ribet.

Dan untuk kehidupan pribadi juga ini penting sekali. Misalnya, kita tahu betapa pentingnya menyadari value dalam hidup, pentingnya punya visi pribadi, pentingnya mengenal panggilan dalam hidup, tapi untuk tampil keluar harus dalam bahasanya yang dimengerti orang lain, misalnya “eh… pernah ngerasain tiap hari kerja keras tapi bingung mahu kemana ga sih?”

Daaaaan banyak lagi contoh lainnya.

Mengingat hal ini, saya semakin menyadari perlunya tampil sederhana. Boleh radikal dan mengakar di dalam, tapi harus menjadi empatik dan sederhana ke luar.


Tertarik dengan artikel seperti ini? Silakan berlangganan di bawah ini, gratis banget banget.

Tinggalkan komentar