Pernah merasa belum cukup dan merasa ga punya pencapaian? Merasa harus berlari lebih kencang dan terus menerus merasa bahwa anda ga cukup baik, padahal kenyataan tidak seperti itu? Hal itu adalah gejala Impostor Syndrome! Perasaan yang bahkan dialami orang sekelas Einstein, kata sebuah artikel di Forbes.

Perasaan bahwa kita ga cukup baik, dalam taraf tertentu masih bisa diterima, sebagai trigger pendorong untuk diri kita bergerak menuju pertumbuhan yang lebih jauh.

Akan tetapi terus menerus merasa diri sebagai orang gagal dan tidak layak adalah sebuah kekeliruan yang harus diatasi.

Menariknya perasaan seperti ini sering dialami oleh orang-orang High Achiever. Ya contohnya tadi, Einstein pun mengatakan dirinya merasa seperti penipu yang tidak sengaja, karena merasa dirinya ga layak kalau dibandingkan dengan apresiasi orang lain terhadap dirinya.

KENAPA BISA ADA PERASAAN TIDAK LAYAK?

Kenapa bisa ada perasaan seperti ini? Jelas bukan karena kitanya tidak mampu, tetapi karena beberapa faktor:

Faktor Lingkungan. Saat seseorang dibesarkan di lingkungan yang terus menerus memberikan kritik. “Kenapa begitu? Harusnya kamu bisa lebih! Si A bisa begini kenapa kamu tidak bisa?” Maka lambat laun kebiasaan itu tertanam dan kita bisa menjadi orang yang selalu memberikan otokritik pada diri sendiri.

Setiap pencapaian akan sulit kita hargai dan membuat kita selalu menilai diri belum berbuat apa-apa.

Status Minoritas. Saat seseorang merasakan bahwa dirinya hanya satu-satunya yang punya kecenderungan berbeda di lingkungannya, maka dia cenderung akan merasa sebagai orang yang salah.

Misalnya satu-satunya perempuan yang kerja sebagai software engineer di kantor. Atau satu-satunya yang usia 40an di tengah anak-anak GEN-Z dalam sebuah pelatihan. Satu-satunya orang dari industri kreatif di tengah komunitas pakar keuangan, dan lain-lain.

Hal ini ternyata membuat kita merasa logika berpikir kita berbeda, dan bertanya apakah logika berpikir kita membawa manfaat di tengah-tengah komunitas yang berbeda itu?

Dan yang terakhir diperkuat dengan kebiasaan tidak memvalidasi diri sendiri. Misalnya setiap ada pencapaian atau keberhasilan dan seseorang mengucapkan selamat; kita malah mengacuhkannya dan mengganggap keberhasilan itu sebagai suatu keberuntungan saja, alih-alih bersyukur kita malah menegasikan keberhasilan itu.

BAGAIMANA CARA MENGATASINYA?

Salah satu cara yang bisa dipraktekkan adalah dengan menuliskan rasa syukur kita. Bahasa kerennya membuat validasi internal.

Dengan secara sadar menuliskan hal-hal yang bisa kita syukuri sekecil apapun dalam konteks yang baik, kita jadi menghargai diri sendiri dan semakin bersyukur atas pencapaian selama ini.

Kita bisa tuliskan dalam file pribadi apa yang sudah berhasil kita capai dalam urusan professional dan pekerjaan, dalam urusan pengembangan keterampilan dan pengetahuan, dalam urusan kreatif atau hobi, dan lain-lain.

Jangan men-judge diri sendiri, hal-hal kecil pun bisa kita syukuri, tidak perlu hal-hal yang punya impact sangat besar.

Tuliskan dalam kerangka / framework S T A R
Situation. Gambarkan seperti apa situasinya saat itu, sebagai konteks cerita.
Task. Tuliskan apa tugas yang kita emban, bagaimana kesulitannya?
Action. Tuliskan aksi apa yang kita ambil saat itu. Bagaimana aksi itu bisa mengatasi tantangannya.
Result. Tuliskan hasil yang dicapai seperti apa.

Sepintas terlihat sederhana, tapi hal ini sangat membantu kita untuk menginternalisasi kesyukuran. Saya sendiri sudah mencobanya, hehehe 😁.

Tanpa terasa ternyata banyak yang sudah kita lakukan, kalau kita baca ulang perjalanan kita maka rasa bersyukur atas perjalanan yang sudah lewat akan muncul, dan menjadi lebih menghargai diri sendiri juga.

Kalau dalam literatur islam, hal ini disebut tahaduts bin ni’mah. Kita dianjurkan untuk menyebut-nyebut nikmat yang telah Allah berikan, bukan sebagai bentuk kesombongan, tapi sebagai wujud syukur yang tulus.

“Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.” QS. Adh-Dhuha: 11

Hal lain yang bisa membantu kita mengatasi Impostor Syndrome adalah bergabung atau ikut dalam kegiatan komunitas yang sama dengan hal yang kita sukai atau kita geluti.

Dengan bergabung dalam komunitas yang satu frekuensi maka kita akan saling menguatkan dan saling belajar, dan kita akhirnya menyadari bahwa cara pandang kita tidak keliru, karena banyak juga yang punya cara berpikir seperti kita.

Yang suka dengan beladiri bisa ikut komunitas beladiri. Yang suka bisnis bisa ikut komunitas bisnis atau entreupeneur agar bisa bertumbuh.

Demikian, selamat mencoba!!


https://www.forbes.com/sites/jacknasher/2018/12/03/the-imposter-phenomenon-and-two-more-reasons-why-the-best-feel-like-frauds/

untuk yang tertarik dengan tulisan semacam ini bisa berlangganan di bawah ini ya. Gratisssss 😁

Tinggalkan komentar