
Siapa yang sering merasa ga paham dengan dirinya sendiri? Bingung mau kemana, ga tahu arah hidup, apa yang mau dikerjakan, dan lain-lain? Bisa coba merantau! Merantau itu membantu kita untuk lebih mengenal diri lho! Syarat dan ketentuan berlaku tentunya. Ini saya ceritakan dari pengalaman saya merantau dan juga riset yang terkait.
Kalau di Indonesia istilah merantau ini udah familiar banget tentunya, dan ternyata ada risetnya yang menyatakan bahwa merantau itu membantu seseorang untuk bisa memiliki pandangan yang lebih jelas tentang dirinya. Lebih mengenal dirinya sendiri.
Kita awali dengan istilahnya dulu ya.
DARIMANA ASAL ISTILAH MERANTAU?
Istilah merantau ini lekat dengan budaya minangkabau. Berasal dari akar kata “Rantau” yang artinya wilayah luar atau pesisir. Jadi ya kurang lebih maksudnya adalah pindah dari daerah asal ke daerah lain untuk waktu tertentu dengan tujuan tertentu.
Kurang lebih biasanya tujuannya adalah untuk mencari ilmu, untuk cari pengalaman, cari kerja.
Sampai ada film-nya tuh dengan bintang aktor silat Iko Uwais, menggambarkan suasana merantau dari desa di Sumatera ke kota di Jakarta.
Saya sendiri juga merantau, meski bukan berasal dari Sumatera Barat tetapi budaya merantau sudah seperti lekat di kehidupan orang Sumatera. Saya merantau dari Bengkulu kuliah ke Bandung lalu kerja di Jakarta sebagai base dan sempat muter-muter bepergian ke berbagai kota karena kerja lapangan, sebelum kembali ke Jakarta kerja kantor dan kemudian pindah ke Kuala Lumpur tahun lalu.
BAGAIMANA MERANTAU MEMBANTU MENGENAL DIRI?
Dalam sebuah artikel di HBR (Harvard Business Review) diceritakan ada sebuah penelitian dengan partisipan sekitar lebih kurang 1800 orang, disimpulkan bahwa orang yang tinggal di luar negaranya (Living Abroad) cenderung memliki pandangan yang lebih jelas akan identitas diri mereka.
Hal tersebut dikarenakan mereka terpaksa untuk terus menerus refleksi atau merenungkan mana yang benar-benar identitas mereka (cara pandangnya, value-nya, apa yang mereka hargai, apa yang mereka anggap prinsip, dst) dan mana yang hanya bawaan dari latar belakang budaya dan lingkungan tempat mereka sebelumnya tinggal.
Tentu dalam hal ini, living abroad atau tinggal di luar negeri bisa kita artikan sebagai salah satu bentuk merantau juga dalam skala global, dalam skala yang lebih besar.
Kalaulah selama ini sebelum merantau kita terbiasa bertindak, berpikir, melihat sesuatu sesuai dengan latar belakang budaya, dan lingkungan kita. Maka pada saat kita merantau kita dipaksa merenungkan kembali. Apakah cara kita melihat, bertindak, berpikir itu sudah benar? Atau sudah sesuai dengan diri kita?
Karena tiap hari kita bertabrakan dengan orang-orang yang memiliki cara pandang, cara bertindak, dan nilai-nilai yang berbeda dengan yang kita anut.
Hal itu membuat kita terpaksa untuk merenung ulang apa sebenarnya yang betul-betul saya hargai?Bagaimana saya harus bersikap di tempat di mana orang-orang memiliki value yang berbeda dengan yang saya anut?
Kalau kita tidak merantau, kemungkinan pertanyaan-pertanyaan reflektif semacam itu akan jarang kita tanyakan pada diri sendiri. Karena toh kita dan lingkungan kita cara pandangnya sama, jadi tidak ada pemicu untuk kita mempertanyakan hal-hal semacam itu.
ALUR TRANSFORMASI PERANTAU
Kalau kita buat semacam alur, yang pertama kali akan dirasakan para perantau itu adalah gegar budaya.
Saat mereka tiba di suatu tempat yang baru mereka merasa kaget karena nilai-nilai, cara pandang yang dianut oleh orang-orang di tempat tersebut itu berbeda dengan yang mereka miliki selama ini.
Setelah mengalami gegar budaya, maka seorang perantau mengalami persimpangan: masuk dalam perenungan yang reflektif atau tidak?
Jika dia berhasil melakukan refleksi, dia merenungkan ulang apa yang sebenarnya dia hargai, apa sebenarnya value dia, maka dia akan bisa mendapatkan kejelasan lebih detail mengenai siapa dirinya.
Sebaliknya kalau dia gagal melakukan ini, maka dia akan menjadi teralienasi, merasa terasing, dan merasakan kebingungan.
Contoh sederhana misalnya saat saya pindah kerja ke Jakarta, apalagi saat saya pindah ke negara lain, saya merasa kaget karena orang-orang di sana punya style yang berbeda saat mengutarakan pendapat.
Kalau di tempat saya sebelumnya, orang itu mengutarakan pendapat ke sesama rekan kerja lebih cenderung punya ewuh pekewuh, lebih cenderung menjaga supaya orang yang kontra dengan kita itu tidak merasakan sakit hati atau agar tidak menyinggung.
Tapi beda dengan kalau kita di luar negeri. Di sini ternyata orang-orang lebih frontal dalam mengumumkan perbedaan pendapat. Perbedaan pendapat adalah hal yang biasa dan setiap hari kita dibenturkan dengan adu debat tentang berbagai hal tanpa sugar coating.
Hal ini membuat saya berpikir bagaimana saya yang punya kebiasaan merasa enak-nggak enak ternyata harus menghadapi hari-hari yang penuh dengan perdebatan-perdebatan yang dianggap mereka sebagai hal yang biasa.
Dari situ saya terpaksa merenung ulang tentang kenapa sebenarnya saya punya rasa enak-nggak enak ini? Apakah rasa enak-nggak enak ini merupakan suatu hal yang produktif dan membantu saya untuk mencapai sebuah hal yang saya inginkan? Atau apakah rasa enak-nggak enak saya ini ternyata bawaan budaya yang kadang-kadang berlebihan dan ada sisi-sisi yang nggak perlu juga?
Di situ saya merasa, oh ternyata ada yang harus saya perbaiki, ada yang harus saya pertahankan, dan hal-hal semacam itu banyak. Tidak hanya dalam urusan cara berpendapat ya…Dalam urusan cara memandang hidup juga kadang-kadang mereka berbeda sekali.
Ada yang memang sangat workaholic dan menyandarkan segala pencapaian hidupnya pada pekerjaannya. Pekerjaan adalah identitas bagi dirinya.
Tapi ada juga saya rasa bisa saya jadikan role model di mana dia bisa menempatkan kapan harus workaholic kerja, kapan bisa menempatkan waktu untuk keluarga.
Di lain sisi pekerjaan-pekerjaan makin lama semakin banyak, sehingga membuat saya berpikir, sebenarnya apa yang paling saya hargai dalam hidup?
Kalau saya larut dalam pekerjaan yang semakin lama semakin banyak dengan pressure yang semakin tinggi, apakah hal ini akan membuat saya menjadi bahagia?
Apa sebenarnya kebahagiaan itu? Hal-hal semacam ini menjadi perenungan-perenungan yang mungkin kalau saya tidak merantau, tidak akan terjadi karena saya tidak punya momen untuk merenungkan hal-hal semacam itu.
Kalau saya nyaman pada tempat saya sebelumnya saja tanpa pernah melihat berbagai hal dari sudut pandang yang lain, dari lingkungan yang berbeda, maka saya akan tidak -atau sedikit sekali- merenungi hal-hal mendasar semacam itu.
TIPS BAGI PARA PERANTAU
Tips pertama bagi para perantau –terkait dengan upaya mengenal diri– adalah menerima. Memahami bahwa gegar budaya merupakan suatu hal yang biasa.
Gegar budaya adalah hal yang tidak bisa terelakkan. Saat kita pindah ke sebuah lingkungan baru kita pasti akan bertabrakan dengan orang-orang yang punya cara pandang berbeda, punya nilai-nilai berbeda dengan yang kita anggap, dan ini hal yang biasa.
Dengan kita memahami bahwa hal semacam ini adalah salah satu fase yang harus kita lewati, maka kita merasa lebih tenang sedikit, karena kita tahu bahwa kita hanya berjalan dalam areal yang sudah seharusnya.
Saat kita mengalami gegar budaya, biasakan observasi, jangan langsung menilai, jangan langsung ujug-ujug menyalahkan, oh ini cara pandang orang ini salah, ini nilai-nilai begini itu keliru, gitu.
Kita observasi dulu karena boleh jadi hal itu berbeda atau terlihat salah hanya karena kita selama ini melihat dengan cara yang berbeda. Kita observasi dulu untuk memperkaya wawasan kita.
Sebagai contoh saya ini termasuk orang yang suka pada kestabilan. Saya sebenarnya ga suka pindah-pindah kerja, jadi kestabilan adalah salah satu “value” saya.
Tapi saya baru menyadari bahwa dunia ini berubah cepat di masa sekarang dan kestabilan akan sulit didapatkan kalau mencarinya dalam bentuk kerja yang sama di tempat yang sama selama-lamanya. Karena dunia berubah terus dan berubah sangat cepat belakangan ini. Akhirnya saya menyadari bahwa value sayalah yang harus disesuaikan.
Tips berikutnya adalah cari sesuatu yang bisa membuat kita nyaman.
Cari hal-hal yang mirip dengan kebiasaan di rumah atau di tempat tinggal kita sebelumnya yang membuat kita nyaman.
Misalnya, tempat nongkrong yang punya suasana tenang, yang membantu kita reflektif, atau makan makanan yang ternyata mengingatkan kita dengan masakan rumah, dan sebagainya. Tetapi hal ini tidak dimaksudkan untuk membuat kita hidup dalam gelembung saja. Melainkan, hal ini membantu kita untuk melakukan refleksi yang lebih dalam.
Setiap kali saya merasa kehilangan arah, saya biasanya ngopi di tempat dekat apartemen. Di sana suasananya nyaman dan membantu saya refleksi ke dalam. Setelah menulis biasanya saya menjadi lebih plong. Karena mendapatkan clarity. Kejelasan akan apa yang saya pikirkan. Di situ saya akhirnya juga tahu bahwa “kejelasan” adalah suatu value buat saya.
Tips berikutnya adalah melakukan hal-hal gerak yang rutin, karena di tengah-tengah ketidakpastian, biasanya kalau kita punya sesuatu yang rutin, itu membantu kita memberikan rasa stabilitas dan rasa punya kontrol terhadap sesuatu.
Saya ingat waktu saya baru-baru pindah ke Kuala Lumpur, saya menghabiskan setiap sore dengan mempelajari hal baru, yaitu Silat Brunei.
Jadi hal itu membantu saya untuk fokus, melepaskan diri dari lelah bekerja, dan membuat saya memiliki sense of stability, karena setiap hari saya punya rutinitas yang saya kerjakan.
Tips berikutnya adalah selalu menyempatkan refleksi. Refleksi perenungan akan hal-hal yang kita temukan di keseharian. Misalnya, kalau kita ruwet pikiran ya kita tulis. Kita biasakan kita membuat journaling. Jadi kita tahu betul apa yang kita pikirkan dan kita bisa membuatnya menjadi lebih terstruktur dan runut.
Karena kalau tidak refleksi, maka kita akan melewatkan kesempatan untuk bisa melihat lebih jelas tentang diri kita sendiri.
Lakukan hal-hal yang membantu kita untuk punya perbandingan value, baca buku untuk memperkaya pengetahuan kita tentang hal-hal yang kita bingungkan itu. Kita diskusi dengan teman, bertanya dengan orang lain saat melihat ada nilai-nilai yang berbeda yang diterapkan orang lain, kita bertanya kenapa seperti itu? Bagaimana cara pandang mereka tentang sesuatu itu?
Atau kita cari mentor. Orang-orang yang bisa mengajarkan kita untuk melihat dari berbagai sisi dan membantu kita untuk melihat sisi lain tentang diri kita yang kita ga bisa lihat tanpa bantuan orang lain.
Itu beberapa tips-nya. Semoga bermanfaat. Kalau suka dengan tulisan semacam ini bisa daftar berlangganan di sidebar sebelah kanan ada tempat daftar. Free kok 😁👍
