Bagaimana merantau bisa membantu kita untuk mengenal diri?

Istilah merantau ini sudah umum sekali di Indonesia, apalagi di area sumatera memang merantau ini seolah sebuah tradisi yang diharuskan, bahkan sampai ada filem-nya tuh dari Iko Uwais, dengan judul “Merantau”.

Jadi ada sebuah penelitian yang disebutkan dalam artikel di HBR (Harvard Business Review) bahwa orang-orang yang tinggal di luar negeri / living abroad (atau maksudnya merantau itu tadi), menjadi memiliki pandangan yang lebih jelas mengenai diri mereka sendiri.

Kenapa bisa begitu?

Karena mereka selalu dibenturkan dengan realita yang jauh berbeda dengan tempat asal mereka. Di tempat mereka merantau mereka menemukan orang-orang berbeda cara pandang dan budaya, yang kemudian membuat mereka menjadi “terpaksa” merenung yang reflektif tentang siapa saya? Dan bagaimana cara saya memandang kehidupan ini?

Dimana perenungan-perenungan reflektif itu umumnya tidak terjadi saat seseorang berada di tempat dimana dia berasal, karena lingkungannya punya cara pandang yang sama dengan dirinya. Jadi semuanya serba otomatis dan hampir tidak perlu renungan reflektif.

Hal ini, saya pribadi merasakan sekali. Dari awalnya seorang yang tinggal di Sumatera lalu merantau kuliah ke pulau Jawa, di sana mulai merasakan benturan-benturan budaya dan cara pandang. Yang kemudian memperkaya khasanah cara saya memandang kehidupan.

Selepas kuliah lalu pindah ke Jakarta, dan kerja ke berbagai tempat.

Sekitar 6 tahun saya kerja di lapangan pengeboran migas di berbagai tempat di Indonesia, lalu pindah ke kantor di Jakarta dan sekarang setelah 17 tahun bekerja saya tertakdir untuk pindah ke Kuala Lumpur Malaysia bersama anak istri.

Pengalaman bertemu dengan berbagai orang dari berbagai suku dan juga kebangsaan itu membuat saya menjadi merenung ulang tentang diri saya dan kehidupan yang saya jalani.

Dan perenungan itu kemudian saya lihat mulai dialami juga oleh anak saya yang baru masuk sekolah. Dari mulai benturan budaya karena berteman dengan berbagai kebangsaan. Lalu benturan cara pandang, karena melihat kok ada orang-orang yang begitu keras, kok ada yang kalau ngomong sangat tegas dan tidak banyak dipoles-poles seperti ala Indonesia, dan sebagainya.

TAHAP PENYESUAIAN DALAM MERANTAU

Jika menilik artikel di HBR dan beberapa artikel senada, disebutkan setidaknya ada tiga tahapan yang harus dilalui seseorang saat dia merantau.

Tahap pertama adalah fase gegar budaya. Fase dimana kita kaget karena melihat orang-orang di sekitar kita melihat dunia dan bersikap dengan cara yang sama sekali berbeda dengan kita. Benturan-benturan budaya membuat kita kaget.

Tahap kedua, yang harus dilalui adalah fase reflektif. Di fase ini, gegar budaya tersebut harus membuat orang itu untuk merenung lebih mendalam. Siapa saya? Seperti apa value yang saya pegang? Seperti apa saya harus bersikap?

Dan di dalam fase ini penting kiranya melakukan hal-hal yang membantu perenungan itu. Misalnya jurnaling supaya renungannya lebih terstruktur. Membaca buku supaya mendapatkan input keilmuan. Diskusi dengan teman supaya mendapatkan pandangan yang lebih luas, dan sebagainya.

Tahap terakhir, setelah fase reflektif dilalui, adalah fase dimana seseorang akan memiliki clearer sense of self. Lebih jernih memandang dirinya sendiri. Jadi tahu oh saya ini ternyata kurang disini…. Lebihnya disini…. Saya perlu belajar hal ini dan ini…. Dan seterusnya.

Tahapan-tahapan ini sangat penting untuk dipahami, karena saat seseorang tidak berhasil melalui fase reflektif, maka dia alih-alih mendapatkan kejernihan pandangan akan dirinya sendiri, malah ia akan masuk ke dalam fase “teralienasi”. Menjadi terasing dengan lingkungan sekitarnya, karena tidak bisa memposisikan diri. (Antara bingung dengan diri sendiri dan tidak tahu bagaimana harus bersikap).

Apakah anda pernah mengalami perjalanan merantau yang hampir mirip dan membuat anda merenung mendalam tentang diri anda?

Tinggalkan komentar