Tahukah anda bahwa empati bisa punya pengaruh besar terhadap bisnis, baik skala kecil maupun skala besar? 

Empati itu apa dan seperti apa contohnya? Kita coba kutip dari cerita CEO Microsoft yaitu Satya Nadella.

Sejak 2014, Satya Nadella menjadi CEO microsoft. Setelah sebelumnya dia memiliki pengalaman di beberapa perusahaan teknologi, lalu bergabung dengan Microsoft dan tak lama karirnya beranjak naik sampai menjadi CEO.

Dalam buku biografinya, dia menceritakan tentang pengalamannya saat di interview kerja. Interviewer bertanya, “Jika kamu menemukan bayi di jalan, tergeletak begitu saja, dia menangis, apa yang kamu lakukan?”

Pertanyaan itu, hanya sebagian kecil saja dari sekian banyak pertanyaan. Lama berpikir tentang jawabannya, lalu Satya Nadella menjawab, “Saya akan telpon 911”. Itu respon Nadella.

Satya Nadella memang diterima di perusahaan, akan tetapi jawaban Nadella tentang pertanyaan bayi itu sebenarnya tidak memuaskan Interviewer. 

Setelah wawancara berakhir, sang interviewer menemui Nadella dan mengatakan, “Anda kekurangan ‘empati’, jika anda menemukan bayi tergeletak di jalan dan menangis, anda ambil dan gendong bayi itu -sebelum memikirkan telpon 911-“.

Sekilas, mungkin respon anda akan sama seperti saya, apa kaitannya pertanyaan ini dan wawancara kerja yang notabene urusan bisnis??

Ternyata empati sangat berkaitan dengan kehidupan kita, termasuk bisnis.

Apa itu empati?

Empati itu adalah kemampuan untuk mengerti dan merasakan perasaan orang lain. Melihat situasi dari perspektif orang lain, yang termasuk merasakan apa yang dirasakan orang lain. 

Kemampuan untuk melihat dari perspektif orang lain, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain ini, merupakan salah satu elemen krusial dalam emotional intelligence. Dengan melihat dari perspektif orang lain, dalam hubungan sosial kita akan bisa merespon dengan cara yang pas.

Sebagai contoh saja, seorang pimpinan yang terlalu sering mendekati segala permasalahan dengan pendekatan analisis bisnis semata, hitung-hitungan semata, akan kehilangan human touch. Karena tidak dekat dengan bawahan secara personal. Tidak punya empati dan tidak melihat dari sisi bawahannya.

Dalam kepemimpinan di Microsoft, Satya Nadella menerapkan kepemimpinan yang Empati. Misalnya saja, di masa kepemimpinan Nadella Microsoft banyak mengeluarkan inovasi bisnis yang berangkat dari keinginan membantu orang lain. Misalnya fitur live transcript di microsoft teams yang membantu orang-orang dengan kesulitan pendengaran, fitur history supaya yang tertinggal rapat masih bisa menyimak, dan banyak lagi.

Bahkan penerapan empati itu bisa meluas sampai dalam metoda komunikasi. Banyak diantara kita -termasuk saya-, tadinya mengira bahwa kita sudah termasuk orang yang cukup empati pada orang lain, tapi ternyata dalam aplikasi keseharian kita masih belum menerapkan empati ini dengan benar. 

Misalnya… saat kita menulis artikel, kita masih cenderung menggunakan judul yang menarik ‘buat kita’. Padahal, jika kita menerapkan elemen empati maka kita akan menulis judul yang menarik dari sudut pandang target pembaca. 

Dalam menulis, dengan elemen empati maka tulisan itu akan berputar pada “manfaat apa yang akan didapat pembaca”, bukan tentang hal yang menarik buat kita, tetapi tentang apa yang kira-kira menarik dimata pembaca.

Begitupun dalam hal lainnya, misalnya dalam desain. Membuat sesuatu yang berangkat dari empati. Melihat apa permasalahan yang dihadapi dan apa yang dibutuhkan orang lain. Baru kemudian menyajikan solusinya dalam konteks mengatasi permasalahan orang lain itu.

Banyak hal menarik yang saya pelajari dari bahasan mengenai empati ini. Salah satunya adalah saat saya berkesempatan menjadi narasumber dalam Talk Show di radio suara muslim Surabaya. Saya teringat dengan bahasan empati ini.

Jika saya membahas dari sudut pandang saya sendiri saja, maka hal yang menarik buat saya adalah tentang ilmu kepribadian, tentang neuroscience dan psikologi praktis, tetapi itu tidak empati. 

Dengan empati, saya menyadari bahwa problem yang banyak pada orang-orang kantoran yang menjadi target market saya adalah problem karir dan pengenalan diri. Maka saya membahas mengenai bagaimana menitir karir dan mengaitkannya dengan pengenalan diri lewat ilmu neuroscience terapan. 

Bagaimana dengan rekan-rekan sekalian? Apakah sudah mempelajari skill empati ini dan menerapkannya?

Monggo mampir di bahasan YouTube di bawah ini, semoga yang tidak sempat mendengar on air masih bisa mendapatkan manfaat dari recordingnya. Ini saya belajar empati seperti satya Nadella, sekalian promo YouTube, hehehe.

Kalau bermanfaat silakan di share. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Tinggalkan komentar