Perlukah resolusi tahunan, menurut anda?

Saya pribadi, pernah mencoba dua-duanya, baik menulis resolusi (targetan) dan tidak menulis targetan sama sekali. Dulunya saya tidak pernah membuat target-target resolusi, tetapi belakangan saya menikmati proses membuat resolusi semacam ini, kenapa?

Karena resolusi itu ternyata satu keping yang sama dengan introspeksi.

Introspeksi atau renungan itu melihat ke belakang, resolusi atau membuat target-target itu adalah melihat ke depan.

Kita mulai dari melihat ke belakang dulu.

Sebagai karyawan kantoran, saya sangat menikmati jenak-jenak dimana saya bisa reflektif merenung, lewat menulis atau berkarya lainnya misalnya membuat podcast atau video singkat yang saya posting di social media. Sebagai rehat sejenak, dan sarana melihat ke belakang apa saja yang sudah saya lalui selama bekerja lalu mengambil sedikit hikmahnya.

Sebagai pekerja, saya merasakan hari-hari bergerak terlampau cepat. Baru senin, tiba-tiba sudah ketemu weekend, tiba-tiba senin lagi, tiba-tiba bulan berganti. Dan tentunya saya tidak sendirian, saya hanyalah remah-remah roti saja jika dibandingkan orang-orang yang lebih sibuk lagi, misalnya saja dibanding Thomas L. Friedman, kolumnis New York Times.

Dalam banyak sekali kesempatan saya sering mengutip sebuah buku dari Thomas L. Friedman itu, yang berjudul “Thank You For Being Late”.

Dalam bukunya diceritakan bahwa saking sibuknya, bahkan beliau berterimakasih kepada client atau rekanan kerja yang telat datang ke meeting yang sudah dijanjikan.

Kenapa berterimakasih?

Karena hanya dengan begitulah maka Thomas L. Friedman jadi punya kesempatan untuk reflektif dan merenung sebentar.

Pada waktu-waktu menunggu orang datang ke meeting itulah dia bisa rehat dan reflektif sejenak sebelum dihajar kembali oleh kesibukan pekerjaan. Di situlah dia “melihat ke belakang”.

Untungnya saya belum sesibuk Thomas L. Friedman, kolumnis New York Times best seller itu. Saya masih sering menyempatkan waktu untuk menulis dan reflektif lewat journaling atau blogging santai.

Kesempatan merenungi perjalanan hidup inilah (melihat ke belakang) yang kemudian saya sadari sebagai kepingan yang menjadi satu dengan resolusi untuk menjadi lebih baik (melihat ke depan).

Bagaimana kita bisa introspeksi jika tidak dilanjutkan dengan rencana perbaikan, bukan?

Dan perbaikan itu bisa dalam hal apa saja: keluarga, pekerjaan, kesehatan, spiritualitas, dan lain-lain.

Perjalanan melihat ke belakang, introspeksi, renungan baik lewat journaling, merenung sembari ngopi, lewat karya, atau lewat ngobrol dengan teman-teman, ternyata membuat kita lebih kenal dengan diri sendiri.

Self-Awareness istilahnya.

Setelah lebih kenal, maka tahap berikutnya adalah pengembangan diri, dan memanfaatkan semaksimal mungkin kemampuan diri untuk kebaikan dan kontribusi pada sekeliling. 

Pengembangan diri yang terstruktur inilah kurang lebih sama saja dengan membuat rencana resolusi (rencana untuk maju ke depan), apakah dibuat tahunan atau per enam bulan, atau bulanan, atau mingguan, hanya masalah timing saja. 

Dan tidak harus juga semua rencana terlaksana, pada akhirnya semuanya akan berjalan sesuai dengan takdir yang sudah tersusun, tapi proses untuk menjadi semakin kenal diri, dan menyusun target pengembangan diri dan kontribusi bagi sekeliling inilah yang sangat saya nikmati.

Pengenalan diri, dan tahu positioning diri kita, seperti apa kita bisa berkontribusi untuk dunia ini sering disebut “life purpose”, tahu tujuan hidup. Bisa diketahui dengan melihat perjalanan kita ke belakang.

Lalu apa target-target yang ingin kita gapai sembari menjalankan life purpose itu, disebut “visi”. Visi ke depan Itulah resolusi melihat ke depan.


note: saya menulis sebuah buku yang membahas mengenai life purpose ini, rekan-rekan bisa lihat detailnya pada link berikut ini. Ada diskon awal tahun 60% untuk bulan Januari https://utas.to/bfxlop

Tinggalkan komentar