
Apakah anda termasuk orang yang sangat mandiri? Yang tidak pernah bergantung pada orang lain? Hati-hati, karena kemandirian yang disalahartikan bisa jadi pedang bermata dua.
Kemandirian itu baik, tetapi dalam sebuah team kita malah membutuhkan saling ketergantungan yang sehat.
Sebelum kita bahas mengenai ketergantungan dalam sebuah team, saya ingin ceritakan analoginya dalam sebuah keluarga.
Beberapa hari belakangan ini saya mendapati postingan instagram dari luar negri yang menceritakan sudut pandang seorang ibu yang ingin mengajarkan anaknya antitesis pandangan orang-orang kebanyakan mengenai kemandirian perempuan dan tidak bergantungnya perempuan pada laki-laki.
Sang ibu di instagram ini mengajarkan sebaliknya, yaitu bagaimana menemukan kriteria laki-laki yang tepat untuk “disandari”. Tempat yang tepat untuk seorang istri bergantung. Dalam hal ini ibu di instagram ini memberi anaknya role model yaitu ayahnya.
Sebuah keluarga, sebagai miniatur sebuah team, tidak bisa berdiri dengan sehat tanpa adanya saling ketergantungan antar anggotanya. Suami bergantung pada istri dan istri bergantung pada suami. Karena masing-masingnya ada kelebihan dan kekurangan.
Ilustrasi ini memberi gambaran untuk kita menariknya dalam contoh yang lebih besar. Misalnya team dalam organisasi atau di kantor.
Jika kita kutip penjelasan oleh Patrick Lencioni (penulis buku Overcoming 5 Dysfunction of a Team), yang membedakan apakah sekelompok orang itu benar-benar menjadi sebuah “team” atau hanya “group of people” adalah adanya “trust”. Kepercayaan sesama anggota team.
Tanpa “trust” ini, kita barangkali bukan team. Hanya group of people saja. (Dan jangan salah, sebuah grup bisa saja mencapai sebuah goal dengan baik, tapi mereka belum menjadi team sampai adanya trust diantara mereka).
Trust ini adalah “rasa percaya”, dalam artian setiap anggota dalam sebuah team merasa “nyaman” atau “ndak apa-apa” jika kelemahannya diketahui oleh anggota team lainnya (its ok to be vulnerable).

Tingkat kepercayaan yang jujur ini, dimana antar anggota team tidak malu untuk mengakui kelemahan mereka (vulnerable) menimbulkan ketergantungan yang sehat. Dimana setiap anggota team tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing hingga bisa bekerja sama untuk mencapai sebuah goal yang tidak akan bisa dicapai lewat skill per individu tapi bisa digapai lewat sebuah team.
Jadi salah satu syarat yang membedakan apakah kita ini benar-benar team atau hanya sekelompok orang yang kebetulan bekerja bareng (baik dalam keluarga atau misalnya team dalam organisasi dan korporasi) adalah ketergantungan yang sehat itu. TRUST.
Rasa percaya (trust) yang timbul dari keberanian dan kejujuran untuk being vulnerable.
Baru kemudian masuk syarat lainnya misalnya punya kesamaan goal etc…etc…
Jadi, tidak selamanya menjadi sangat mandiri itu baik. Ketergantungan yang sehat, dan membuka diri untuk “vulnerable” malah pondasi utama dalam konteks sebuah team.
Apakah kita sudah berada dalam sebuah team? Atau baru “group of people”? Sudah bekerja sama atau baru sama-sama kerja?
***
Note: 5 Dysfunction of a team image ilustrations taken from here
