
Apakah anda penggemar kopi? Apakah benar yang anda gemari adalah kopi, atau aktivitas mengopi-nya? Atau mungkin keduanya?
Jika anda seperti saya, mungkin yang kita gemari adalah gabungan semuanya, dan saya ingin cerita mengenai kaitan antara self awareness dan secangkir kopi.
Saya tidak terlalu ingat tahun berapa persisnya saya mulai menggemari kopi, yang jelas kegemaran dengan kopi yang beneran kopi bijian dan digiling itu dimulai saat saya sudah bekerja.
Kalau tidak salah ingat, saat-saat coffee time di anjungan pengeboran-lah yang membuat saya mulai icip-icip rasa kopi yang beneran.
Dari yang dulunya tidak terlalu gemar dengan kopi, tetapi setelah bekerja dan mengetahui efek booster kafein agar mata tidak lima watt melawan layar komputer, saya jadi gemar juga ngopi. Dan mulai tahu sedikit beda “rasa”-nya antara kopi bijian dengan kopi sachet, ternyata memang berbeda.
Belakangan saya mulai menyadari bahwa bukan semata kopi-nya yang saya gemari, melainkan fakta bahwa aktivitas ngopi bisa jadi semacam jeda sejenak yang memberikan saya “pause” dari hiruk pikuk kerja yang berisik.

Saat ngopi, biasanya sekalian numpang duduk santai di tempat ngopi dan menghabiskan waktu dengan membaca atau sekedar jurnaling. Kopi menjadi semacam pintu masuk ke dalam ruang untuk lebih “self aware”.
Kalau dulu, semasa masih SMA, saya sering mencari jeda dari kesibukan sekolah dengan duduk santai dan membaca di bawah rerimbun bambu belakang rumah. Sekarang, agaknya tempat seperti itu jarang dijumpai di perkotaan, dan juga waktu untuk ke tempat-tempat seperti itu agak susah karena banyak kesibukan kerja dan juga kesibukan keluarga, jadi tempat ngopi bisa jadi tempat renungan sejenak.
Seperti sore ini, sambil mengantar anak untuk aktivitas olahraga, saya bisa melipir ke tempat ngopi dan ngetik santai. Semacam meditasi di keramaian, hehehe.
Apakah anda juga sering reflektif di tempat ngopi?
